Pesan Ramadan
Menahan Godaan Puasa di Era Digital
Era digital dimanfaatkan untuk mensupport kesempurnaan ibadah puasa atau nilai puasa umat Islam tereduksi oleh tradisi mereka.
Prof. Dr. Kadri, M.Si
*Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Puasa termasuk ibadah klasik yang memiliki keragaman historis, dan dilaksanakan dengan cara, tujuan, momentum, serta durasi waktu yang berbeda antara satu Nabi dengan Nabi yang lainnya. Nabi Adam yang puasa ayyamul bidh tanggal 13, 14, dan 15 secara berturut-turut dalam setiap bulan, Nabi Nuh yang berpuasa sepanjang tahun kecuali pada dua hari raya, Nabi Daud yang berpuasa selang seling dengan cara sehari berpuasa dan sehari berbuka, dan umat Nabi Muhammad saw yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan.
Tidak akan ada perintah baru terkait dengan waktu dan tata cara puasa karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw. Namun yang dihadapi umat Islam saat ini adalah bagaimana menjalankan perintah puasa tersebut di tengah tantangan zaman yang berbeda dengan zaman Nabi dan sahabat.
Era digital adalah fenomena kehidupan terkini yang sedikit banyak mempengaruhi cara umat Islam memaknai dan menjalankan ibadah puasa, karena memang puasa dikerjakan bersamaan dengan aktivitas keduniaan seperti bermedia sosial. Inilah keunikan ibadah puasa dari ibadah lainnya seperti sholat yang tidak bisa kita kerjakan sambil bermain handphone atau membaca buku. Dalam konteks inilah pentingnya kita berbicara puasa dalam kaitannya dengan era digital.
Penyebutan era digital merujuk pada aktivitas masyarakat modern yang menjadikan teknologi digital sebagai pemandu interaksi dan rutinitas harian personal dan kelompoknya dalam semua aspek kehidupan. Hal ini dimungkinkan karena tingginya konektivitas internet, akses informasi instan, dan otomatisasi berbasis teknologi di semua sektor yang menyebabkan adanya perubahan perilaku masyarakat ke arah serba daring (online) dengan mobilitas data yang cepat, dan ketergantungan pada perangkat seluler.
Puasa sebagai bagian dari aktivitas ibadah pada aspek keagamaan pasti bersentuhan dengan fenomena era digital, dengan dua jenis relasi yang kemungkinan akan terjadi, yakni: era digital dimanfaatkan untuk mensupport kesempurnaan ibadah puasa atau nilai puasa umat Islam tereduksi oleh tradisi mereka di era digital.
Pada dasarnya era digital bersifat netral dan pasif. Dia akan fungsional saat dimanfaatkan atau dinavigasi oleh setiap individu. Sebagai navigator, individu memiliki otoritas untuk mengarahkan era digital sebagai perahu pengantar ke “surga” atau kapal tumpangan menuju “neraka”.
Baca juga: Puasa dan Komunikasi Empatik
Dalam konteks ibadah puasa, positif atau negatif pola relasi puasa dan era digital akan ditentukan oleh masing-masing syaimin dan syaimat. Fitur-fitur dan platform media digital yang ada jika dimanfaatkan untuk kebaikan maka akan menambah kesempurnaan ibadah puasa yang kita lakukan. Sebaliknya, jika fasilitas digital yang ada di era ini disalahgunakan untuk hal yang mudhorat selama bulan Ramadan atau saat berpuasa maka nilai puasa kita akan berkurang dan bahkan batal.
Dalam posisinya yang netral dan pasif, era digital dapat menjadi tantangan sekaligus godaan bagi siapa pun yang berpuasa. Sebagai tantangan, era digital butuh orang kreatif dan inisiatif untuk memanfaatkannya sebagai sumber dan alat kebaikan dalam mendukung kesempurnaan ibadah puasa. Namun tidak sedikit era digital menyediakan godaan-godaan yang dapat mengurangi kualitas dan juga bisa membatalkan puasa.
Ujian bagi orang yang berpuasa di era digital ini tidak hanya lapar dan dahaga tetapi juga godaan upload status medsos, menunggu update status teman, dan memberi komentar di platform media sosial. Atau dengan kata lain, puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan jempol, lisan digital, dan hati dari dosa-dosa media digital dan media sosial. Oleh karena itu, kemampuan mengontrol diri orang yang berpuasa di era digital tidak hanya dari godaan dunia nyata tetapi juga dunia maya.
Seseorang bisa saja terbebas atau menghindar dari godaan langsung seseorang atau sesuatu (seperti makanan enak) di dunia nyata, tetapi tidak ada jaminan dia tidak goyah saat menemukan penggoda yang sama di dunia maya atau media digital. Di sinilah pentingnya komitmen dan resilien personal agar tidak tumbang dari godaan apa pun di era digital sehingga ibadah puasa tidak tereduksi kesempurnaannya.
Beberapa riset tentang perilaku masyarakat syber di media sosial menunjukkan bahwa komunikasi verbal dan nonverbal individu di dunia maya jauh lebih ekspresif dibanding di dunia nyata. Komunikasi daring yang tidak face to face di media sosial mendorong pengguna media sosial atau media online melepas identitas yang menempel pada tubuhnya, di mana mereka tidak sadar dengan status sosial yang ada dalam dirinya saat berselancar di dunia maya. Posisi yang berjauhan dan tidak kenal dengan mitra komunikasinya, membuat pengguna media sosial cenderung merasa bebas dan tidak takut untuk berkomunikasi apa pun.
Perilaku pengguna media sosial seperti inilah yang disebut Dennis Waskul (1997) sebagai “disembodied”, untuk menggambarkan fenomena transformasi diri pengguna media sosial sebagai sosok tanpa tubuh.
Dalam berkomunikasi di media sosial, seseorang bisa kehilangan kewarasannya. Medsos banyak jebakan yang membuat penggunanya bisa terjerumus pada kekhilafan yang berujung pada konflik sosial. Ada split of personality (kepribadian yang terbelah) yang dialami pengguna media sosial, dimana dalam kehidupan nyata atau interaksi langsung bersikap sopan, toleran dan ramah, tetapi saat berkomunikasi di media sosial berubah menjadi sosok yang kasar, beringas dan intoleran.
Meski tidak semua representasi diri pengguna media sosial di era digital sama seperti yang digambarkan di atas, namun contoh perilaku tidak terpuji para pengguna media sosial tersebut setidaknya menegasi kembali bahwa ruang-ruang digital saat ini dinilai rentan dengan godaan yang mereduksi kualitas puasa seseorang. Oleh karena itu, tetaplah menjaga niat dan fokus beribadah di bulan Ramadhan dengan menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat keimanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)