Kamis, 28 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Ketika Gaza Plan Memaksa Hamas Menjadi Lebih Realistis

Dalam situasi inilah, menurut saya, Hamas mulai menimbang kembali makna perjuangan bersenjatanya apakah masih realistis untuk dilanjutkan.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
Dok.Istimewa
Penulisa merupakan Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan 

Dalam perhitungan Hamas, kehilangan kekuatan militer berarti kehilangan satu-satunya kartu tawar yang tersisa di hadapan Israel dan Amerika. 

Di sisi lain, Hamas juga  memahami bahwa mempertahankan kekuatan dan aksi bersenjata sepenuhnya akan membuat mereka terus menjadi sasaran utama dari serangan Israel

Karena itu, dalam pandangan saya, Hamas akhirnya memilih jalan tengah, yakni menerima poin-poin awal yang bersifat kemanusiaan dan administratif, tetapi menahan diri untuk tidak menyetujui langkah strategis yang mengakhiri peran militernya di Gaza itu.

Di atas kertas, penerimaan ini memang tampak terbatas. Namun secara politis, langkah tersebut sebenanrnya merupakan terobosan besar. 

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, Hamas secara resmi menandatangani dokumen internasional yang difasilitasi Amerika Serikat, dan menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dalam pembentukan otoritas sipil baru di Gaza. 

Sementara itu, Bagi Presiden Trump, ini adalah kemenangan diplomatik luar biasa besar yang bisa diklaim sebagai bukti keberhasilan “pendekatan keras” namun realistis terhadap konflik di Timur Tengah.

Namun, prospek perdamaian jangka panjang di kawasan yang diapit oleh Israel dan Laut Mediterania, serta berbatasan langsung dengan Mesir ini masih jauh dari pasti. Hamas memang telah menerima kesepakatan soal sandera dan pembentukan otoritas teknokratik di Gaza, tetapi belum ada jaminan bahwa Hamas benar-benar akan menyerahkan kendali keamanan di sana. 

Sepengetahuan saya, struktur militer Hamas masih eksis dalam bentuk yang lebih tersembunyi dan dapat dengan cepat aktif kembali jika situasi berubah. 

Israel pun sangat menyadari hal ini, sehingga memaknai persetujuan Hamas dengan sangat hati-hati, bahkan penuh kecurigaan.

Tapi yang lebih penting dari itu, bagi rakyat Gaza, penerimaan sebagian Gaza Plan ini memberi jeda yang sangat berarti. 

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar mulai mengalir masuk melalui jalur Rafah dan Ashdod. Rumah sakit yang sebelumnya lumpuh kini kembali beroperasi, meski dengan kapasitas terbatas. Anak-anak yang kehilangan rumah kini memiliki tenda darurat yang layak. 

Dalam konteks kemanusiaan, inilah secercah harapan pertama bagi kawasan pantai timur Laut Tengah setelah bertahun-tahun dalam kegelapan.

Namun, tak dipungkiri bahwa semua ini masih bersifat sementara. Tanpa penyelesaian politik yang menyeluruh, jeda kemanusiaan ini bisa berakhir sewaktu-waktu. Karena dalam pandangan saya, Hamas sendiri nampaknya masih menghadapi dilema eksistensial, apakah akan bertransformasi menjadi kekuatan politik murni, atau tetap mempertahankan identitas militan yang menjadi inti ideologinya sejak pertama kali berdiri pada 1987? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Gaza benar-benar akan bisa keluar dari siklus kekerasan.

Dalam jangka pendek, situasi di Gaza berkemungkinan besar akan relatif tenang. Kedua pihak memiliki alasan kuat untuk menahan diri. Hamas akan menahan diri karena sudah kehilangan daya gempur dan energi perlawanan.
 
Sementara Israel akan berusaha menahan diri karena tekanan internasional yang terus meningkat, terutama soal bantuan kemanusiaan yang terblokade untuk masuk ke wilayah Gaza. 

Amerika Serikat juga berkepentingan untuk menjaga momentum ini, terutama menjelang pemilihan presiden mendatang, agar Donald John Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 dan ke-47 tetap bisa mengklaim keberhasilan diplomatik besar di Timur Tengah tersebut untuk keberlanjutan kepemimpinan dari Partai Republik.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved