Opini

Kantor Gubernur NTB Rasa Bali, Legasi sang Datu Sasak yang Melukai 

Renovasi kantor senilai Rp40 miliar tersebut justru menghadirkan harga yang sangat murah untuk menenggelamkan simbol kebudayaan Sasak

Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK/SEPTIAN ADE
Salman Faris. Ia merupakan penulis novel "Tuan Guru" dan kini mengajar sebagai dosen Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. 

Ketika simbol ini lebih mencerminkan kebudayaan luar ketimbang kebudayaan lokal, maka yang dikhianati bukan hanya estetika, tetapi juga sejarah, identitas, dan kedaulatan simbolik masyarakat Sasak

Ironisnya, ini dilakukan secara sadar oleh aktor proyek renovasi yang barangkali lebih terpikat oleh estetika eksotik Bali ketimbang kompleksitas arsitektur lokal yang sesungguhnya memiliki kekayaan bentuk dan filosofi tersendiri.

Lebih malang lagi, mereka yang selama ini mengaku sebagai tokoh, pemuka, atau panutan dalam masyarakat Sasak. Tokoh yang membanggakan diri sebagai penjaga warisan budaya, penjuru nilai-nilai leluhur, dan benteng terakhir identitas Sasak, justru memilih bungkam. 

Tidak satu pun dari mereka melontarkan kritik yang tegas terhadap kekuasaan simbolik yang sedang bekerja dalam bentuk bangunan itu. Padahal, kantor Gubernur NTB bukan sekadar kantor administrasi, melainkan ruang simbolik tertinggi bagi representasi identitas publik. 

Namun para tokoh itu, yang sering menyebut diri paling Sasak, paling kanggo atas Sasak, nyatanya hanya berdiri jauh, memerhati, diam seribu bahasa. Mereka seperti telah berdamai dengan kenyataan baru yang ahistoris. Seolah-olah penyingkiran kultural melalui estetika adalah hal wajar dalam pembangunan.

Sikap diam ini adalah cermin kekosongan kesadaran simbolik yang sangat mengkhawatirkan. Ketika ruang publik utama di NTB diisi dengan impresi budaya luar. 

Ketika estetika Bali menjadi visual dominan pada jantung pemerintahan Sasak. Dan ketika itu semua berlangsung tanpa kritik dari mereka yang mestinya menjadi penjaga identitas, maka yang terjadi bukan hanya kekalahan estetika, melainkan pengkhianatan ideologis. 

Ini adalah bentuk keterjajahan simbolik yang tidak kasatmata namun begitu dalam pengaruhnya. Ironi ini menohok, rasa cinta dan kebanggaan terhadap bangsa sendiri tidak cukup kuat untuk membunyikan kritik terhadap simbolisasi yang meminggirkan. 

Para tokoh itu justru tampak hanyut dalam euforia pembangunan fisik tanpa sadar bahwa ruh kebudayaan mereka sedang dicabut dari fondasi visual ruang publik mereka sendiri.

Karena itu, kantor Gubernur NTB secara perlahan bukan lagi lambang kultural masyarakat Sasak. Ia telah menjadi ikon dari estetika ahistoris dan dominasi simbolik yang lebih peduli pada kesan indah atau modern ketimbang kesetiaan pada akar budaya Sasak

Dalam logika kekuasaan impresi, yang terpenting bukan makna sebenarnya, tetapi apa yang langsung terlihat dan terasa.

Sekali lagi, sungguh harga yang sangat murah bagi sebuah legasi sang datu Sasak untuk semakin meniadakan bangsanya sendiri. 

Tetapi, siapa tahu dia malah bangga atas legasi yang melukai ini.

Malaysia, 2 Mei 2025.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved