NTB

4 Kejanggalan yang Ditemukan Ayah Brigadir Esco, Yakin Anaknya Dibunuh

Dok. Istimewa
KEMATIAN POLISI - Kolase ayah Brigadir Esco, Samsul Herawasi (kiri) dan prosesi pemakaman Brigadir Esco di Pemakaman Umum Bonjeruk, Lombok Tengah, Senin (25/8/2025).  

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Sinto

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Kasus kematian Brigadir Esco Fasca Rely (29), anggota Intel Polsek Sekotong Lombok Barat terus menjadi perhatian publik. 

Hal tersebut setelah banyaknya kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi di lokasi penemuan jasad hingga kondisi jasad Brigadir Esco yang tidak wajar. 

Hasil autopsi sementara mengungkap adanya tanda-tanda kekerasan akibat benda tumpul pada tubuh, terutama di bagian leher korban. Fakta ini memperkuat dugaan adanya tindak kekerasan sebelum kematian Brigadir Esco.

Ayah Brigadir Esco, Samsul Herawadi (53) saat ditemui Tribun Lombok membocorkan sejumlah kejanggalan yang dutemukannya sebelum dan seseudah penemuan mayat anaknya.

Berikut empat kejanggalan yang ditemukan ayah Brigadir Esco:

1. Ditemukan Bercak Darah di Rumah Brigadir Esco

Samsul menyampaikan, kematian Brigadir Esco sangat janggal sekali terlebih hanya beberapa meter dari rumah almarhum. Saat ke rumah Brigadir Esco setelah tiga hari hilang kontak pada 19 Agustus 2025, Samsul menemukan kejanggalan berupa benda-benda yang menjadi barang bukti. 

"Saat kesana bersama ibu korban untuk menjenguk cucu saya merasa ada keanehan. Lebih-lebih setelah ada hasil olah TKP selanjutnya, ternyata di ruangan itu disimpan barang bukti dan sebagainya. Posisi perasaan saya semakin bingung," jelas Samsul. 

Menurut anggota Satpol PP Lombok Tengah ini, barang bukti tersebut berada di kamar adik ipar Brigadir Esco. Saat itu Samsul mau melaksanakan ibadah shalat Asar di kamar tersebut, ia kemudian diam sejenak dan mundur untuk pindah lokasi ibadah salat. 

Samsul menduga jasad Brigadir Esco sempat disembunyikan di kamar tersebut. Samsul begitu yakin jika dari awal hilangnya ditemukan di TKP dengan leher terjerat, maka tidak mungkin ada keanehan di kamar tersebut. 

Baca juga: Penemuan Mayat Mahasiswi Unram di Pantai Nipah, Polisi Kumpulkan Sejumlah CCTV di Sekitar TKP

"Ada barang bukti kayu yang saya dengar dari kepolisian sudah disita polisi. Yang bikin kaget ada bercak darah di handuk anak korban, handuk cucu saya. Ditemukan di ruangan anak korban yang diduga darah korban. Saya semakin terpukul, kenapa harus di kamar cucu saya," ungkap Samsul.  

2. Adanya Dugaan Mutilasi pada Organ Tubuh

Samsul mengungkapkan, pihaknya sudah menerima informasi dari kepolisian bahwa ada dugaan kekerasan akibat benda tumpul di jasad Brigadir Esco. 

Disampaikan Samsul, dirinya meyakini bahwa ada mutilasi pada organ tubuh Brigadir Esco dimana organ tubuh tersebut hilang. 

"Bisa dikatakan mutilasi. Mungkin potong-potong tidak cuma ada sebagian anggota tubuh, organ tubuh yang hilang," jelas Samsul. 

Lebih lanjut Samsul menegaskan, pihaknya dijanjikan hasil autopsi akan diserahkan kepolisian setelah enam hari penemuan jasad Almarhum. 

Namun, pihaknya mengaku tidak akan diberikan informasi mengenai sidik jari pelaku karena merupakan rahasia kepolisian. Samsul tidak akan diberikan informasi tersebut untuk menekan emosi dari warga. 

