Kamis, 28 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Aplikasi Reviu MBG Jadi Parameter Penilaian Langsung di Lapangan

Aplikasi Reviu MBG dioperasikan orang-orang yang berada paling dekat dengan proses distribusi

Tayang:
TRIBUNLOMBOK.COM/Rozi Anwar
REVIU MBG - Para pekerja di salah satu SPPG yang ada di Kabupaten Lombok Timur pada Selasa (3/2/2026). Aplikasi Reviu MBG dioperasikan orang-orang yang berada paling dekat dengan proses distribusi. 

Ringkasan Berita:
  • Aplikasi Reviu MBG dioperasikan orang-orang yang berada paling dekat dengan proses distribusi.
  • Begitu makanan tiba di lokasi distribusi, PIC langsung membuka aplikasi dan memberikan penilaian berdasarkan empat parameter utama yang telah ditetapkan BGN.

TRIBUNLOMBOK.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) menjawab kritik atas kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan. 

Sebuah aplikasi digital bernama Reviu MBG resmi diluncurkan sebagai instrumen pengawasan berbasis partisipasi penerima manfaat yang bekerja secara langsung dan waktu nyata.

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menyebut peluncuran aplikasi ini sebagai bagian dari strategi penguatan tata kelola MBG yang menempatkan pencegahan sebagai prioritas.

"Fokus utama kami adalah pencegahan. Bagaimana meningkatkan kesadaran seluruh pelaksana di lapangan agar potensi kejadian menonjol dapat diminimalkan sejak awal," ujar Sony dalam acara peluncuran aplikasi.

Baca juga: Guru-Kepala Posyandu Bisa Awasi dan Beri Nilai Menu MBG Lewat Aplikasi

Guru, Kepala Posyandu, hingga Ustaz Jadi Penilai Langsung

Dalam skema yang dirancang BGN, aplikasi Reviu MBG dioperasikan orang-orang yang berada paling dekat dengan proses distribusi antara lain para penanggung jawab atau PIC (Person In Charge) di masing-masing titik distribusi. 

Mereka terdiri dari guru di sekolah, kepala posyandu, hingga pengurus pondok pesantren yang menjadi lokasi penerima manfaat MBG.

Begitu makanan tiba di lokasi distribusi, PIC langsung membuka aplikasi dan memberikan penilaian berdasarkan empat parameter utama yang telah ditetapkan BGN.

Parameter pertama adalah ketepatan waktu, apakah makanan tiba sesuai jadwal atau terlambat, lengkap dengan pencatatan durasi keterlambatan jika terjadi. 

Parameter kedua menyangkut aroma makanan sebagai indikator awal kelayakan konsumsi. 

Parameter ketiga adalah rasa makanan sebagai tolok ukur mutu yang lebih substantif. 

Sementara parameter keempat menilai variasi menu dibandingkan hari sebelumnya, untuk memastikan penerima manfaat tidak mengalami kejenuhan akibat sajian yang monoton.

"Ketika makanan datang, langsung dinilai. Apakah tepat waktu, aromanya baik atau tidak, rasanya wajar atau tidak, dan apakah menunya variatif dibanding hari sebelumnya," jelas Sony.

KPI SPPG Ditentukan dari Lapangan

Hasil penilaian yang masuk melalui aplikasi dijadikan akumulasi penilaian tersebut sebagai komponen Indikator Kinerja Utama atau KPI bagi masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Artinya, reputasi dan evaluasi kinerja setiap SPPG secara langsung dipengaruhi oleh penilaian harian yang diberikan para PIC di lapangan.

Meski demikian, Sony menegaskan bahwa pada fase awal ini BGN belum menerapkan mekanisme sanksi berdasarkan hasil penilaian tersebut. 

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved