Pesan Ramadan
Pena Wartawan dan Misi Menyampaikan Kabar Gembira
Dalam kehidupan modern, peran menyampaikan kabar kepada masyarakat banyak dijalankan oleh media dan para wartawan.
Oleh: Dr Ahsanul Khalik alias DR.4K4
Di era ketika berita bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk suasana batin masyarakat. Apa yang dipilih untuk diberitakan dapat mempengaruhi cara orang memandang dunia: apakah dengan harapan atau dengan kegelisahan.
Karena itu dalam perspektif Islam, kata dan tulisan bukan sekedar alat komunikasi, melainkan amanah moral yang kelak dipertanggungjawabkan.
Al-Qur’an menggambarkan misi Rasulullah SAW sebagai pembawa harapan bagi manusia. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab: 45).
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa wahyu diturunkan untuk memberi harapan kepada manusia:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Isra: 9).
Bahkan kepada orang-orang yang sedang menghadapi ujian hidup, Allah memerintahkan agar mereka diberi harapan:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Dalam kehidupan modern, peran menyampaikan kabar kepada masyarakat banyak dijalankan oleh media dan para wartawan.
Baca juga: Menjaga Spirit Filantropi Sejak Ramadan
Melalui berita, laporan, dan tulisan, mereka membentuk cara pandang publik terhadap realitas. Karena itu prinsip dakwah Nabi SAW sangat relevan bagi dunia jurnalisme.
Rasulullah bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain Rasulullah SAW juga mengingatkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yangi baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur’an juga memberi peringatan penting tentang tanggung jawab dalam menyampaikan berita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu kehati-hatian dan verifikasi sebelum menyampaikan informasi, sebuah prinsip yang sangat sejalan dengan etika jurnalisme yang bertanggung jawab.
Namun menekankan pentingnya khabar yang membawa harapan *bukan berarti media harus menutup mata terhadap kesalahan dan penyimpangan.*
*Kritik tetap merupakan bagian penting dari fungsi pers. Bahkan dalam banyak keadaan, kritik yang tajam diperlukan untuk menjaga keadilan dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.*
*Islam sendiri tidak melarang kritik, tetapi menegaskan bahwa kritik harus berdiri di atas keadilan.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Khalik-AK-26.jpg)