Minggu, 31 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Jalan Panjang Menjaga Irama Desa Berdaya NTB

Kolaborasi lintas sektor menjadi napas utama Collaborative Action Desa Berdaya NTB

Tayang:
Dok. Harianto
Etnografer di kolektif Nusa Artivisme Harianto Bahagia melakukan penelitian ketahanan pangan masyarakat desa. 

Oleh: Harianto Bahagia 
Etnografer di kolektif Nusa Artivisme

Program Desa Berdaya dirancang sebagai strategi pembangunan yang menyentuh tiga fondasi utama: manusia, pangan, dan ekonomi lokal. Namun strategi tanpa keberlanjutan ibarat menanam tanpa menyiram. Di sinilah peran pendamping menjadi penentu arah yang menjaga agar pemberdayaan tak berhenti di seremoni, laporan, atau proyek jangka pendek.

Pendamping yang berpengalaman tahu, mengentaskan kemiskinan tak cukup dengan bantuan sosial. Ia juga sangat perlu menumbuhkan literasi ekonomi dan solidaritas komunitas. Ketahanan pangan bukan hanya perkara produksi, tetapi juga pola konsumsi dan pengetahuan gizi keluarga. 

Dalam mengembangkan desa wisata, misalnya, pendamping yang peka akan menjaga agar identitas budaya dan nilai lokal tetap hidup, bukan tergerus oleh ambisi angka kunjungan.

Sayangnya, dalam banyak program, posisi pendamping sering kali dipandang teknis dan administratif, bukan strategis. Padahal di tangan merekalah konsep besar diterjemahkan menjadi tindakan nyata membangun kepercayaan, menghidupkan partisipasi, dan memastikan perubahan berjalan inklusif.

Karena itu, perekrutan pendamping semestinya tak hanya melihat nilai di transkrip ijazah, tetapi rekam jejak, pengalaman dan kepekaan sosial. Mereka yang pernah bekerja di akar rumput—entah pernah sebagai fasilitator PNPM, fasilitator Destana, pendamping Inklusi, atau staf lapangan NGO lokal—mereka inilah yang memiliki bekal penting, yakni kesabaran, empati, dan kemampuan dalam membangun jaringan sosial di tengah keterbatasan.

Profesionalisme di tingkat desa bukan diukur dari pakaian rapi atau laporan cepat, melainkan pengalaman, kemampuan membaca situasi dan menjaga integritas. Pendamping yang baik tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar. Ia bukan penguasa data, tetapi penjaga nurani.

Dengan karakter seperti itu, pendamping menjadi aktor perubahan sejati yang menyatukan tiga prioritas Desa Berdaya dalam satu nafas: ekonomi tumbuh, masyarakat mandiri pangan, dan kebudayaan hidup berdampingan dengan pembangunan ekonomi.

Baca juga: Tangani Kemiskinan Ekstrem, Gubernur NTB Luncurkan Program Desa Berdaya

Kolaborasi yang Tidak Tumpang Tindih

Kita tahu, selama ini di tingkat desa sudah banyak pendamping dengan tugas dan mandat berbeda: pendamping sosial, PKH, pendamping desa, hingga pendamping lokal desa. Tantangan utamanya ialah bagaimana Pendamping Desa Berdaya mampu berkolaborasi tanpa saling tumpang tindih.

Bila sinergi itu terbangun, maka akan lahir orkestrasi pembangunan desa yang harmonis. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi napas utama Collaborative Action Desa Berdaya NTB, yang berprinsip pada transformasi, inovasi, graduasi, dan orkestrasi sumber daya.

Pendamping yang baik tidak sekadar menjalankan perintah sesuai SK, tetapi juga memelihara semangat kolaborasi, menjembatani komunikasi antara desa dan pemerintah, antara lembaga dan warga, antara niat dan kenyataan.

Keberhasilan Desa Berdaya akan menjadi ukuran sejauh mana NTB menapaki pembangunan inklusif, bukan sekadar administratif. Di mata warga, kualitas pendamping menjadi wajah pertama program ini. 

Masyarakat bisa memaafkan keterlambatan dana yang akan dianggarkan ke desa, tetapi tidak kehilangan rasa percaya. Dan kepercayaan itu tumbuh dari pendamping yang jujur, rendah hati, serta mau mendengar.

Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan proses rekrutmen dan pembinaan pendamping dilakukan dengan serius. Pendamping juga perlu dukungan berkelanjutan—bukan hanya insentif, tetapi ruang belajar, supervisi, dan penghargaan atas kerja lapangan yang sering sunyi dari sorotan.

Sebagai orang yang pernah berjalan di lorong-lorong gang dusun dan jalan desa, saya percaya bahwa pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang cepat, melainkan yang melekat dan berdampak nyata. 

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved