Pesan Ramadan
Puasa Komunikasi Negatif
Jika puasa adalah ajang menahan diri, maka sejatinya komunikasi negatif seperti tersebut harus turut puasa selama Ramadan.
Oleh: Prof Dr Kadri, M.Si
*Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Puasa identik dengan menjaga dan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Hal yang dihindari oleh syaimin dan syaimat tidak hanya yang jelas-jelas haram tetapi juga aktivitas yang pada waktu yang sama dalam bulan lainnya diperbolehkan atau dihalalkan, seperti makan dan minum, berhubungan suami istri, dan rutinitas halal lainnya sejak subuh hingga waktu magrib tiba.
Dengan demikian, tidak salah jika dikatakan bahwa ibadah puasa adalah ajang latihan menahan diri yang efektif, dan momentum membangun tradisi baik sekaligus menghilangkan budaya tidak baik dalam diri setiap orang, khususnya umat Islam.
Telah menjadi aksi common sense umat Islam ketika memasuki bulan Ramadan untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan negatif saat melaksanakan ibadah puasa. Ketakutan situasional atau temporal tahunan yang selalu hadir seperti ini menjadi modal penting untuk melakukan konstruksi tradisi komunikasi baik yang dimulai dari bulan Ramadan, terutama bagi individu yang memiliki atau masih senang dengan komunikasi negatif, seperti menyinggung perasaan atau menyakiti hati orang lain.
Kita pernah mendengar beberapa orang menjadikan berpuasa di bulan Ramadan dijadikan sebagai momentum meninggalkan tradisi yang dianggap tidak menguntungkan, seperti perokok aktif yang mulai meninggalkan aktivitas merokok saat bulan puasa. Individu yang terbiasa berkomunikasi negatif sejatinya juga dapat menjadikan momentum puasa sebagai ajang mengakhiri tradisinya.
Dalam berkomunikasi selalu ada rambu-rambu yang dipedomani, mana yang boleh dan mana yang tidak dianjurkan untuk menjaga komunikasi berlangsung efektif. Oleh karena itu, menahan diri (berpuasa) untuk tidak mengkomunikasikan hal-hal negatif tidak hanya dihajatkan untuk menjaga kemurniaan ibadah puasa tetapi juga berfungsi untuk melatih komunikasi efektif atau komunikasi yang baik tanpa pesan-pesan negatif yang dipastikan akan menjadi barrier (hambatan) dalam komunikasi sosial.
Hambatan komunikasi bisa berasal dari eksternal diri actor dan acap kali bersumber dari dalam diri actor komunikasi itu sendiri. Sebagai manusia yang tidak luput dari kekhilafan, kita pasti pernah memproduksi pesan-pesan negatif yang terucap atau tertulis (disadari atau tidak disadari) yang dapat menyakiti hati mitra komunikasi kita.
Di era perkembangan media komunikasi dan informasi yang begitu cepat saat ini, setiap orang bisa memproduksi pesan di platform media sosial yang dimilikinya. Pesan tersebut terkadang masih berisi hujatan, ujaran kebencian, dan konten-konten negative lainnya, sehingga lalulintas pesan di dunia maya disesaki oleh polusi pesan negatif.
Baca juga: Menyambut Ramadan, Warga Abu Dabi Lombok Tengah Gelar Roah Penuh Khidmat
Jika puasa adalah ajang menahan diri, maka sejatinya komunikasi negatif seperti tersebut harus turut puasa karena kita sadar bahwa komunikasi negatif seperti itu dapat membatalkan atau setidaknya mengurangi nilai puasa.
Komunikasi negatif tidak hanya terkait dengan pesan yang terlihat tetapi juga berhubungan dengan aspek-aspek tidak terlihat yang berdimensi negatif, khususnya dalam konteks psikis. Pola pikir atau cara pandang kita terhadap mitra komunikasi merupakan salah satu aspek psikis yang mempengaruhi isi atau pesan komunikasi yang kita sampaikan. Jika kita negative thinking pada seseorang maka pesan yang disampaikan pun cenderung negatif dan relasi yang terbangun pun tidak positif.
Artinya jika ingin membangun komunikasi dan hubungan positif dengan mitra komunikasi maka harus dimulai dengan mengkonstruksi pikiran-pikiran positif. Ibadah puasa mengajarkan pelakunya untuk menghilangkan pikiran negatif terhadap seseorang atau kelompok lain, sehingga alumni-alumni madrasah Ramadan diharapkan menjadi pelopor pikiran dan komunikasi positif.
Idealnya komunikasi negatif tidak hanya di-puasa-kan selama bulan Ramadan tetapi mesti disterilkan dalam aktivitas komunikasi kita. Ibadah puasa wajib selama satu bulan ini harus dijadikan sebagai ajang latihan menghilangkan tradisi komunikasi negatif untuk terus membiasakan budaya komunikasi positif, baik saat face to face communication maupun komunikasi via media sosial.
Jika ini sukses dijalani maka efek puasa bagi actor komunikasi sangat berkontribusi bagi terciptanya tatanan sosial yang harmonis di dunia nyata dan maya.
Harus diakui kalau ruang digital kita akhir-akhir ini disesaki oleh pesan-pesan yang kurang bijak dan berita-berita yang tidak menggembirakan, seperti ujaran kebencian dan kekerasan verbal antarindividu atau antarkelompok. Bullying terhadap tokoh dan selebritis, ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas, dan berita-berita pelecehan seksual telah menjadi pemandangan yang lumrah di ruang digital kita.
Semua sisi negatif yang terpampang di ruang digital seperti tersebut tidak hanya merusak mental korban secara personal atau kelompok tetapi juga memporak-porandakan tatanan sosial yang seharus dijaga dengan baik agar selalu kohesif. Momentum puasa Ramadan dianggap tepat untuk menviralkan hal-hal baik dan religus agar ruang digital kita lebih adem dan menyenangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)