Opini
Bayang-bayang "Failed State" - Barometer yang Memburuk dan Membaca Gravity of Blame
Kkrisis demokrasi adalah kegagalan sistemik—dengan derajat tanggung jawab yang bertingkat
8. Akademisi yang “Melacur”
Tak kalah busuk, sebagian intelektual kampus menjual otoritas ilmiah mereka demi kekuasaan. Gelar profesor dan doktor dipakai untuk merias wajah kebijakan yang cacat. Kajian akademik berubah jadi stempel politik.
Akademisi seharusnya menjadi penjaga api pengetahuan. Menjaga martabat ilmu demi kemanusiaan. Tetapi hari ini, Mereka lebih rajin menghadiri undangan rapat politik ketimbang kuliah di kelas. Mereka lebih sibuk menulis riset pesanan dari riset independen. Data mereka pilih sesuai kepentingan pemodal. Survey-survey direkayasa. Teori mereka pelintir untuk membenarkan kebijakan yang salah. Mereka seperti imam palsu di rumah suci ilmu: Buku mereka tak lagi jujur, melainkan brosur propaganda yang disamarkan dengan istilah akademis.
Akademisi semacam ini tidak lagi menyalakan obor pengetahuan. Mereka malah meniup asap kebodohan, sehingga rakyat percaya bahwa ketidakadilan adalah keniscayaan, dan kekuasaan adalah kebenaran. Kampus yang seharusnya menjadi benteng moral dan mercusuar peradaban. Hari ini berubah menjadi rumah bordil intelektual.
Ketika pengetahuan dipakai sebagai fig leaf untuk menutupi sekaligus membenarkan outcome politik yang problematik, maka publik akan kehilangan kompas epistemik. Dampak tak langsungnya besar sekali, yaitu: terjadinya normalisasi penyimpangan. Seolah segalanya sah dalam kerangka ilmiah.
Dan sungguh, sejatinya pengkhianatan adalah akademisi yang berselingkuh dari ilmu pengetahuan dan melacurkan dirinya pada kekuasaan.
9. Pemilih Buta Politik & Masyarakat Apatis
Tentu saja rakyat juga punya andil. Pemilih buta politik adalah mesin perpanjangan umur bagi rezim busuk. Mereka tidak memilih dengan nalar, melainkan dengan perut lapar. Sebagian memilih karena tekanan serangan fajar, bukan rekam jejak. Sebagian lain memilih karena fanatisme buta, bukan kesadaran politik. Dan sisanya memilih diam, apatis, merasa politik terlalu kotor untuk disentuh. Sikap apatis inilah yang kemudian menjadi pupuk subur bagi tumbuhnya tirani.
Suara rakyat di dalam pemilu adalah produk dari struktur informasi yang dipelintir dan insentif ekonomi yang membuat politik terasa jauh. Menyalahkan massa tanpa membenahi struktur kuasa dan arsitektur informasi hanyalah mengganti korban. Namun, tetap saja akibat dari sikap apatisme dapat mempercepat erosi, karena rakyat menyerahkan semacam cek kosong kepada elite, dan elite mengisinya sesuka hati. Demokrasi yang mestinya mengoreksi kekuasaan, justru diserahkan begitu saja tanpa syarat.
Maka pemilih yang buta politik dan masyarakat yang apatis sama-sama menyumbang pada kerusakan negara ini. Yang satu memilih dengan kebodohan, yang lain memilih untuk tidak peduli. Percayalah, Apatisme tidak pernah bisa melindungi siapa pun dari tirani.
Sebuah Kesimpulan
Ringkasnya: gravity of blame paling berat jatuh pada mereka yang memegang tuas kekuasaan—eksekutif/koalisi penguasa yang menormalisasi rule by deal, peradilan & penegak hukum yang membiarkan standar ganda, dan oligarki yang membiayai permainan. Selebihnya—buzzer, akademisi oportunis, warga apatis—adalah gejala yang tumbuh subur dalam iklim insentif yang busuk.
Negara kita saat ini berada pada zona lintasan degradasi: Jika institusi pengimbang terus dilemahkan, penyelesaian konflik menyempit ke arah koersif, dan informasi publik dikuasai industri propaganda, maka kerentanan ini bisa bertransformasi menjadi kegagalan. Dan bayang-bayang Failed State" bisa saja terasa semakin nyata.
Is it time for revolution?
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.