Kamis, 21 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Ekonomi Tumbuh Tapi Rakyat Miskin Bertambah, Kelas Menengah Berkurang

Prabowo mengatakan Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh konsisten di angka 5 persen per tahun.

Tayang:
Tribunnews.com/IRWAN RISMAWAN
RAPAT PARIPURNA - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Rapat paripurna DPR beragendakan antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo. Prabowo mengatakan Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh konsisten di angka 5 persen per tahun. 

Ringkasan Berita:
  • Prabowo mengatakan Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh konsisten di angka 5 persen per tahun.
  • Secara kumulatif, itu berarti ekonomi nasional telah berkembang sekitar 35 persen.

TRIBUNLOMBOK.COM - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang selalu dibanggakan selama tujuh tahun terakhir tidak menyentuh kelompok yang paling membutuhkannya.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR RI yang membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal APBN 2027, Rabu (20/5/2026).

"Sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajektori yang tidak tepat," tegas Prabowo dikutip dari Tribunnews

Prabowo mengatakan Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh konsisten di angka 5 persen per tahun. 

Secara kumulatif, itu berarti ekonomi nasional telah berkembang sekitar 35 persen.

"Saudara-saudara sekalian, 7 tahun kali 5 persen, 35 persen ekonomi kita tumbuh. Tapi rakyat kita yang miskin tambah, dari 46,1 persen naik menjadi 49 persen, 8 persen eh naik 3 persen naik. Yang kelas menengah turun," kata Prabowo.

Kelas menengah menyusut dari 22 persen menjadi 17 persen. 

Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Baik dari Singapura hingga China, Rupiah Undervalued

"Saya merasa setelah saya terima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi Presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya," kata Prabowo.

"Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat? Jawaban harus ilmiah, jawaban harus matematis," ujarnya.

Dalam ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai pertumbuhan tanpa pemerataan kondisi di mana ekspansi ekonomi agregat terjadi namun manfaatnya terkonsentrasi pada kelompok atas, sementara kelompok menengah dan bawah justru tertinggal atau terpinggirkan.

Rasio Pajak Terendah di G20

Prabowo juga membuka data rasio penerimaan negara terhadap PDB Indonesia adalah yang paling rendah di antara seluruh anggota G20 bahkan lebih rendah dari beberapa negara ASEAN.

Berdasarkan data IMF yang ia kutip:

  • Meksiko: 25 persen dari PDB
  • Filipina: 21 persen dari PDB
  • India: 20 persen dari PDB
  • Kamboja: 15 persen dari PDB
  • Indonesia: 11–12 persen dari PDB

Rasio pajak yang rendah berarti negara memiliki lebih sedikit sumber daya untuk redistribusi untuk membangun infrastruktur, membayar layanan kesehatan, mendanai pendidikan, dan menyediakan jaring pengaman sosial yang efektif. 

Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi yang terjadi cenderung mengalir ke kantong yang sudah memiliki akses terhadap modal dan pasar, bukan ke kelompok yang membutuhkan intervensi negara.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved