Jumat, 22 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Mengawetkan Kata Membusukkan Makna

Ideologi kita diukur dari seberapa patuh kita mengonsumsi simbol-simbol pemberontakan yang maaf, sudah dijinakkan oleh modal.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM
L. Faqih Saiful Hadie - Penulis adalah aktifis dakwah, pemerhati seni dan budaya. 

Oleh : L. Faqih Saiful Hadie
Penulis adalah aktifis dakwah, pemerhati seni dan budaya

​TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Ada sebuah kenyataan menggelikan dalam antropologi masyarakat modern. Gini loh, ternyata kita sangat gemar sekali mengawetkan kata-kata, sembari di saat yang sama kita membusukkan maknanya. 

Sebuah slogan yang digelorakan selama berpuluh-puluh tahun, pada mulanya dulu mungkin adalah sebuah kalimat suci sejenis "wahyu" sekuler yang turun di tengah altar perjuangan sosio-politik. Tapi, seiring berjalannya waktu, ketika ia direproduksi secara massal dalam baliho, pidato birokrat, pejabat partai hingga konten medsos, esensinya jadi menguap. Slogan tersebut mengalami proses sakralisasi yang keliru, ia disembah sebagai berhala baru, dibaca bagai wirid tanpa pemahaman, sementara ruh di dalamnya diam-diam telah lama mati.

​Secara sosiologis, saya menyebut fenomena ini  sebagai komodifikasi narasi, atau dalam bahasa yang lebih bersahaja, kosmetik politik. Ketika sebuah jargon bertahan hingga berpuluh-puluh tahun, ia tidak lagi berfungsi sebagai kompas moral, melainkan sebagai opium (candu) yang meninabobokan massa. Masyarakat merasa sudah melakukan perubahan hanya dengan merapalkan slogan tersebut di setiap upacara atau pertemuan-pertemuan sambil mengepalkan tangan. Saya menyebut ini sebagai ritual tanpa spiritualitas sosial. 

​Mari kita tengok bukti empiris dari absurditas ini. Ambillah contoh slogan legendaris dari masa Perang Dingin di Uni Soviet, "Semua Demi Kesejahteraan Rakyat!" Selama puluhan tahun, kalimat ini dicetak di pabrik-pabrik, distempel di dahi para kamerad, dan dinyanyikan dalam kor-kor paduan suara yang megah. Hasil akhirnya? Rakyat Soviet tetap saja mengantre roti selama berjam-jam dalam kedinginan, sementara para nomenklatura (para elit)  para pejabat tinggi dalam birokrasi komunis menikmati kaviar di dacha mereka. Slogan itu sukses luar biasa menjadi liturgi resmi negara, namun gagal total sebagai realitas sosial. Esensinya tidak sekedar terlupakan, ia dikhianati oleh popularitasnya sendiri! 

Baca juga: Tambang dan Ilusi Ekonomi NTB

​Di belahan bumi yang lain, kita melihat bagaimana kapitalisme global melakukan baptisan serupa terhadap slogan-slogan perlawanan. Jargon "Break the Rules" atau "Think Different" yang awalnya bernada subversif kini telah mengalami sekularisasi radikal. 

Slogan-slogan tersebut sekarang hanyalah jimat pelaris bagi anak-anak muda kelas pekerja agar mau mencicil gadget mahal demi merasa "berbeda" di dalam barisan konsumen yang seragam. Ini adalah bentuk penyesatan dalam dogma pasar, ideologi kita diukur dari seberapa patuh kita mengonsumsi simbol-simbol pemberontakan yang maaf, sudah dijinakkan oleh modal.

​​Kemunduran makna ini terjadi karena adanya "inflasi bahasa", sebut saja demikian. Ketika sebuah kalimat diucapkan terlalu sering tanpa adanya aktualisasi, nilai intrinsiknya merosot tajam, mirip nilai uang kertas yang dicetak secara ugal-ugalan oleh bank sentral dari sebuah negara yang frustrasi. 

Slogan yang berumur puluhan tahun cenderung mengalami nasib tragis sebagai "benda keramat yang mati". Ia diletakkan di dalam etalase sejarah, dibersihkan debunya setahun sekali saat hari peringatan, lalu dilupakan kembali di hari-hari biasa saat praktik korupsi, komodifikasi hukum dan segala bentuk kebebalan struktural berjalan seperti biasa.

​Para sosiolog menyebut ini sebagai alienasi linguistik, sementara dari kacamata profetik, ini adalah bentuk kemunafikan yang paling paripurna. Kita menciptakan sekat pemisah yang tebal antara teks dan konteks. Lidah kita begitu fasih melafalkan keselamatan sosial, namun tindakan kita harian kita mencerminkan individualisme ekstrem yang akut. Slogan telah bertransformasi dari sebuah nubuat perubahan menjadi sekedar gimmick teatrikal demi mengemis legitimasi publik.

Atau tak perlu jauh-jauh menelusuri lorong waktu ke Soviet di masa lalu ataupun terjebak dalam pusaran kapitalisme global untuk melihat lelucon ini, coba tengok panggung cyber dan ruang publik kita sendiri di Indonesia saat-saat ini. Kita sedang kebanjiran jargon-jargon nasional baru yang dikemas begitu estetik, mulai dari romantisasi "Indonesia Emas", mantra "Hilirisasi", hingga retorika "Perubahan" yang berisik. 

Slogan-slogan ini mendadak jadi kosmetik wajib di bio Instagram para politisi dan pejabat, TikTok, facebook hingga running text televisi. Di atas kertas dan di dalam ruang rapat ber-AC, semua frasa itu terdengar seperti gerbang menuju surga. Namun di akar rumput, narasi mulia tersebut mengalami inflasi yang brutal ia tak lebih dari sekedar tameng linguistik untuk menutupi ketimpangan ekonomi, komodifikasi hukum, pembungkusan konflik agraria, dan oligarki yang sedang asyik berbagi kue-kue kekuasaan.

​Kita tampaknya kian mahir memodifikasi bungkus kemasan sembari membuang isinya ke tempat sampah. "Indonesia Emas" digelorakan dengan gegap gempita, namun entah mengapa rasanya kok justru menjurus kepada cemas ketika saya melihat bagaimana sistem pendidikan dan lapangan kerja hari ini dirancang. Kita seperti sekumpulan penonton bioskop yang dipaksa tepuk tangan menyaksikan trailer film fiksi ilmiah yang megah, sementara proyektor di belakang kita sebenarnya sedang macet-macet dan terbakar. 

So, mari kita bersulang untuk keberhasilan kita dalam mengawetkan kata-kata indah ini ke dalam dokumen resmi kenegaraan, sembari membiarkan maknanya membusuk sempurna di realitas harian. Tak perlu cemas, toh dalam waktu dekat kita akan segera menyambut fajar emas itu. 

Sebuah peradaban baru yang menyilaukan tentu, di mana kemiskinan telah berhasil dihilangkan dari teks pidato, keadilan sosial sukses dicapai dalam bentuk tagar trending topic, dan upacara pemakaman akal sehat kita akan dirayakan dengan sangat meriah, lengkap dengan pengguntingan pita oleh para pejabat dan politisi dan tentu saja, dengan iringan sorak-sorai kita sendiri selaku korban yang berbahagia.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved