Opini
Watak Jahat Mengurus Kebudayaan
Watak jahat ini menciptakan atmosfer ketidakpercayaan yang meluas. Kreativitas tidak dapat tumbuh subur dalam ekosistem ini.
Oleh: Salman Faris
Puluhan tahun sudah saya tidak banyak beraktivitas di kampung halaman, namun informasi dan komunikasi dengan sahabat terjalin secara baik. Karena itu, jika ada hal-hal penting, para sahabat akan memberikan informasi dan meminta pandangan saya. Selain dalam soal kreativitas dan berpikir, juga terutama sekali dalam hal perangai manusia dalam kebudayaan, yang memang sejak dulu (sudah lama) banyak masalah.
Kebudayaan-kesenian kita, malangnya sudah salah asuh. Telah berada di lingkaran yang keliru. Kebanyakan kegiatan kebudayan-kesenian tidak bisa dilaksanakan tanpa sponsor. Terutama sekali ialah kesenian. Hampir sepenuhnya bergantung atas belas asih sponsor. Inilah yang menyebabkan pemerintah menjadi tumpuan utama.
Karena di banyak daerah, perusahaan buta iman untuk mengalokasikan CSR ke kesenian. Situasi ini merusak banyak hal. Penghidupan, kemiskinan dalam lumpur, kualitas karya. Terutama sekali mentalitas.
Entah karena mereka orang miskin (bukan dari kelas ekonomi atas), jadi begitu ada remah-remah, mereka akan berebut untuk mendapatkan jatah. Entah karena mereka buta huruf dalam kebudayaan, jadi bicara semau-mau tentang kebudayaan. Hanya bertumpu pada pengalaman, bukan menyertakan ilmu pengetahuan.
Entah karena mereka mendadak jadi pejabat kebudayaan, jadi mengurus kebudayaan seperti membasuh telur busuk di panci kerasukan. Entah karena bermental terjajah, jadi sangat menuhankan kekuasaan dan siapa saja yang menjadi pejabat kebudayaan, secara otomatis jadi dewa-jadi pusat segala-jadi pusat kekuasaan. Buruknya, mereka yang didewakan dalam kebudayaan, mendadak kerasukan setan.
Entah karena kebudayaan dipandang bukan barang mewah, jadi penganggaran minim. Dan selalu menempatkan birokrat nihil kebudayaan untuk memimpin. Begitu banyak entah yang sudah membiak sejak lama. Dan rupanya, semakin menjadi kotor dan memalukan.
Para sahabat meminta pandangan saya. Karena itu, saya menulis, mungkin dapat diterima sebagai refleksi. Meskipun saya selalu ragu, perbaikan itu jauh panggang dari api. Karena kejahatan merupakan watak. Watak manusia.
Inti paling fundamental dari kebudayaan adalah kemanusiaan. Sejarah pemikiran filsafat dari masa Yunani klasik hingga periode eksistensialisme modern secara konsisten menempatkan kebudayaan pada posisi luhur.
Baca juga: Harmonisasi Budaya jadi Fokus Dinas Kebudayaan NTB
Kebudayaan dipandang sebagai jalan hidup untuk memanusiakan manusia. Para filsuf membayangkan kebudayaan sebagai sebuah proses panjang hominisasi dan humanisasi. Proses ini merupakan upaya berkelanjutan untuk membentuk manusia yang utuh. Keutuhan tersebut mencakup kedayagunaan-kemerdekaan akal, kebergunaan nilai, kejernihan budi, dan kualitas karya.
Kebudayaan berdiri sebagai antitesis dari kebuasan purba. Entitas ini berfungsi sebagai instrumen vital untuk menghaluskan jiwa manusia dan meninggikan derajat peradaban sebuah bangsa.
Realitas hari ini justru menampilkan ironi terbesar dalam sejarah pengelolaan kebudayaan. Pengamatan mendalam ke dalam dapur tata kelola kebudayaan tidak banyak menemukan manusia-manusia yang halus budinya.
Publik justru berhadapan dengan fenomena yang dapat disebut sebagai watak jahat dalam mengurus kebudayaan. Fakta lapangan menunjukkan adanya kontradiksi tajam.
Sektor yang seharusnya paling luhur dan bermartabat ini justru dikerumuni oleh praktik-praktik yang sangat purba. Praktik tersebut meliputi keserakahan-ketamakan tanpa batas, intrik politik yang kotor, perebutan anggaran yang kesetanan, serta kemunafikan yang terlembaga.
Tidak dapat dihindari, banalitas kejahatan dalam kebudayaan merajalela. Sudah menjadi barang yang diterima secara biasa. Karena kejahatan dalam pengelolaan kebudayaan kontemporer tidak selalu tampil dengan wajah monster yang menakutkan secara fisik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Watak-Jahat.jpg)