Pemerintah Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Atas 5,3 Persen
Memasuki triwulan II 2026, Airlangga menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang solid.
Ringkasan Berita:
- Memasuki triwulan II 2026, Menko Airlangga menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang solid.
- Sejumlah indikator makroekonomi memperkuat keyakinan tersebut, antara lain inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, cadangan devisa, dan indeks manufaktur.
TRIBUNLOMBOK.COM - Pemerintah Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 akan melampaui angka 5,3 persen, bahkan pada kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 5,5 persen.
Proyeksi tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Media Briefing: Update on Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI, Senin (13/4/2026).
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen," ujar Airlangga.
Proyeksi tersebut bukan tanpa landasan. Pada tahun 2025, Indonesia telah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20, di tengah kondisi pertumbuhan global yang hanya berkisar 2,6 hingga 3,3 persen menurut IMF, OECD, dan Bank Dunia.
Capaian itu ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), didukung sektor investasi, serta belanja pemerintah.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Gejolak Timur Tengah, Pertumbuhan Ditopang Sektor Konsumsi
Memasuki triwulan II 2026, Airlangga menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang solid.
Sejumlah indikator makroekonomi memperkuat keyakinan tersebut, antara lain inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, cadangan devisa sebesar 148,2 miliar dolar AS, serta indeks manufaktur yang masih berada pada fase ekspansi di level 50,1.
Sektor perbankan nasional pun dinilai tetap kokoh dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terjaga.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai 47 miliar dolar AS turut memberikan penyangga alami terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.
Sementara dari sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Maret 2026 tercatat terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB.
Momentum pertumbuhan juga didorong oleh realisasi investasi hilirisasi yang pada 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau setara 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional.
Di sisi sosial, tingkat kemiskinan ditekan menjadi 8,25 persen, pengangguran turun ke angka 4,7 persen, dan realisasi investasi sepanjang 2025 menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.
Airlangga menyoroti prospek investasi di sektor digital sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ke depan. Ketersediaan lahan, harga energi yang kompetitif, serta populasi Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa dinilai menjadi daya tarik kuat bagi investor asing, khususnya di bidang pusat data, kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum.
(*)
| Ekonomi Tumbuh Tapi Rakyat Miskin Bertambah, Kelas Menengah Berkurang |
|
|---|
| Tambang dan Ilusi Ekonomi NTB |
|
|---|
| BPS Ungkap Ekonomi Lombok Timur Tahun 2025 Tumbuh, Angka Kemiskinan Turun Drastis |
|
|---|
| Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Baik dari Singapura hingga China, Rupiah Undervalued |
|
|---|
| Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 13,64 Persen, Ada Pertanian yang Terabaikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Warga-sedang-membeli-telur-di-Pasar-Mandalika-Bertais.jpg)