Opini
Program 'NGOPI' di UIN Mataram: Ilmuwan Populis atau Ilmuwan Publik
Integritas keilmuan dan keberanian moral adalah mata uang yang paling berharga bagi seorang intelektual.
Prinsip pertama adalah kesetiaan mutlak pada kompleksitas masalah yang sedang dihadapi. Ilmuwan publik menolak segala bentuk simplifikasi berlebihan yang menyesatkan pemahaman masyarakat.
Figur ini bersedia meluangkan waktu untuk menjelaskan bahwa satu masalah sosial bisa memiliki banyak penyebab yang saling berkaitan. Solusi atas permasalahan tersebut tidak selalu tunggal atau mudah dilakukan. Ketidakpastian dijelaskan sebagai bagian sah dan tak terpisahkan dari proses produksi pengetahuan.
Sikap jujur ini seringkali menjadi tidak populer di ruang publik yang sangat haus akan kepastian instan. Ujian etika keilmuan justru terletak pada keteguhan hati untuk mempertahankan penjelasan yang utuh dan rumit tersebut demi menjaga marwah kebenaran.
Prinsip kedua menuntut keberanian mental untuk tidak disukai oleh khalayak ramai. Ilmuwan publik tidak mengukur keberhasilan kerja intelektual dari jumlah pengikut di media sosial atau tingkat viralitas konten. Intelektual publik harus memiliki kesiapan mental untuk disalahpahami oleh banyak orang.
Serangan verbal atau bahkan pengabaian dari publik harus dihadapi dengan ketenangan selama hal yang disampaikannya jujur secara intelektual. Sosok ini tidak memosisikan diri sebagai pahlawan rakyat yang selalu benar dan suci.
Posisi yang diambil secara sadar adalah sebagai pengganggu nalar mapan yang seringkali penuh dengan bias dan kesesatan berpikir. Integritas kebenaran menjadi prioritas utama di atas penerimaan sosial yang bersifat sementara.
Prinsip ketiga berkaitan dengan penjagaan jarak kritis dari pusat kekuasaan dan dari kerumunan massa. Ilmuwan profesional yang bekerja di dalam sistem seringkali berada terlalu dekat dengan kepentingan negara atau mekanisme pasar.
Sebaliknya para ilmuwan populis justru berada terlalu dekat dengan emosi dan kemarahan publik. Ilmuwan publik wajib menjaga otonomi dengan mengambil jarak yang proporsional dari kedua kutub tersebut. Figur ini mengkritik kekuasaan negara tanpa menjadi alat oposisi emosional bagi kelompok tertentu.
Sang intelektual juga berbicara kepada rakyat tanpa pernah mengklaim berbicara atas nama seluruh rakyat. Sikap independen dan otonom ini mutlak diperlukan untuk menjaga objektivitas pandangan agar tidak bias kepentingan.
Prinsip keempat adalah transparansi epistemik yang menjadi landasan pertanggungjawaban publik. Ilmuwan publik berkewajiban menjelaskan basis argumen yang dibangunnya secara terbuka.
Penjelasan tersebut mencakup data apa yang dipakai sebagai rujukan serta asumsi dasar apa yang diambil dalam analisis. Batas pengetahuan yang dimiliki juga disampaikan secara jujur kepada audiens. Pernyataan mengenai kemungkinan adanya kesalahan dalam analisis bukan merupakan tanda kelemahan intelektual.
Pengakuan akan keterbatasan tersebut justru menjadi fondasi etika yang memperkuat kredibilitas sang ilmuwan. Publik diajak masuk ke dalam proses berpikir yang dialektis dan tidak hanya disuguhi kesimpulan akhir yang dogmatis. Cara ini mendidik masyarakat untuk memahami bagaimana sebuah pengetahuan diproduksi dan diuji kebenarannya.
Prinsip kelima menekankan orientasi pada pembebasan kesadaran dan menolak mobilisasi massa untuk kepentingan pragmatis. Tujuan akhir dari kerja ilmuwan publik adalah memampukan publik untuk berpikir secara mandiri dan otonom.
Figur ini tidak bertujuan sekadar menggerakkan massa untuk melakukan aksi tanpa dasar pemikiran yang kuat. Sang intelektual tidak memproduksi kemarahan kolektif yang destruktif. Dorongan utama diarahkan pada refleksi kolektif yang mendalam dan konstruktif. Upaya yang dilakukan tidak memperkeras identitas kelompok yang eksklusif. Ruang dialog justru dibuka seluas mungkin untuk mencapai pemahaman bersama yang lebih mendalam dan substantif di antara berbagai elemen masyarakat.
Saya berpandangan, program diskusi seperti "Ngopi" di UIN Mataram harus menjadi arena pembuktian bagi penerapan prinsip-prinsip tersebut. Forum ini idealnya tidak sekadar menjadi panggung bagi selebritas akademik untuk mendulang tepuk tangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Salman-Faris-Baru.jpg)