Opini
Tak Sabar Menanti Status Tambora sebagai Geopark Dunia
Tanpa perlindungan yang kuat melalui status geopark dunia, Tambora terancam kembali menjadi raksasa yang terlupakan.
Oleh: Jannus TH Siahaan
Meskipun Gunung Tambora hari ini adalah raksasa yang tampak tenang di ujung timur Pulau Sumbawa, namun sejarah pernah mencatatnya sebagai entitas yang pernah mendikte detak jantung peradaban dunia.
April 1815 bukan hanya catatan tentang bencana vulkanik, tapi eksperimen alam terbesar dalam sejarah modern manusia yang gaungnya melampaui batas-batas kedaulatan negara.
Letusan masif dengan kekuatan tujuh pada Volcanic Explosivity Index itu melepaskan ratusan kilometer kubik material ke atmosfer, menciptakan tabir aerosol yang mendinginkan suhu global dan memicu fenomena tahun tanpa musim panas di belahan bumi utara pada 1816.
Resonansi letusan tersebut tidak hanya meruntuhkan suhu bumi, tetapi juga meruntuhkan tatanan sosial-ekonomi di Eropa dan Amerika, memicu kelaparan massal, hingga secara tidak langsung mengilhami lahirnya beberapa karya sastra klasik yang cukup kelam.
Salah satunya adalah “Frankenstein” karya Mary Shelley. Novel horor legendaris ini ditulis saat Mary Shelley terjebak di dalam ruangan akibat cuaca ekstrem yang kelam, dingin, dan hujan terus-menerus di Eropa pada tahun 1816.
Kondisi atmosfer tersebut merupakan dampak langsung dari letusan Gunung Tambora yang memicu fenomena "Tahun Tanpa Musim Panas" di belahan bumi utara.
Contoh lainya adalah Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman. Naskah klasik Nusantara yang ditulis sekitar tahun 1830 ini mendokumentasikan secara rinci kengerian letusan yang berlangsung selama tiga hari tiga malam, bencana kelaparan yang mengikuti, serta memberikan narasi sosiokultural mengenai kehancuran kerajaan-kerajaan di kaki Tambora.
Ironisnya, di saat dunia terus mengenang dampak globalnya melalui berbagai kajian akademis internasional, Tambora di tanah airnya sendiri sering kali hanya dipandang sebagai monumen bisu yang terabaikan dalam diskursus strategis pembangunan nasional.
Oleh karena itu, status UNESCO Global Geopark yang kini sedang diperjuangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat harus diapreasiasi dan didukung semua pihak karena merupakan sebuah upaya dekolonisasi narasi terhadap Tambora.
Selama ini, Tambora lebih banyak dibicarakan dalam literatur asing sebagai sumber malapetaka iklim, namun jarang disentuh sebagai pusat peradaban yang pernah berjaya di Nusantara.
Baca juga: Susul Rinjani, Gunung Tambora Diusulkan Jadi UNESCO Global Geopark
Letusan dua abad silam tersebut melenyapkan tiga entitas politik sekaligus, yakni Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar. Penemuan arkeologis yang kemudian dijuluki sebagai "Pompeii dari Timur" itu memberikan bukti tak terbantahkan tentang adanya masyarakat maju dengan struktur bangunan yang tertata, penggunaan senjata tradisional seperti keris, hingga jaringan perdagangan keramik internasional yang terkubur di bawah lapisan abu vulkanik.
Kecepatan ekskavasi ilmiah di situs ini terasa sangat lamban jika dibandingkan dengan penanganan situs serupa di Italia, yang mencerminkan adanya gejala bangsa pelupa yang kurang menghargai kedalaman identitas sejarah yang terkubur tepat di bawah kaki sendiri.
Urgensi menjadikan Tambora sebagai Geopark Dunia tentu bukan hanya mengejar gengsi internasional atau label prestisius dari UNESCO. Upaya ini adalah strategi pertahanan lingkungan dan ekonomi yang mendesak di tengah ancaman ekstensifikasi lahan yang tidak terkendali.
Kawasan Tambora merupakan jantung konservasi di wilayah timur garis Wallace, sebuah laboratorium alam yang menampung ratusan spesies flora dan fauna endemik.
| Ketika Anak Kehilangan Rasa Aman di Ruang Pendidikan |
|
|---|
| Ketika Angka Ketimpangan Gender Turun, Mengapa Perempuan NTB Masih Tertinggal? |
|
|---|
| Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian |
|
|---|
| Insentif Kendaraan Listrik : Dari Kebijakan Nasional ke Praktik Daerah |
|
|---|
| Daycare dan Luka yang Tak Terlihat: Adakah yang Gagal pada Pedagogi Kita? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Jannus-26.jpg)