Kamis, 7 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 13,64 Persen, Ada Pertanian yang Terabaikan

Kita terlalu sibuk merayakan angka pertumbuhan besar, tetapi lupa bertanya apakah petani mengalami peningkatan kesejahteraan yang signifikan.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM
Dr. Maharani - Ia adalah Peneliti Lombok Research Center (LRC) dan aktif mengajar di Universitas Gunung Rinjani (UGR). 

Padahal pertanian NTB membutuhkan dukungan besar, mulai dari pembangunan irigasi, stabilisasi harga hasil panen, perlindungan lahan produktif, akses pupuk subsidi, modernisasi alat pertanian, hingga penguatan pasar hasil tani. Semua itu memerlukan keberpihakan anggaran yang konsisten dan berkelanjutan. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi NTB akan terus tampak tinggi di level makro, tetapi belum cukup kuat memperbaiki kesejahteraan petani dan masyarakat desa secara nyata.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi NTB sering tampak impresif secara makro, tetapi belum cukup kuat mengubah struktur kesejahteraan masyarakat secara mendalam. Tingginya angka kemiskinan, pengangguran terbuka, hingga migrasi pekerja keluar daerah menjadi indikator bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya terkonsolidasi di tingkat akar rumput.

Bahkan fenomena tingginya pekerja migran asal NTB menunjukkan bahwa sektor domestik, terutama pertanian dan ekonomi desa, belum mampu menyediakan penghidupan yang cukup layak bagi sebagian masyarakat. Jika ekonomi lokal benar-benar kuat dan inklusif, maka dorongan masyarakat untuk mencari pekerjaan ke luar daerah atau luar negeri tidak akan sebesar sekarang.

Karena itu, perdebatan tentang “kuat” atau “rapuh” sebenarnya tidak perlu berhenti pada soal statistik pertumbuhan. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi memiliki pondasi sosial yang kuat. Dan pondasi itu ada pada pertanian.

NTB membutuhkan arah pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi juga memperkuat sektor-sektor yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Pertanian harus menjadi prioritas strategis, bukan sekadar pelengkap pidato pembangunan.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa modernisasi pertanian benar-benar terjadi, mulai dari penguatan irigasi, akses pembiayaan petani, hilirisasi produk pertanian, stabilitas harga hasil panen, hingga pengembangan industri berbasis pangan lokal. Pertanian tidak boleh terus diposisikan sebagai sektor yang diminta bertahan sendiri tanpa dukungan kebijakan yang serius.

Sebab kekuatan ekonomi daerah sesungguhnya tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan tahunan, tetapi dari kemampuan ekonomi tersebut menciptakan rasa aman bagi masyarakat yang paling bawah. Ekonomi disebut kuat apabila petani tidak mudah jatuh miskin saat harga komoditas turun. Ekonomi disebut kokoh apabila desa memiliki daya hidup yang stabil. Dan ekonomi disebut sehat apabila hasil pembangunan tidak hanya terkumpul di sektor-sektor besar, tetapi juga mengalir hingga ke sawah, ladang, pesisir bahkan sampai dapur ibu-ibu di desa.

Pada akhirnya, pertanian bukan sekadar salah satu sektor dalam tabel statistik PDRB. Pertanian adalah denyut nadi utama kehidupan NTB. Jika pondasi ini terus diabaikan, maka pertumbuhan sebesar apa pun akan selalu menyisakan pertanyaan tentang siapa yang benar-benar menikmatinya. Atau apakah pertumbuhan ekonomi ini hanya akan menjauhkan masyarakat NTB yang hidup di sektor pertanian jauh dari kata “Makmur Mendunia?”.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved