Opini
Ketika Gaza Plan Memaksa Hamas Menjadi Lebih Realistis
Dalam situasi inilah, menurut saya, Hamas mulai menimbang kembali makna perjuangan bersenjatanya apakah masih realistis untuk dilanjutkan.
Sementara dalam jangka menengah, prospek perdamaian akan bergantung pada dinamika hubungan antara Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Suriah.
Jika Washington dan Tel Aviv berhasil menormalisasi hubungan dengan Teheran dan Damaskus, maka Hamas akan kehilangan dua sumber dukungan historisnya.
Dalam kondisi seperti itu, pilihan logis bagi Hamas adalah beradaptasi menjadi kekuatan politik moderat yang menempuh jalur diplomasi sebagaimana penguasa Ramallah yaitu kelompok Fatah atau Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini atau Gerakan Nasional Pembebasan Palestina yang didirikan Yaser Arafat pada 1958, demi mempertahankan keberadaannya di Gaza.
Namun jika situasi sebaliknya terjadi di mana Iran semakin terpojok dan konflik regional justru semakin memanas, bukan tidak mungkin Teheran akan kembali menghidupkan dukungannya kepada Hamas dan Hizbullah di Libanon sebagai instrumen krusial dalam memberikan tekanan kepada Barat.
Dalam skenario ini, Gaza Plan akan sangat berpotensi untuk mandek, dan konflik bersenjata diperkirakan bisa muncul kembali.
Singkat kata, masa depan Gaza Plan tidak hanya ditentukan oleh Hamas atau Israel, melainkan juga oleh seluruh lanskap geopolitik Timur Tengah.
Rencana Trump mungkin berhasil membuka pintu pertama menuju proses de-eskalasi, tetapi apakah pintu itu akan tetap terbuka atau tertutup kembali sangat bergantung pada seberapa jauh para aktor-aktor besar di kawasan ini bersedia untuk berkompromi.
Apa pun hasil akhirnya, dalam hemat saya, penerimaan Hamas atas sebagian isi Gaza Plan adalah momentum penting yang perlu disyukuri. Penerimaan ini menandai titik balik dalam perjalanan panjang konflik Israel-Palestina, dari resistensi total menuju realisme politik yang penuh perhitungan.
Barangkali perdamaian sejati masih jauh di ujung jalan sana, tetapi setidaknya kini ada tanda-tanda bahwa jalan itu mulai terbuka.
Dan yang paling penting saat ini, bagi rakyat Gaza yang telah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang perang sehingga sangat menderita, hal ini sudah cukup untuk menyalakan kembali harapan mereka.
Karena bukankah perang sesungguhnya adalah aksi saling beli kekerasan yang tidak akan mengakhiri apa pun.
| Ketika Angka Ketimpangan Gender Turun, Mengapa Perempuan NTB Masih Tertinggal? |
|
|---|
| Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian |
|
|---|
| Insentif Kendaraan Listrik : Dari Kebijakan Nasional ke Praktik Daerah |
|
|---|
| Daycare dan Luka yang Tak Terlihat: Adakah yang Gagal pada Pedagogi Kita? |
|
|---|
| NTB Kunci Teluk Saleh: Wisata Tumbuh, Ekologi Tetap Lestari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Jannus-TH-Siahaan.jpg)