Opini
Pengangguran Menurun, Apakah NTB Benar-Benar Sedang Bergerak Maju?
jumlah lulusan terus meningkat, dan ekonomi daerah tumbuh tinggi. Namun, semua itu belum sepenuhnya diikuti transformasi pasar kerja.
Oleh : Suherman
Penulis adalah peneliti Lombok Research Center (LRC)
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Setiap tahun, ribuan mahasiswa diwisuda di Nusa Tenggara Barat. Aula kampus dipenuhi keluarga yang datang membawa harapan besar: pendidikan tinggi akan mengubah hidup anak-anak mereka. Namun di luar pagar kampus, pasar kerja tidak selalu bergerak secepat pertumbuhan lulusan baru. Lapangan kerja formal tetap terbatas, sektor informal masih mendominasi, sementara sebagian besar ekonomi daerah bertumpu pada sektor dengan produktivitas rendah. Di tengah situasi itu, angka pengangguran justru terus menurun. Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi mengganggu: apakah penurunan pengangguran benar-benar menunjukkan ekonomi NTB semakin sehat, atau justru menutupi persoalan yang lebih dalam tentang kualitas pekerjaan dan masa depan generasi mudanya?
Data rekap wisudawan perguruan tinggi NTB tahun 2025 mencatat sedikitnya 23.064 lulusan baru dalam satu tahun akademik. Universitas Mataram meluluskan 6.338 wisudawan, UIN Mataram 2.619 lulusan, Universitas Muhammadiyah Mataram 1.571 lulusan, dan Universitas Hamzanwadi sekitar 1.287 lulusan. Jumlah itu bahkan diperkirakan lebih besar karena sebagian kampus belum membuka data wisuda secara penuh.
Di sisi lain, kemampuan ekonomi daerah menyerap tenaga kerja terdidik belum tumbuh pada kecepatan yang sama. NTB tidak kekurangan orang yang bekerja. Yang masih kurang ialah pekerjaan yang produktif, stabil, dan memberi masa depan layak bagi generasi mudanya.
Angka Pengangguran Turun, tetapi Persoalan Belum Selesai
Pemerintah memiliki alasan untuk optimistis. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB pada Februari 2026 turun menjadi 2,99 persen dari 3,22 persen pada Februari 2025. Jumlah pengangguran juga berkurang hampir enam ribu orang dalam setahun terakhir.
Sekilas, data ini menunjukkan perbaikan. Namun, angka pengangguran tidak selalu menggambarkan kualitas ekonomi masyarakat secara utuh. Banyak orang memang bekerja, tetapi pekerjaan mereka belum tentu stabil, produktif, atau sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimiliki.
Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat jumlah penduduk bekerja mencapai 3,14 juta orang pada Februari 2026. Akan tetapi, sebagian besar masih terserap di sektor tradisional. Pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan proporsi 32,86 persen.
Artinya, ekonomi NTB memang mampu menyerap tenaga kerja, tetapi belum sepenuhnya bergerak menuju sektor modern dengan produktivitas tinggi.
Sektor Informal Masih Mendominasi
Persoalan lain muncul dari dominasi sektor informal. Pada Februari 2026, pekerja formal hanya sekitar 29,51 persen. Selebihnya bekerja di sektor informal.
Kondisi ini menjelaskan mengapa penurunan pengangguran tidak otomatis dirasakan sebagai peningkatan kesejahteraan. Banyak lulusan baru bekerja serabutan, berpindah pekerjaan, atau masuk ke bidang yang tidak sesuai dengan latar pendidikan mereka. Sebagian lainnya memilih merantau atau menjadi pekerja migran.
Baca juga: Angka Pengangguran NTB Menurun, Mayoritas Penduduk Bekerja di Sektor Informal
Fenomena ini bukan hanya terjadi di NTB. OECD menyebutnya sebagai school-to-work transition complexity, yakni situasi ketika transisi lulusan menuju dunia kerja menjadi semakin panjang dan tidak lagi linear. Gelar akademik tidak otomatis menjadi tiket menuju kelas menengah formal.
Pertumbuhan Tinggi, Lapangan Kerja Berkualitas Terbatas
Ironisnya, NTB justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Pada Triwulan I-2026, ekonomi daerah tumbuh 13,64 persen secara tahunan. Pertumbuhan terbesar berasal dari industri pengolahan dan pertambangan.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti pertumbuhan lapangan kerja dalam jumlah besar. Banyak sektor modern tumbuh dengan karakter padat modal. Investasi meningkat dan produksi naik, tetapi kebutuhan tenaga kerja tidak bertambah secara sebanding.
Struktur ekonomi NTB juga masih bertumpu pada pertanian yang menyumbang 22,23 persen terhadap PDRB daerah, disusul pertambangan 19,71 persen dan perdagangan 14,10 persen.
Transformasi ekonomi memang berjalan, tetapi belum cukup cepat untuk membuka ruang kerja modern yang luas bagi lulusan pendidikan tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/GENDER-DI-NTB.jpg)