Opini
In Memoriam H. Lalu Nasib AR: Orang Sasak Terbaik
Segala penghormatan tidaklah cukup hanya berupa ucapan belasungkawa. Perlu ada permenungan mendalam
Tuan Guru dan Lalu Nasip berada pada jalur yang berbeda dalam membentuk struktur kultural masyarakat Sasak. Pesantren sebagai fondasi religius dan moral. Kesenian Lalu Nasip sebagai fondasi kreatif dan imajinatif. Warisan Lalu Nasip tidak hanya berhenti pada karya seni, melainkan akan menjadi ladang ilmu pengetahuan untuk pengembangan dan pengilmuan kebudayaan Sasak di masa depan.
Dengan demikian, karya-karya beliau juga dapat dilihat sebagai ladang ibadah. Sebab melalui seni beliau membangun jalan yang meneguhkan identitas, memuliakan budaya, memanusiakan manusia, mensasakkan manusia Sasak, memerdekakan keterjajahan, merayakan kemerdekaan, dan memberi arah bagi generasi mendatang. Dalam perspektif ini, penciptaan seni bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal peradaban dan spiritualitas. Soal membangun bangsa. Soal bertahan hidup dalam glortitas sekaligus kehormatan Sasak.
Atas dasar itu, tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa dalam dunia pencipta seni dan pembangunan kebudayaan Sasak, hanya ada tiga manusia Sasak paling hebat yang pernah ada yakni 1) Jero Mihram, 2) Al-Mahsyar, dan 3) Lalu Nasip. Ketiganya merupakan kanon besar yang tidak akan pernah tergantikan. Mereka bukan sekadar nama, tetapi tonggak yang mendefinisikan apa itu kesenian dan kebudayaan Sasak. Jero Mihram dengan sumbangan visionernya melalui Tutur Monyeh kemudian menjadi Cepung atau Cakepung. Al-Mahsyar dengan daya cipta monumental yang menghasilkan apa yang disebut Dangdut Sasak (melodi Sasak). Lalu Nasip dengan reinvensi orisinalitas yang menegaskan identitas Sasak. Jika hari ini kita bisa berbicara tentang Sasak dalam horizon seni yang sejajar dengan kebudayaan besar lain, itu karena ada jejak yang ditinggalkan oleh tiga tokoh tersebut. Mereka adalah saksi bahwa kebudayaan Sasak tidak pernah mati, melainkan terus hidup melalui karya-karya agung yang melampaui zaman.
Selamat jalan, guru. Saya mungkin susah untuk menjadi sehebat atau sebesar guru, tetapi setidaknya saya bisa menjadi murid yang meneruskan legasi besar guru untuk bangsa Sasak di era yang penuh cobaan ini.
Dalam setiap detik perjalanan waktu, nama guru akan tetap dikenang sebagai simbol keaslian. Sebagai tanda bahwa Sasak memiliki kekuatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri dalam jagat kesenian. Warisa guru tidak hanya akan hidup di pentas dan nada, tetapi juga dalam pikiran, penelitian, dan karya generasi yang datang kemudian. Dan selama itu pula, guru akan tetap hadir. Bukan hanya sebagai kenangan, melainkan sebagai bagian dari denyut nadi kebudayaan dan kebangsaan Sasak yang tak akan pernah padam.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.