Pesan Ramadan
Puasa dan Konstruksi Identitas
Ramadan dan ibadah puasa wajib yang dilaksanakan di dalamnya adalah momentum yang tepat untuk mengkonstruksi identitas baru.
Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
(Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram)
TRIBUNLOMBOK.COM - Identitas secara bebas dimaknai sebagai gambaran tentang diri dan kelompok yang diberikan oleh diri sendiri dan atau orang lain terkait dengan banyak aspek.
Oleh karena itu, identitas dalam diri setiap individu sangat beragam, baik yang sama dengan orang lain atau yang unik dan khas yang dimilikinya sendiri. Identitas tidak hanya beragam tetapi juga dapat dikonstruksi secara fleksibel sesuai dengan situasi, kondisi, dan keinginan pemilik identitas.
Ramadan dan ibadah puasa wajib yang dilaksanakan di dalamnya adalah momentum yang tepat untuk mengkonstruksi identitas baru, atau memperbaharui identitas lama menjadi lebih baik lagi.
Secara general, identitas yang dikonstruksi oleh ibadah puasa diarahkan aktornya untuk menjadi orang bertakwa. Proses ritual puasa yang dilakoni secara totalitas oleh umat Islam akan dihadiahi identitas takwa dari Allah swt.
Identitas takwa adalah identitas yang berasal dari eksternal dan diberikan oleh pihak lain (Tuhan). Identitas takwa dapat disebut sebagai hadiah dari Tuhan setelah hambanya mampu memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam ibadah puasa. Artinya proses konstruksi identitas takwa dilakukan oleh setiap individu dan kepastian akhirnya ditetapkan oleh Allah swt.
Setiap individu juga bisa mengkonstruk identitas-identitas lain (selain takwa) lewat ibadah puasa yang dijalaninya. Identitas yang sangat mungkin dikonstruk oleh saimin dan saimat adalah mengidentifikasi diri sebagai orang yang jujur.
Ibadah puasa mengajarkan praktik kejujuran karena hanya Allah swt dan kita sendiri yang mengetahui apakah kita masih berpuasa atau tidak. Jika kita telah mampu menunjukkan kejujuran kala sukses berpuasa maka pada saat yang bersamaan kita sedang mengkonstruksi identitas sebagai pribadi yang jujur. Identitas ini akan terus melekat dalam setiap pikiran, sikap dan perilaku individu sehingga akan langgeng bertengger dalam diri.
Identitas berempati dan dermawan adalah identitas lainnya yang bisa dikonstruksi oleh seseorang setelah menjalani ibadah puasa. Sebagaimana identitas jujur, identitas sebagai seorang berempatik dan dermawan juga merupakan hasil terpaan ibadah puasa yang mampu dirasakan oleh sang actor.
Identitas ini dikonstruksi bersamaan dengan pelajaran merasakan lapar dan dahaga kala berpuasa. Jika latihan ini berhasil membentuk sikap empati dan dermawan maka berarti telah sukses membentuk identitas baru (memperbaharui identitas lama) sebagai orang berempatik dan dermawan. Inilah salah satu manfaat ibadah puasa dalam membentuk identitas baru bagi pelakonnya.
Sejatinya identitas-identitas tersebut di atas (takwa, jujur, empatik dan dermawan) yang diberikan oleh orang lain (pihak eksternal) atau yang baru dikonstruksi atas kesadaran sendiri (internal) dari proses ibadah puasa yang dijalani seseorang harus dipertahankan dan dilanjutkan menjadi identitas permanen dengan cara merawat sedisiplin dan sebaik mungkin. Salah satu cara merawatnya adalah dengan menampilkan citra diri yang relevan dengan identitas tersebut sehingga orang lain dengan memudah menjustifikasi identitas sesuai dengan jenis citra diri yang ditampilkan.
Seseorang harus mampu menunjukkan citra diri yang relevan dengan identitas yang hendak dibangun atau dipertahankannya. Citra diri dapat berupa tampilan nonverbal maupun pesan verbal yang memiliki korelasi dengan identitas yang telah dikonstruksi.
Bila identitas takwa diyakini telah diterima dari Allah swt setelah sukses berpuasa maka seseorang harus menampilkan citra diri yang relevan dengan identitas tersebut, seperti menjalani semua yang diperintahkan Allah swt dan menjauhi semua yang dilarangNya. Jika seseorang ingin mempertahankan identitas jujur yang telah dikonstruksinya sejak bulan Ramadan maka wajib baginya untuk menunjukkan citra diri yang sesuai seperti berbicara sesuai fakta, menepati janji, berbuat sesuatu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sekiranya kita sudah mengkonstruksi identitas sebagai orang yang berempati dan dermawan maka identitas tersebut akan diakui oleh orang jika kita menampilkan citra diri yang sensitif atau peduli dengan keadaan orang lain dan berbagi atau sedekah menjadi hebit. Semua citra diri yang ditampilkan seseorang tidak hanya sebagai bentuk perawatan identitas tetapi juga dapat dijadikan sebagai proses mempertegas identitas, baik yang dilakukan oleh diri maupun yang dijuluki atau dilabeli oleh orang lain.
Pilihan teman gaul juga mempengaruhi citra diri seseorang dalam rangka membangun sekaligus mempertahankan identitas. Vladimir Lenin (seorang tokoh revolusi dan pemikir dari Rusia) pernah berujar bahwa “show me who your friends are, and I will tell you what you are” (tunjukkan pada aku siapa temanmu, dan aku akan katakan padamu siapa dirimu). Seseorang yang mengatakan dirinya sebagai orang bertakwa akan dipercaya jika orang melihatnya bergaul atau berteman dengan orang bertakwa dan dalam sirkal lingkungan yang baik. Dalam konteks inilah pentingnya lingkungan dan teman untuk mensupport proses pebentukan dan mempertahankan identitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)