Minggu, 31 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Pesan Ramadan

Membangun Komunikasi Efektif dalam Keluarga Selama Ramadhan

Memiliki keluarga harmonis adalah dambaan setiap insan, meski ukuran harmonis itu sendiri tidak sama bagi setiap keluarga.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Laelatunniam
TRIBUNLOMBOK.COM
Prof. Dr. Kadri, M.Si - Penulis merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram. 

Oleh : Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram

TRIBUNLOMBOK.COM - Memiliki keluarga harmonis adalah dambaan setiap insan, meski ukuran harmonis itu sendiri tidak sama bagi setiap keluarga. Tulisan ini membatasi kriteria harmonis dalam perspektif yang lebih komunikatif dengan beberapa indikator seperti selalu terhubung, saling pengertian, bersua, dan kompak.

Menghadirkan keluarga harmonis butuh effort dari semua anggota keluarga karena keluarga harmonis tidak bisa berharap lewat do’a pada Tuhan saja dan menunggu diwarisan oleh orang tua. Penentu utama keluarga harmonis adalah dari hasil konstruksi bersama anggota keluarga dalam waktu yang tidak singkat setelah sukses melewati setiap tantangan yang ada.

Di samping dukungan faktor internal dari anggota keluarga, keharmonisan keluarga juga turut dirawat oleh aspek eksternal. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak anggota keluarga yang sengaja mengkonstruksi realitas eksternal untuk mensupport bangunan harmoni keluarga mereka. Bulan Ramadhan adalah faktor eksternal yang dikonstruksi oleh Tuhan untuk dijadikan sebagai momentum bagi hambaNya yang hendak membangun dan atau merawat keluarga harmonis.

Bulan Ramadhan biasanya menjadi magnet terselenggaranya komunikasi offline anggota keluarga. Memang di era digital saat ini hampir bisa dipastikan tidak ada satu keluarga pun yang tidak terhubung, mulai dari bentuk keterhubungan yang sangat sederhana (seperti chat whatsApp) hingga yang audio visual seperti Video call.

Baca juga: Menahan Godaan Puasa di Era Digital

Namun harus diakui bahwa kehangatan dan keakraban pertemuan offline tidak bisa tergantikan dengan keterhubungan online secanggih apapun, karena dalam komunikasi offline melibatkan emosi dan perasaan yang langsung terkonek dan terpantau dalam jarak yang super dekat. Meski tidak sebulan penuh, rata-rata anggota keluarga bisa berkumpul offline di bulan Ramadhan dengan komposisi keluarga yang lengkap. Pertemuan ini dapat menjadi nutrisi yang akan terus pemupuk harmoni keluarga.  

Ramadhan menjadi bulan keberkahan komunikasi keluarga dengan memaksimalkan ruang dan waktu perjumpaan. Harus diakui bahwa kesibukan masing-masing anggota keluarga acap kali jadi penghalang pertemuan offline di tempat dan waktu bersamaan. Suami istri yang sibuk sangat susah mengatur waktu dan tempat makan secara bersamaan.

Demikian juga anak dengan orang tua tidak bisa rutin makan bareng karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing, atau punya jam makan atau selera makan yang berbeda. Bulan Ramadhan hadir dengan aturan waktu makan yang sama sehingga “memaksa” semua anggota keluarga untuk ada di tempat dan waktu yang sama saat makan sahur dan berbuka puasa. Perjumpaan tersebut tidak sekedar beribadah puasa bersama tetapi juga ajang komunikasi keluarga yang tepat untuk membincangkan ragam hal demi terjaganya harmoni di antara keluarga. 

Berkumpul dalam suasana berpuasa di bulan suci Ramadhan memiliki cita rasa tersendiri bagi setiap anggota keluarga yang menginginkan keluarga harmonis. Atmosfir religius Ramadhan yang mereka rasakan akan memandu setiap ucap dan laku yang mereka lakukan sehingga dapat dipastikan kalau konten komunikasi yang didiskusikan berdimensi kebajikan, bukan tema-tema yang berpotensi menimbulkan konflik dan ketegangan.

Dalam konteks inilah bulan Ramadhan dijadikan sebagai ajang membangun tradisi komunikasi efektif untuk harmoni keluarga, yang di dalamnya ada pesan yang saling mengingatkan, ada masalah yang dicarikan solusinya, dan ada rencana yang diikrarkan dan disepakati bersama.

Membangun tradisi komunikasi keluarga efektif harus diletakkan sebagai agenda prioritas untuk menjaga harmoni di rumah tangga. Tidak ada satu keluarga pun yang steril dari persoalan karena anggota keluarga adalah manusia yang pasti memiliki kekhilafan.

Mengkomunikasikan dan mencari solusi bersama atas persoalan dengan penuh kekeluargaan adalah solusi menghadang persoalan tersebut untuk tidak menjadi konflik keluarga yang lebih eskalatif, apalagi berfek pada kekerasan yang berujung pada kematian. 

Beberapa fakta menunjukkan bahwa orang-orang dekat (significant others) yang sejatinya sebagai pelindung malah justru menjadi “malaekat” pencabut nyawa karena ada persoalan keluarga yang tidak berhasil diselesaikan.

Ingat kasus pemuda biadab asal Monjok Kota Mataram berinisial BP (33 tahun) yang membunuh dan membakar ibu kandungnya pada akhir Januari kemarin (2026) hanya karena persoalan uang yang tidak diberikan oleh ibunya. Pada tahun sebelumnya (tepatnya 19 Agustus 2025) dan juga dipicu persoalan yang sama (masalah uang) seorang istri berinisial R membunuh suami (berinisial E). Pasangan suami istri yang berdomisili di Lombok Barat tersebut sama-sama berprofesi sebagai Polisi. Di Kabupaten Lombok Tengah Pada bulan dan tahun yang sama juga terjadi tragedi pembunuhan istri oleh suaminya karena dipicu oleh kecemburuan. 

Dalam perspektif komunikasi, fakta di atas mengindikasikan adanya komunikasi keluarga yang tidak efektif. Artinya, berkumpul secara fisik saja tidak cukup, sehingga butuh saling pengertian untuk mewujudkan kekompakan. Komunikasi dibutuhkan untuk menjadi media yang bisa meleburkan perbedaan ke dalam satu titik kesamaan dengan menjadikan kepentingan bersama sebagai pertimbangan utama.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved