Kamis, 28 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Pesan Ramadan

Puasa dan Komunikasi Empatik

Karena komunikasi membutuhkan chemistry dengan mitra maka profiling terhadap mereka (mitra komunikasi) menjadi keniscayaan.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM
Prof. Dr. Kadri, M.Si - Penulis merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. 

Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram 

Puasa dan komunikasi empatik adalah dua hal yang terkait karena dalam praktiknya kedua hal tersebut tidak hanya berhubungan dengan diri tetapi juga orang lain. Puasa tidak melulu aktivitas personal dalam menahan lapar dan haus tetapi juga menahan diri untuk tidak menyakiti (setidaknya menyakiti perasaan) orang lain, sehingga tidak keliru kalau dikatakan bahwa puasa mengajar dan melatih sikap empatik. 

Lapar dan dahaga yang dialami oleh saudara kita yang tidak mampu (miskin) sama dengan yang dirasakan oleh syaimin dan syaimat dengan harapan akan muncul sikap empati yang menggerakkan hatinya untuk berbagi lewat beragam saluran sumbangan wajib (seperti zakat fitrah) dan sunat seperti zakat mal, infak, dan sedekah). 

Komunikasi juga membutuhkan pemahaman paripurna tentang eksistensi orang lain (mitra komunikasi) untuk membantu kita menghadirkan komunikasi yang efektif. Dalam konteks inilah puasa berperan mengasah kemampuan empati seseorang, sehingga orang yang sukses berpuasa dipastikan memiliki kompetensi komunikasi empatik. 

Secara bebas komunikasi empatik dimaknai sebagai komunikasi interpersonal yang melibatkan kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan perasaan mitra komunikasinya, serta mengkomunikasikan pemahaman tersebut dengan cara yang efektif. Komunikasi empatik mengharuskan pelakunya berbagi perasaan dengan orang lain dengan menempatkan diri pada posisi mereka, bukan hanya mendengar, tetapi juga merasakan apa yang mereka rasakan dan merespons dengan penuh perhatian serta kelembutan untuk membangun koneksi yang kuat dan hubungan yang harmonis. 

Empati lahir dari pengayaan yang totalitas terhadap keberadaan orang lain. Karena komunikasi membutuhkan chemistry dengan mitra maka profiling terhadap mereka (mitra komunikasi) menjadi keniscayaan. Hasil profiling itulah yang menjadi dasar bagi kita untuk mengidentifikasi mitra komunikasi sehingga kita tahu kondisi, kesukaan, pantangan, dan hal-hal khas lainnya yang mereka miliki. 

Baca juga: Puasa Komunikasi Negatif

Komunikasi empatik itu mulai dikonstruksi dari kepingan-kepingan pemahaman tersebut dengan melibatkan perasaan yang kuat untuk menjaga kohesi sosial, merawat relasi, dan membangun konvergen dalam komunikasi. Di level praktik komunikasinya, kita akan memilih diksi yang menyenangkan, dan gestur yang relevan dengan selera mitra komunikasi. 

Jika ini bisa dilakukan maka tidak akan ada orang yang tersinggung dengan pesan yang kita sampaikan, dan tidak ada mitra komunikasi yang merasa terhina dengan gestur yang kita tunjukkan. Inilah potret komunikasi empatik yang diharapkan. 

Komunikasi empatik seperti di atas sangat mungkin dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa karena mereka akan menjaga lisan dari perkataannya yang akan menyakiti hati orang lain, dan merawat gesturnya dari gerakan yang menyinggung perasaan sesama. 

Hal ini relevan dengan satu hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Puasa adalah tameng, apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila terdapat seseorang memusuhinya atau mencelanya maka hendaknya dia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa’.”

Puasa dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan empati dan mengasah kemampuan komunikasi empatik. Memang saat berpuasa kita dianjurkan lebih fokus pada diri sendiri untuk berhubungan dengan Tuhan agar khusu’, tetapi juga tidak boleh abai dengan perasaan dan kebutuhan orang lain. 

Puasa pada dasarnya berdimensi personal tetapi aspek sosial menjadi supporting kesempurnaannya sekaligus sebagai aspek untuk mengukur efeknya. Oleh karena itu, di saat kita kosentrasi berpuasa, kita juga dapat meningkatkan kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, bukan mengkritik apalagi menghujatnya.

Komunikasi empatik tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga menyertakan hati. Munculnya konflik dan ketegangan sosial di masyarakat antara lain karena absennya komunikasi empatik. Penghargaan terhadap keberadaan dan keunikan orang lain menjadi hal yang susah. Egois dan menilai orang atau kelompok lain dengan ukuran/standar diri dan kelompok sendiri menjadi pemicu lainnya dari konflik yang terjadi. Jika cara seperti ini mampu kita sirnakan dengan mengedepankan komunikasi empatik, maka betapa harmonisnya kehidupan sosial kita di semua lini kehidupan dan relasi sosial keseharian.

Keragaman akan menjadi kekayaan jika dalam level interaksi dipandu oleh komunikasi empatik, karena komunikasi empatik membutuhkan kerelaan setiap peserta komunikasi untuk mereduksi ego personalnya sembari memberi ruang kepentingan bersama untuk dikedepankan. Menjaga konvergen dan kohesi menjadi prioritas bagi individu yang mempraktekkan komunikasi empatik. 

Oleh karena itu seplural apapun komunitas yang terlibat dalam komunikasi empatik tidak akan menghalangi tegaknya harmoni sosial karena mereka tahu cara memperbesar irisan kesamaan sekaligus menyingkirkan barrier (hambatan) saat berkomunikasi. 

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved