NTB

BGN Gelar Pelatihan Intensif bagi Penjamah Makanan MBG se-NTB

TRIBUNLOMBOK.COM/ROBBY FIRMANSYAH
PELATIHAN MBG - Ribuan penjamah makanan mengikuti pelatihan intensif yang digelar Badan Gizi Nasional di Hotel Lombok Astoria, Sabtu (4/10/2025). Saat ini SPPG se-NTB berjumlah sebanyak 327 unit dengan jumlah penjamah makanan mencapai 14 ribu orang. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pelatihan intensif bagi penjamah makanan di ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah III BGN, Ranto, menekankan pentingnya kompetensi tenaga pelaksana MBG di masing masing SPPG. 

Saat ini SPPG se-NTB berjumlah sebanyak 327 unit dengan jumlah penjamah makanan mencapai 14 ribu orang. 

Pelaksanaan program MBG di Lombok tidak hanya berfokus pada distribusi makanan sehat, tetapi juga pada kualitas penanganan, pengolahan, dan pelayanan. 

Inilah yang menjadi dasar BGN bersama pemerintah daerah, menyelenggarakan rangkaian pelatihan intensif yang ditujukan bagi para penjamah makanan (food handlers) untuk mengurangi insiden yang terjadi. 

"Program Makan Bergizi Gratis adalah bentuk nyata komitmen negara dalam membangun generasi sehat dan cerdas Untuk menjamin keberhasilan program, kualitas sumber daya manusia di lapangan harus terus ditingkatkan, termasuk di Lombok," kata Ranto, Sabtu (4/10/2025). 

Baca juga: BGN Target 25 Ribu SPPG Beroperasi Layani MBG pada Akhir 2025

Makan bergizi gratis ini merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya anak usia sekolah sebagai investasi penting bagi generasi emas Indonesia 2045.

Ranto mengungkapkan ada tiga hal yang menjadi aspek penting dalam program makan bergizi gratis ini dari BGN, diantaranya kualitas dan keamanan pangan.

Proses ini dimulai dari pengadaan, pengolahan, hingga penyajian makanan harus memenuhi standar higienis dan gizi seimbang.

Kemudian efisiensi distribusi, Ranto mengatakan jaminan ketepatan waktu dan pemerataan distribusi makanan di seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil di Lombok

Terakhir pemberdayaan dan edukasi gizi, ini berkaitan dengan kesadaran masyarakat, terutama peserta didik dan keluarga, mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi.

"Kami berharap program MBG di Lombok tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya makan sehat di kalangan anak bangsa," kata Ranto. 

Ranto mengungkapkan keberhasilan program ini membutuhkan dukungan lintas sektor, sehingga ia berharap pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, maupun masyarakat mendukung program ini. 

(*)