Opini
Program 'NGOPI' di UIN Mataram: Ilmuwan Populis atau Ilmuwan Publik
Integritas keilmuan dan keberanian moral adalah mata uang yang paling berharga bagi seorang intelektual.
Perubahan ini menjadikan ilmuwan berfungsi sebagai juru bicara moral semata. Peran vital sebagai analis yang objektif dan kritis akhirnya ditinggalkan demi menjaga narasi yang disukai pengikut.
Poin ketiga menegaskan bahaya laten dari populisme ilmuwan karena gerakan ini secara sistematis merusak etos skeptisisme ilmiah. Ilmu pengetahuan secara alamiah bertumbuh dan berkembang melalui proses keraguan yang terus menerus serta koreksi dan penerimaan atas ketidakpastian.
Watak dasar populisme justru menuntut adanya kepastian yang cepat serta posisi yang tegas dan keberpihakan emosional yang mutlak. Ilmuwan yang menunjukkan keraguan dalam analisisnya seringkali dianggap sebagai sosok yang lemah atau tidak kompeten.
Pemikiran yang nuansial dan penuh pertimbangan dianggap sebagai bentuk ketidakberpihakan atau kompromi. Kondisi ini menciptakan tekanan simbolik yang kuat agar ilmuwan segera memihak pada satu kubu sebelum proses berpikir tuntas dilakukan. Proses verifikasi yang ketat dan disiplin berpikir akhirnya terabaikan demi memenuhi tuntutan massa akan kepastian semu.
Poin keempat melihat konteks politik dan budaya pascakolonial seperti yang terjadi di Indonesia atau kawasan Asia Tenggara pada umumnya. Populisme ilmuwan di wilayah ini seringkali berkelindan erat dengan sentimen nasionalisme kultural yang pekat.
Ilmuwan tampil di panggung publik sebagai pembela identitas lokal yang gigih melawan hegemoni Barat atau arus globalisasi dan neoliberalisme. Sikap heroik ini seringkali muncul tanpa disertai refleksi kritis bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri menuntut keterbukaan serta verifikasi lintas batas dan dialog universal. Kritik yang sah dan rasional berubah wujud menjadi romantisisme budaya yang menutup diri dari kritik luar.
Namun demikian pandangan terhadap populisme ilmuwan ini tidak sepenuhnya bernada negatif tanpa celah. Fenomena ini juga menandai adanya kegagalan institusi akademik yang selama ini terlalu elitis dan tertutup.
Universitas yang berjarak dari penderitaan sosial menciptakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh figur ilmuwan populis. Populisme ilmuwan dengan demikian dapat dibaca sebagai simptom atau gejala dari hilangnya fungsi publik universitas.
Posisi etis yang lebih sehat dan bermartabat menurut pandangan saya adalah menjadi ilmuwan publik. Pilihan ini jauh lebih mulia dibandingkan menjadi ilmuwan populis yang hanya mengejar tepuk tangan. Ilmuwan publik berbicara kepada masyarakat luas tanpa sedikitpun mengorbankan kompleksitas masalah yang sedang dibahas.
Sosok ini memiliki keberanian untuk mengatakan ketidaktahuannya secara jujur di hadapan publik. Godaan popularitas yang seringkali menumpulkan daya kritis ditolak dengan tegas oleh figur semacam ini.
Kehadiran ilmuwan publik di tengah masyarakat bertujuan utama untuk mengganggu kenyamanan berpikir yang mapan dan membekukan nalar. Tujuan kehadiran sang intelektual bukanlah untuk dicintai atau dipuja oleh massa. Figur tersebut memegang teguh posisi moral dan intelektual di tengah masyarakat tanpa menanggalkan disiplin berpikir yang ketat.
Ilmuwan publik menolak menukar kompleksitas kebenaran dengan tepuk tangan persetujuan. Massa tidak pernah dijadikan sebagai sumber legitimasi kebenaran bagi pemikiran yang disampaikan.
Ilmuwan publik memiliki perbedaan karakter yang sangat mendasar jika disandingkan dengan ilmuwan populis. Figur intelektual publik sama sekali tidak mengejar kedekatan emosional yang manipulatif dengan audiens.
Fokus utama kerja intelektual sang ilmuwan adalah membangun kedewasaan nalar publik secara bertahap dan konsisten. Sosok ini berbicara dan menulis agar masyarakat terbiasa berpikir kritis dan mendalam.
Tujuannya bukan agar masyarakat merasa dibenarkan atas prasangka atau emosi yang mereka miliki. Terdapat beberapa prinsip kunci dalam mengemban peran sebagai ilmuwan publik yang berintegritas. Prinsip-prinsip ini menjadi benteng pertahanan agar sang ilmuwan tidak tergelincir menjadi demagog yang hanya memuaskan hasrat massa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Salman-Faris-Baru.jpg)