"Tapi kalau hasil kalau itu bukan murni bunuh diri bahwa asli itu pembunuhan. Hasil autopsi berikutnya menunggu dari Bareskrim, makanya kita disuruh bersabar," ungkap Samsul. 

3. Brigadir Esco Murni Dibunuh

Samsul menyampaikan, hasil penyelidikan yang pihaknya terima dari kepolisian adalah kematian Brigadir Esco murni pembunuhan. 

Disampaikan Samsul, tanpa autopsi, tanpa olah TKP kalah dilihat dari kondisi tapi yang menjerat leher korban, ia menilai, anak kecil sekaliun akan tahu bahwa itu bukan bunuh diri. 

"Hasil investigasi termasuk dari letting-letting dari almarhum, kita selalu bertanya bagaimana perkembangan selanjutnya," jelas Samsul. 

"Pertanyaan-pertanyaan setiap hari saya terima. Bagaimana tindak lanjut? Sudahkah polisi bisa bertindak cepat? Kalau memang hal itu tidak, mari kita yang maju. Jadi emosi membludak. Masyarakat dan keluarga sudah memuncak," jelas Samsul. 

Samsul menyampaikan, melihat kondisi jasad Brigadir Esco ketika dilihat di RS Bhayangkara cukup mengenaskan hingga empat hari pasca penemuan jenazah pihaknya menutup diri dari publik karena merasa sangat berat untuk berbicara. 

Sementara tamu-tamu yang melayat pertanyaan-pertanyaannya adalah kecurigaan dan berbagai rentetan peristiwa yang janggal terhadap kematian korban. 

"Maka masyarakat fokus mencari saya untuk bagaimana kejadian yang sebenarnya. Alhamdulillah sampai dengan hari ini bagaimanapun kita harus terima apapun yang terjadi," terang Samsul. 

4. Keluarga Tertekan 

Samsul mengaku dia sangat terpukul. Ia hanya untuk beli rokok ke pasar, dirinya langsung mendapatkan banyak pertanyaan dari warga. Terlebih setelah viral di media sosial bahwa terduga pelaku adalah orang dekat korban. 

"Ndak berani saya lihat, ndak berani buka hape. Mencurigai orang dekat. Saat keluar beli rokok kepasar ada 5-6 orang lebih yang menanyakan. Cuma yang bikin-bikin, kok bisa-bisanya jika memang seperti itu," sebut Samsul. 

"Apa iya? mungkinkah? Tegakah? Atau mungkin orang luar yang berbuat, itu yang menjadi pikiran kita bingung. Iyalah? Mungkinkah? Kenapa? Kalau memang bukan orang interen dalam rumah itu, mungkinkah? Tapi kalau memang harus orang dalam, begitu tegakah?" sambung Samsul. 

5. Hasil Penyelidikan Sementara

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), Kombes Pol Syarif Hidayat mengatakan, korban diduga bukan tewas karena bunuh diri melainkan penganiayaan yang berujung meninggal dunia. 

Hal ini berdasarkan hasil autopsi jenazah Brigadir Esco, di mana ditemukan luka di sekujur tubuh akibat kekerasan. 

"Ada dugaan kekerasan, iya (penganiayaan) mengakibatkan meninggal dunia," kata Syarif, Jumat, (29/8/2025). 

Terkait dugaan pembunuhan berencana, Syarif mengatakan pihaknya masih mendalami terkait hal tersebut. 

"Masih kita dalami, karena kita masih penyelidikan ini. Yang pasti kita akan maksimal mengungkap kasus ini," kata mantan Wakapolres Mataram itu.

Untuk mengungkap kasus kematian janggal anggota Polsek Sekotong ini juga, polisi sudah memeriksa 23 orang saksi termasuk istri dan mertua dari Brigadir Esco. 

Syarif juga mengatakan, pihaknya menggandeng Bareskrim Polri untuk mengungkap isi handphone Brigadir Esco, di mana itu ditemukan di saku saat olah tempat kejadian perkara (TKP) berlangsung. 

"Mudah-mudahan itu ada titik terang, apa yang kami temukan di rumah korban itu ada hasilnya," kata Syarif. 

(*)