Pesan Ramadan
Mudik Sebagai Ajang Literasi Kebajikan
Fenomena mudik secara tidak langsung mengirimkan data betapa belum meratanya pembangunan di republik ini.
Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
(Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram)
Bicara lebaran kurang lengkap bila tidak menyertakan topik tentang mudik. Tradisi tahunan ini telah menjadi ritual rutin duniawi ala Indonesia di akhir Ramadan hingga idul fitri menjelang. Mudik merupakan istilah yang biasa dialamatkan ketika setiap orang melakukan perjalanan kembali ke kampung asal setelah berbulan-bulan menjalani pekerjaan dan aktivitas di rantauan.
Beragam tantangan yang menyertai perjalanan mudik tidak cukup untuk menghalangi keinginan para mudiker untuk menengok kampung halaman sambil merayakan idul fitri bersama keluarga besar dan kawan-kawan masa kecil.
Mudik tidak sekedar dimaknai sebagai perjalanan pulang fisik dan materi tetapi juga membawa pulang nilai dan spirit kebajikan ke kampung halaman sehingga menjadi momentum kebangkitan sosial dan ekonomi di level grassroots.
Mudik lebih sering dilihat dalam konteks migrasi fisik temporer manusia yang ada di kota ke kampung atau desa, sehingga yang selalu ramai diberitakan adalah efek fisik dari keberadaannya seperti kemacetan dan beberapa dampak berdimensi fisik lainnya. Tidak ada yang salah dengan perhatian dan pelayanan terhadap para mudiker.
Bahkan dengan adanya tradisi mudik, dapat dijadikan sebagai momentum untuk mengarahkan perhatian pada pelayanan publik seperti penyediaan fasilitas jalan yang baik dan pengecekan kelayakan alat transportasi oleh petugas, meski sejatinya tradisi tersebut wajib dilakukan oleh mereka (petugas) tanpa harus menunggu jadwal mudik tiba.
Baca juga: Mengasah Kecerdasan Komunikasi Antarbudaya Selama Puasa Ramadan
Mudik menyisahkan banyak pesan nonfisik yang sangat penting untuk disadari mudiker. Fenomena mudik secara tidak langsung mengirimkan data betapa belum meratanya pembangunan di republik ini. Kebijakan sentralisasi pembangunan membuat tumpukan gula-gula pertumbuhan terpusat di kota besar. Gula-gula tersebut telah menjadi magnet (penggoda) pencari kerja yang berasal dari desa untuk menyerbu kota.
Lewat ritual mudik, para pekerja yang meniti karier dan penikmat gula di pusat kota, kini rehat sejenak untuk kembali ke desa asal sembari membagi rezeki yang diperoleh selama bekerja di kota. Tranfer rezeki dari langit (Tuhan) kepada warga bumi di kampung halaman oleh mudiker diharapkan menjadi spirit berbagi yang bisa ditularkan kepada warga di level kampung, atau dapat dijadikan sebagai modal yang bisa menumbuhkan “rumput-rumput” pertumbuhan ekonomi di desa.
Perjalanan mudik tidak hanya membawa pulang fisik ke kampung halaman, tetapi mengangkut serta berbagai prestasi yang telah diperoleh selama setahun di perantauan. Melepas kangen di kampung halaman sejatinya dilengkapi dengan mentransfer prestasi ke warga kampung. Pemudik diharapkan dapat menjadi inspirator dan motivator bagi warga yang tinggal di kampung, terutama dalam hal kesuksesan dan kerja keras mereka di rantau.
Spirit dan motivasi kerja keras ini penting di saat potensi sumber daya alam yang ada di kampung masih belum tergarap secara maksimal oleh sumber daya manusia yang ada. Ketika meriset penyebab konflik di salah satu daerah, betapa kagetnya saya saat seorang responden menyebut “tidak adanya lapangan kerja” sebagai penyebab konflik yang melibatkan anak muda. Padahal di depan mereka terhampar luas lahan pertanian dan hutan serta gunung yang bisa disulap menjadi lahan produktif oleh tangan-tangan kreatif anak muda.
Sudah saatnya anak muda pengangguran di kampung mengadopsi kerja keras dan jiwa pantang menyerah dari para pemudik, sehingga desa menjadi sumber kesejahteraan yang sama dengan kota yang terlebih dahulu menjadi gula bagi para pencari kerja.
Prosesi mudik hampir bisa dipastikan membawa pernak-pernik yang melekat pada mudiker. Di samping status sukses yang melekat pada diri, asesoris lainnya yang menyertai pemudik seperti kendaraan pribadi, pakaian, dan barang berharga lainnya telah melengkpi gaya hidup para mudiker.
Niat dan perlakuan pemudik terhadap asesoris mudik tersebut beragam, dari sekedar fungsional hingga diperankan sebagai instrument promosi eksistensi diri. Motif dan perlakuan yang disebut terakhir (promosi diri) berpotensi menjadikan mudik sebagai momentum melakukan transfer gaya hidup. Hal ini begitu ironi di saat budaya hidup sederhana sedang digalakkan.
Era globalisasi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang tak terbendung saat ini telah membuat batas wilayah kota dan desa tidak ada lagi. Budaya dan gaya hidup warga kota sangat muda diadopsi oleh warga desa lewat media sosial yang diaksesnya.
Fenomena ini membuat kita kesulitan untuk membedakan mana tampilan orang kota dan seperti apa gaya warga desa. Kehadiran pemudik di desa saat lebaran jangan sampai melengkapi proses transformasi gaya hidup kota kepada masyarakat desa. Pemudik seharusnya menjadikan momentum mudik sebagai wadah untuk kembali menginternalisasi nilai dan budaya asli daerahnya.
Mudik bisa menjadi spirit untuk kembali ke budaya asli daerah. Kehadiran kembali pemudik ke kampung halaman merupakan pesan simbolik bahwa mereka rindu dan konsisten dengan budayanya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)