Opini
Watak Jahat Mengurus Kebudayaan
Watak jahat ini menciptakan atmosfer ketidakpercayaan yang meluas. Kreativitas tidak dapat tumbuh subur dalam ekosistem ini.
Pengamatan terhadap ketujuh indikator tersebut membawa pada satu kesimpulan yang suram. Kebudayaan sebagai sebuah sistem administrasi mungkin dapat dibilang mengalami kemajuan. Bahkan ada Kementerian Kebudayaan sebagai tanda yang menamakan kemajuan kebudayaaan.
Karena itu, laporan pertanggungjawaban tersusun rapi. Anggaran negara terserap seratus persen. Festival-festival digelar dengan megah di berbagai tempat. Angka-angka statistik capaian kinerja birokrasi terpenuhi dengan baik.
Akan tetapi, kebudayaan sebagai esensi, sungguh telah kehilangan makna. Kebudayaan mengalami kematian suri di tangan para pengelola sendiri. Nilai-nilai luhur kemanusiaan yang digagas oleh para filsuf telah tergantikan oleh pragmatisme yang kotor.
Kebudayaan tidak lagi melahirkan pencerahan bagi masyarakat. Sektor ini justru memproduksi watak-watak manipulatif yang merusak moralitas bangsa.
Situasi ini menjadikan kebudayaan setara dengan sarang penyamun. Terjadi hipokrisi yang sangat menjijikkan di dalamnya. Para maling anggaran kebudayaan berteriak lantang menunjuk orang lain sebagai pencuri.
Sementara itu, birokrat korup tersebut terus memoles citra diri agar tetap terlihat suci dan berjasa. Mereka berlindung di balik retorika pelestarian budaya untuk menutupi kejahatan struktural yang mereka lakukan.
Kebudayaan telah kehilangan daya kritis. Institusi kebudayaan berubah fungsi menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan yang korup. Proyek-proyek kebudayaan menjadi bancakan di mana nilai luhur kemanusiaan digadaikan demi keuntungan material sesaat. Tidak ada lagi rasa malu dalam mengeksploitasi simbol-simbol budaya untuk kepentingan perut sendiri.
Sejarah hitam pengelolaan proyek kebudayaan semacam itu memberikan pelajaran berharga. Ketika kebudayaan diurus dengan watak jahat, hasil akhir bukanlah peradaban yang agung.
Hasilnya adalah kerusakan moral yang terlembaga secara sistematis. Kebudayaan yang seharusnya menjadi obat bagi jiwa bangsa justru berubah menjadi racun perusak mental-penghancur akal.
Karena itu, saya tegaskan. Selama watak jahat masih menjadi panglima dalam mengurus kebudayaan, maka selama itu pula masyarakat hanya sedang membangun monumen kemunafikan. Keserakahan, narsisme birokratik, dan intrik politik-anggaaran telah meruntuhkan fondasi kemanusiaan.
Kita tidak sedang membangun manusia Indonesia yang utuh. Kita sedang merayakan kematian kebudayaan di atas panggung-panggung proyek yang didirikan dengan uang rakyat yang disunat. Kejahatan dalam kebudayaan adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Watak-Jahat.jpg)