Opini

In Memoriam H. Lalu Nasib AR: Orang Sasak Terbaik

Segala penghormatan tidaklah cukup hanya berupa ucapan belasungkawa. Perlu ada permenungan mendalam

Editor: Laelatunniam
ISTIMEWA
LALU NASIB WAFAT - Kabar duka datang dari dunia seni dan budaya NTB. Dalang senior wayang Sasak, Lalu Nasib, meninggal dunia pada Jumat, 29 Agustus 2025. 

Melalui Penginang Robek, dramaturgi Sasak menemukan artikulasinya sendiri dalam sejarah kesenian Nusantara, bahkan dunia.

Dengan kata lain, jika ingin mengilmukan drama Sasak, maka sumber utama adalah Penginang Robek dan drama Amaq Abir. Berdasarkan Penginang Robek, dapat disusun struktur drama yang bisa disebut sebagai dramaturgi Sasak yang mencirikan kelainan dalam banyak elemen dengan dramturgi  Nusantara, Asia, termasuk Barat.

Kelainan itu tak berarti tidak ada pengaruh dari benua lain, namun ia lebih kepada penekanan bahwa dalam Penginang Robek dapat dijumpai gagasan kreatif dan penciptaan yang disusun dari jelajah kesasakan yang luas, yang selama ini bisa dijangkau oleh Lalu Nasip.

Jika dramaturgi Sasak menemukan tonggaknya dalam Penginang Robek, maka musikologi Sasak mendapatkan pondasinya dalam Cibane. Saya selalu menegaskan, jika hendak menelusuri musikologi Sasak, mulailah dari Cibane karya Lalu Nasip.

Jika berangkat dari karya musik lain, saya menduga besar potensi kekeliruan dalam membangun epistemologi tentang musik Sasak. Cibane adalah jalan tengah yang unik, sebuah karya yang mampu mengolah pengaruh besar Barat dan Timur tanpa kehilangan akar keaslian Sasak. Barat di sini bukan Eropa dan Amerika, melainkan Islam yang memberi nuansa religius dan spiritual dalam tradisi musik, sementara Timur yang dimaksud adalah budaya Bugis-Sulawesi yang turut hadir dalam sejarah interaksi masyarakat Sasak.

Lalu Nasip, dengan kepekaan artistiknya, tidak menempatkan pengaruh-pengaruh itu sebagai beban, tetapi sebagai bahan olahan yang ditransformasikan. Hasilnya adalah musik yang sepenuhnya terasa sebagai karya Sasak, namun sekaligus memuat kompleksitas interaksi budaya.

Dalam Cibane, terdengar getaran orisinalitas yang begitu kental, menjadikannya sahih disebut sebagai musik asli Sasak dibandingkan dengan yang lain. Bukan hanya sekadar komposisi musikal, tetapi juga sebuah epistemologi musikal, titik mula yang menentukan arah perkembangan studi musik Sasak di masa depan.

Karya besar ketiga, Wayang Sasak, memperlihatkan dengan sangat jelas betapa Lalu Nasip adalah seorang pencipta yang tidak sekadar melestarikan, tetapi juga mereinvensi. Jika dibandingkan dengan semua jenis wayang di Indonesia, perbedaan Wayang Sasak karya Lalu Nasip tampak sangat mencolok. Hampir dapat dikatakan tidak ada kemiripan yang berarti dengan wayang-wayang dari Jawa maupun Bali.

Justru yang paling dekat adalah dengan Wayang Kelantan di Malaysia. Namun sekali lagi, penting ditekankan bahwa Lalu Nasip tidak pernah berhubungan dengan tradisi Wayang Kelantan. Ia menciptakan Wayang Sasak dari ruang imajinasi dan kosmos budaya Sasak sendiri. Bahwa kemudian ada persamaan yang tampak, itu justru menegaskan bahwa kesenian Nusantara memiliki resonansi yang melampaui batas politik-geografis, dan Lalu Nasip berhasil mengolahnya tanpa harus menyalin.

Wayang Sasak miliknya adalah bentuk penciptaan murni. Berbeda dari semua wayang yang ada. Karena itu, wayang Sasak memperlihatkan bahwa Sasak memiliki jalannya sendiri dalam dunia pewayangan. Reinvensi yang dilakukan Lalu Nasip ini bukan hanya membanggakan secara estetis, tetapi juga strategis secara kultural.

Sebab ia meneguhkan posisi Sasak sebagai pemilik tradisi yang unik dan tidak bisa disubordinasikan di bawah hegemoni kesenian lain. Termasuk Bali yang selama ini selalu diasosiasikan sebagai representasi kesenian Lombok.

Melaui Wayang Sasak dapat dibangun satu kerangka teoretik tentang reinvensi ala Sasak. Tentu saja Lalu Nasip telah meninggalkan formulasi tersebut yang bisa dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dirujuk sebagai teori penciptaan baru. Baik dari segi konsep mau metode penciptaan karya seni atau karya kebudayaan lain di tengah orang Sasak.

Ketiga karya besar tersebut meneguhkan satu hal yang selama ini sumir di tengah perdebatan kaum terpelajar bahwa ada kesenian Sasak yang asli. Keaslian di sini bukan berarti terisolasi dari dunia luar. Melainkan sesuatu yang berakar kuat dalam kearifan Sasak dengan hanya sedikit sekali pengaruh luar yang masuk. Inilah warisan Lalu Nasip yang paling berharga. Beliau memperlihatkan kepada kita bagaimana suatu kesenian dapat dicipta dengan berpijak pada tradisi sendiri, namun tetap mampu berbicara dalam bahasa universal seni.

Tidak banyak seniman yang mampu mencapai titik itu, sebab kebanyakan terjebak antara dua ekstrem yaitu 1) terkungkung dalam tradisi yang beku atau 2) hanyut dalam imitasi kebudayaan asing. Lalu Nasip berhasil mengambil jalan tengah yakni sebuah penciptaan yang orisinal, berakar pada kosmos Sasak, sekaligus terbuka untuk dibaca dalam horizon global.

Kedudukan Lalu Nasip dalam peradaban Sasak dapat disejajarkan dengan para Tuan Guru. Jika Tuan Guru meninggalkan pesantren sebagai basis peradaban Sasak, maka Lalu Nasip meninggalkan daya cipta dan ilham khas Sasak sebagai landasan lain bagi peradaban tersebut.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved