Opini
Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian
Rinjani bukan sekedar gunung yang menjulang di utara Pulau Lombok, ia adalah ruang hidup.
Oleh: H. Ahsanul Khalik
Penulis adalah Kadis Kominfotik NTB Sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Di hadapan Gunung Rinjani, manusia sesungguhnya sedang belajar tentang batas dirinya sendiri.
Kabut tipis yang turun di jalur pendakian, dingin yang menggigit menjelang subuh, langkah kaki yang perlahan melemah di tanjakan panjang, hingga sunyi Segara Anak yang memantulkan langit, semuanya seperti mengajarkan satu hal: bahwa tidak semua keindahan lahir dari kemudahan.
Karena itu, Rinjani tidak pernah benar-benar hanya tentang puncak.
Ia adalah perjalanan batin
Maka ketika Pemerintah Provinsi NTB, sebagaimana ditegaskan Gubernur Miq Iqbal dalam peresmian Pusat Informasi Geopark Rinjani Terintegrasi, menolak investasi pembangunan kereta gantung senilai Rp6,7 triliun di kawasan Rinjani, keputusan itu layak dipahami lebih dari sekadar kebijakan administratif. Ia adalah pilihan tentang cara memandang alam: apakah gunung akan dijaga sebagai ruang kehidupan dan warisan ekologis, atau perlahan diubah menjadi komoditas wisata massal yang kehilangan kesunyian dan keasliannya”
Dan dalam konteks itulah, keputusan tersebut patut diapresiasi.
Di tengah arus pembangunan yang sering mengukur kemajuan hanya dari besarnya nilai investasi, keberanian mengatakan “tidak” justru menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh semata-mata tunduk pada logika ekonomi jangka pendek. Ada nilai ekologis, budaya, spiritual, dan keberlanjutan masa depan yang jauh lebih penting untuk dijaga.
Baca juga: Proyek Kereta Gantung Rinjani: Satu Dekade Jadi Wacana, Sempat Groundbreaking, Kini Ditolak Pemprov
Bagi masyarakat Sasak, Rinjani bukan sekedar gunung yang menjulang di utara Pulau Lombok. Ia adalah ruang hidup. Mata air yang mengalir dari lereng-lerengnya menjadi sumber kehidupan masyarakat. Hutan-hutannya menjaga keseimbangan alam pulau kecil ini. Dan di dalam kesadaran budaya masyarakat Sasak, alam tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan dihormati.
Karena itu, mendaki Rinjani sejak lama bukan sekedar aktivitas wisata.
Ada adab yang diwariskan turun-temurun: menjaga ucapan, menghormati alam, tidak berlaku sembarangan, tidak merusak, dan tidak meninggalkan sampah. Gunung dipahami sebagai ruang yang memiliki nilai sakralitas, tempat manusia belajar rendah hati di hadapan kebesaran ciptaan Allah Pemilik Semesta.
Pandangan seperti ini lahir dari cara masyarakat Sasak menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Alam bukan milik manusia sepenuhnya. Manusia hanyalah bagian kecil dari keseimbangan itu sendiri.
Di sinilah persoalan pembangunan kereta gantung menjadi penting untuk dibaca secara lebih dalam.
Pendukung proyek mungkin melihatnya sebagai simbol kemajuan, percepatan akses wisata, dan peluang ekonomi besar. Namun pertanyaannya sederhana: apakah semua bentuk kemajuan harus dibayar dengan hilangnya keaslian?
Pembangunan kereta gantung di kawasan pegunungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembukaan akses, pembangunan tiang penyangga, fasilitas penunjang, jaringan utilitas, hingga mobilitas manusia dalam skala besar. Semua itu berarti intervensi besar terhadap ruang ekologis yang sensitif.
Pengalaman di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika wisata alam mulai terlalu mudah diakses secara massal, yang pertama kali hilang justru ruh dari tempat itu sendiri. Kesunyian berubah menjadi keramaian. Alam berubah menjadi konsumsi visual. Dan sakralitas perlahan tergeser oleh komersialisasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/KERETA-GANTUNG-DAN-ALAM-RINJANI.jpg)