Opini
Ketika Sunyi Menjadi Perlawanan: Quaker, Amerika, dan Jejak Humanisme dalam Sejarah
Kaum Quaker, sebuah komunitas religius abad ke-17, berpegang pada keyakinan bahwa setiap manusia mengandung “Cahaya Ilahi”
Oleh Anwar Fachry
Dosen Fakultas Peternakan, Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan dan Pembangunan, Universitas Mataram.
Dalam percakapan sejarah Amerika Serikat yang sering ditabuh dengan drum kemenangan dan ekspansi, ada bagian-bagian senyap yang jarang diangkat, bagian yang justru menyimpan jejak paling dalam tentang kemanusiaan. Buku Kaum Quaker Amerika dlm Penegakan Prinsip Kemanusiaan (HAM), karya Prof. Dr. Nuriadi hadir utk menyibak salah satu babak sunyi itu: kontribusi kaum Quaker sebagai pelopor nilai HAM jauh sebelum rangkaian deklarasi dan instrumen hukum modern muncul ke permukaan.
Kaum Quaker, sebuah komunitas religius abad ke-17, berpegang pada keyakinan bahwa setiap manusia mengandung “Cahaya Ilahi” yang membuat mereka sama dalam martabat dan nilai. Dari titik kesadaran spiritual inilah muncul praktik sosial yang radikal pada zamannya: menolak perbudakan, menentang diskriminasi ras dan gender, memperjuangkan kebebasan berkeyakinan, dan membela kelompok yang rentan: dari masyarakat pribumi hingga orang kulit hitam yang diperbudak.
Dalam buku ini, Prof Nuriadi dengan cermat menggabungkan lensa sejarah, teologi, humaniora, dan sosiologi. Beliau memperlihatkan bahwa gagasan universal tentang HAM bukanlah anak kandung abad ke-20, melainkan hasil perjalanan panjang kesadaran moral yang tumbuh dalam komunitas dan kehidupan sehari-hari. Ketimbang orasi bising atau revolusi bersenjata, Quaker menunjukkan bahwa kesunyian yang teguh bisa menjadi bentuk paling autentik dari perlawanan.
Sampul buku yang menampilkan simbol peradilan Barat, tokoh sejarah, dan bayang-siluet bendera Amerika bukan sekadar hiasan visual. Ia merupakan metafor yang menegaskan bagaimana perjuangan Quaker turut mengubah wajah hukum dan demokrasi Amerika dari ranah spiritual menuju institusi formal. Hukum yang semula memaklumi perbudakan dan kolonialisme perlahan bergeser oleh tuntutan moral yang lahir dari keyakinan religius akan kesetaraan.
Baca juga: Kasus Keracunan MBG dan Isu HAM: Menghentikannya Justru Bisa Melanggar Hak Dasar Anak Miskin
Melalui argumen dan data historis yang ditata rapi, Prof. Nuriadi menyampaikan sejumlah butir pelajaran kunci: bahwa kemanusiaan tumbuh dari keyakinan spiritual yang menghormati martabat jiwa manusia; perlawanan paling berpengaruh sering dimulai dari keberanian sunyi menolak ketidakadilan; interdisipliner adalah kunci memahami nilai HAM secara utuh; pluralitas menuntut kesetaraan, bukan sekadar koeksistensi. dan bahwa narasi sejarah yang besar selalu diperiksa ulang oleh kisah-kisah kecil yang diremehkan.
Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa sejarah kemajuan peradaban tidak bisa hanya diukur dari teknologi, kekuasaan, atau ekonomi. Ukuran sejatinya adalah seberapa dlm kita menjaga harkat sesama manusia. Dalam arus dunia hari ini, ketika isu HAM sering menjadi alat politisasi internasional,.Quaker mengajarkan kembali sebuah hikmah: bahwa HAM bermula dari hati, dari keberanian melihat manusia lain sebagai refleksi cahaya Tuhan.
Buku ini bukan hanya kontribusi akademik, tetapi juga ajakan reflektif bagi para pemikir, peneliti, dan aktivis HAM di Indonesia. Di sela-turbulensi sosial kita sendiri, suara Quaker menjadi undangan untuk merenung:
seberapa teguh kita membela manusia, bahkan dalam sunyi.
Tujuh Cahaya Dalam Kesunyian: Menolak Menjadi Dholuman Jahula
Ada yang sunyi namun menyala. Ada yang tak banyak bicara, tapi terang benderang menuntun sejarah. Kaum Quaker dalam buku Prof. Nuriadi mengajarkan bahwa kasih sayang bisa lebih lantang daripada meriam, dan hati yang bening kadang lebih berpengaruh daripada seluruh parlemen.
Ketika saya membaca pelajaran demi pelajaran yang tersimpan di dalam karya ini, seolah Tuhan sedang mengingatkan pada As-Sab'ul Matsani: tujuh yang berulang, tujuh yang menuntun, tujuh yang tak pernah habis direnungkan. Agar kita tidak tergelincir menjadi makhluk yang digambarkan Tuhan sebagai dholuman jahula: mereka yang terlalu zalim dan terlalu bodoh untuk menyadari kemuliaan diri dan sesamanya.
Maka mari kita hirup tujuh cahaya itu: perlahan, dalam-dalam, dan biarkan ia menetes menjadi bekal hati.
1. Cahaya Kemanusiaan dari Ruh Ilahi
Quaker percaya bahwa setiap manusia memiliki Cahaya Tuhan di dalam dirinya. Rumi pernah membisik:
“Jangan lihat bentukku, tapi cahayaku.”
Manusia bukan statistik. Bukan komoditas. Ia ayat berjalan yang wajib dihormati.
Kadang kita lupa, kita sibuk menilai merek baju dan gelar akademik, lupa bahwa yang paling mulia justru yang tak tercatat di buku tamu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/anwar_fachry_2020204jpg.jpg)