Opini
Ketika Sunyi Menjadi Perlawanan: Quaker, Amerika, dan Jejak Humanisme dalam Sejarah
Kaum Quaker, sebuah komunitas religius abad ke-17, berpegang pada keyakinan bahwa setiap manusia mengandung “Cahaya Ilahi”
2. Kesunyian adalah Bentuk Perlawanan
Tak semua pahlawan memakai pedang. Ada yang diam tapi teguh,
Tegar menolak tunduk pada kesewenang-wenangan.
Cak Nun pernah bilang:
“Yang ribut itu biasanya kurang isi.”
Quaker mengajarkan: keberanian sejati tak perlu speaker besar.
3. HAM Bukan Tren Global Melainkan Nur Purba
Bukan PBB yang pertama kali mendeklarasikan kemanusiaan.
Ia sudah ditulis di dada kita sebelum kita mengenal alfabet.
Hukum Tuhan yang terpatri dalam fitrah lebih dulu bersuara.
Baru kemudian sejarah merapikannya menjadi pasal.
4. Keragaman Adalah Sifat Asli Semesta
Yang satu warna itu hanya kain kafan.
Sebelum menuju keseragaman terakhir itu, iman gemar bermain warna: kulit, budaya, agama, bahasa.
Quaker tahu persis:
Memaksa seragam itu melawan adat Sang Pencipta. Karena Tuhan sendiri Maha Berbeda dalam KeEsaan-Nya.
5. Kemanusiaan Tak Bisa Dipahami oleh Satu Ilmu Saja
Seperti halnya kopi tak hanya pahit: ia harum, ia hangat, ia menggugah.
Manusia juga tak cukup dijelaskan oleh hukum saja. Butuh sejarah yang menceritakan luka, butuh budaya yang menjelaskan cara mencinta, butuh teologi yang mempertemukan kita dengan asal-usul.
Quaker menyingkap wajah manusia dari semua pintu ilmu.
6. Perubahan Besar Terkadang Berjalan Kecil
Revolusi paling agung sering tanpa drum dan bendera. Ia berawal dari pilihan sunyi: mengatakan “tidak” pada kezhaliman meski dunia berteriak “ya”.
Jika kau ingin mengubah dunia,
Cobalah dulu mengubah caramu memandang tetangga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/anwar_fachry_2020204jpg.jpg)