Pesan Ramadan
Puasa Komunikasi Negatif
Jika puasa adalah ajang menahan diri, maka sejatinya komunikasi negatif seperti tersebut harus turut puasa selama Ramadan.
Ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dengan beragam versi yang diposting para netizen memperkaya nuansa religiusitas Ramadhan di jagad digital. Namun harapan kita semua, religiusitas tidak hanya sekedar asesoris media sosial temporal/tahunan tapi benar-benar mencerminkan hebit kreatornya yang akan terus bertahan walau sebulan lagi Ramadan pamit meninggalkan kita.
Ibadah yang baik itu tidak hanya diukur dari kebenaran prosedur pelaksanaanya tetapi juga dinilai dari efek pasca pelaksanaannya. Melempar jumrah saat ritual haji misalnya tidak hanya dinilai dari kesesuaian proses dan caranya tetapi juga dilihat dari sejauhmana pelakunya mampu melempar “setan-setan dunia” yang menggodanya setelah kembali ke tanah air.
Hal yang sama juga berlaku dalam ibadah salat. Nilai salat seseorang turut dilihat dari sejauhmana aktornya mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar setelah mereka selesai melaksanakan sholat. Pun demikian dengan ibadah puasa, kesabaran yang dilatih selama sebulan harus dilihat efeknya pada perilaku pelakunya pasca bulan Ramadan.
Artinya, jika komunikasi negatif ikut puasa selama bulan Ramadan maka diharapkan komunikasi negatif tidak dihadirkan lagi selama sebelas bulan setelahnya. Puasa Ramadan bisa saja berlangsung sebulan tapi komunikasi negatif harus terus menerus di-puasa-kan. Semoga…
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)