Opini
Program 'NGOPI' di UIN Mataram: Ilmuwan Populis atau Ilmuwan Publik
Integritas keilmuan dan keberanian moral adalah mata uang yang paling berharga bagi seorang intelektual.
Oleh: Salman Faris
Saya menyambut dengan sangat antusias di langit harapan program “Ngopi”: Ngobrol Para Ilmuwan yang digagas oleh LP2M UIN Mataram. Saya ada kepercayaan, ini tidak lepas dari Prof. Kadri, selaku ketua lembaga. Saya sangat mengenal sahabat saya ini sebagai ilmuwan yang menyukai konsep dialog ilmiah berkonsepkan apa yang ditawarkan oleh program “Ngopi”.
Tulisan saya ini tidak untuk meragukan konsistensi program tersebut. Jika ada keraguan, mungkin karena disebabkan oleh penggeraknya adalah aparatur negara, yang segala kegiatan hanya bisa bertumpu pada anggaran pemerintah. Ada dan lambatnya kegiatan, bergantung sepenuhnya dari anggaran.
Kalau kita membuka kembali sejarah perkembangan pemikiran, hampir sepenuhnya (ada juga yang dikelola oleh negara) digerakkan kelompok yang tidak bergantung kepada negara. Dengan kata, diskui ilmiah memang tidak bisa dikelola secara baik oleh siapa pun yang berwatak birokratis.
Namum sekali lagi, saya tidak untuk meragukan. Tulisan saya ini hanya untuk mengingatkan bahwa program “Ngopi” sangat baik dan wajib didukung. Karena itu, tulisan saya ingin lebih bertumpu dan menegaskan pada harapan agar setiap perbincangan yang dilakukan, seharusnya mengasaskan diri pada penguatan epistemologi. Sebab dengan begitulah ilmu pengetahuan dapat berkembang. Tentu saja, kemandekan ilmu pengetahuan sama saja dengan pembodohan.
Fenomena populisme ilmuwan dalam lanskap akademik kontemporer merupakan sebuah gejala yang memikat sekaligus menyimpan problematika mendasar. Gejala ini menampakkan diri ketika para ilmuwan atau akademisi mulai menggeser posisi fundamental mereka dalam struktur sosial dan intelektual.
Para cendekiawan tersebut tidak lagi menempatkan diri sebagai pencari kebenaran atau penguji pengetahuan yang bekerja secara kritis dan ketat.
Fokus utama para akademisi ini berubah menjadi upaya memosisikan diri sebagai figur publik yang membangun kedekatan emosional dengan massa. Strategi yang digunakan seringkali melibatkan penyederhanaan masalah secara berlebihan serta penggunaan retorika moral yang memukau.
Klaim keberpihakan simbolik kepada rakyat juga kerap digunakan sebagai instrumen utama untuk meraih simpati luas. Pergeseran orientasi ini mengubah wajah ilmu pengetahuan dari sesuatu yang seharusnya objektif menjadi alat retorika untuk konsumsi populer.
Baca juga: Kupas Isu Strategis NTB, UIN dan Tribun Lombok Gelar Ngopi Bereng Ilmuwan
Terdapat beberapa gagasan kunci yang sangat penting untuk didalami guna memahami fenomena pergeseran peran intelektual ini secara komprehensif. Poin pertama berkaitan erat dengan asal usul kelahiran populisme ilmuwan yang berakar dari krisis otoritas pengetahuan itu sendiri.
Era media sosial dan kapitalisme atensi saat ini telah mengubah parameter penilaian terhadap validitas suatu pengetahuan. Kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan ketelitian metodologis atau kekuatan argumentasi yang dapat diuji falsifikasinya.
Indikator utama kebenaran telah beralih pada tingkat viralitas serta keterjangkauan akses dan kemampuan sebuah narasi untuk mengafirmasi perasaan publik. Ilmuwan yang memiliki hasrat besar untuk didengar oleh khalayak luas merasa terdorong untuk melakukan penyesuaian radikal.
Penyesuaian tersebut mencakup penyederhanaan bahasa serta perubahan posisi dan modifikasi kesimpulan agar selaras dengan selera massa. Kebenaran ilmiah pada titik ini mulai dinegosiasikan dengan tuntutan popularitas.
Poin kedua menyoroti watak populisme ilmuwan yang seringkali menyamar di balik jubah demokratisasi ilmu pengetahuan. Upaya membawa ilmu pengetahuan ke hadapan publik secara normatif memang merupakan cita-cita yang luhur dan mulia. Praktik populisme dalam realitasnya justru menampilkan proses reduksi kompleksitas dan gagal melakukan pembukaan wawasan yang mendalam bagi masyarakat. Teori-teori yang rumit diperas habis-habisan hingga menjadi slogan yang dangkal.
Data empiris yang seharusnya menjadi landasan analisis berubah fungsi menjadi sekadar opini subjektif. Kritik struktural yang tajam berganti dengan narasi hitam putih yang mempertentangkan kelompok ilmuwan jujur melawan elite jahat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Salman-Faris-Baru.jpg)