Minggu, 31 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Warkop, Budaya Pop, dan Tantangan Kaderisasi PMII

Warkop menjadi salah satu ruang sosial penting yang membentuk pola interaksi dan kehidupan kolektif kaum muda.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
Istimewa
Lalu Suparman Ambakti. Penulis mrupakan Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mataram. 

Oleh: Lalu Suparman Ambakti (Gde Upar)

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tulisan ini berangkat dari pengalaman keseharian penulis yang aktif nongkrong sekaligus bekerja di sejumlah warung kopi di Kota Mataram. Warung kopi, yang dikenal dengan istilah Warkop, selama ini dipahami sebatas tempat singgah dan minum kopi. Namun, saat ini menjelma menjadi ruang sosial yang hidup dan dinamis. Di ruang inilah, penulis menyaksikan lalu-lalang beragam latar sosial, ada pekerja kantoran, mahasiswa, buruh informal, hingga mereka yang sekadar mengisi waktu luang.

Dalam konteks tersebut, Warkop tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang kultural. Ia menjadi arena perjumpaan berbagai praktik kehidupan sehari-hari, termasuk cara masyarakat khususnya kaum muda mengelola waktu luang, hiburan, dan kesenangan.

Popularitas Warkop di Mataram yang kian meluas menjadikannya ruang yang relevan untuk membaca perubahan pola hidup dan orientasi generasi muda di tengah arus budaya populer yang semakin dominan.

Dari keseluruhan potret yang tampak di Warkop, kelompok yang paling menonjol dan paling aktif adalah kaum muda, khususnya Generasi Z. Mereka mendominasi hampir seluruh jam operasional Warkop, mulai dari pagi, sore, hingga larut malam. Aktivitas mereka beragam, seperti, antara lain, bertemu teman sebaya, mengerjakan tugas, bermain gim, atau sekadar berbincang santai.

Dari semua aktivitas itu, ada satu hal yang harus digarisbawahi yaitu intensitas nongkrong yang telah menjadi bagian dari gaya hidup kaum muda. Karena, nongkrong bukan lagi aktivitas sambilan, melainkan praktik keseharian yang membentuk cara mereka berelasi, berpikir, dan memaknai dunia.

Di meja-meja kopi itulah berbagai percakapan berlangsung. Percakapan tersebut jarang berkutat pada isu-isu ideologis atau wacana serius sebagaimana sering diasumsikan oleh organisasi kepemudaan. Sementara, topik yang dominan justru berkaitan dengan kesenangan budaya pop, seperti, antara lain, musik trendy, potongan video TikTok, meme viral, gim online, film dan serial, hingga gosip selebritas dan isu politik populer yang beredar di media sosial. Di sinilah, Warkop menjadi ruang tempat budaya pop diproduksi, dikonsumsi, dan dipertukarkan secara berulang dalam praktik keseharian kaum muda.

Baca juga: IKA PMII Bima Desak KemenpanRB Cabut Surat Edaran Penundaan Pengangkatan CPNS dan PPPK

Fenomena ini menegaskan bahwa kaum muda hari ini bukan sekadar konsumen pasif budaya pop, melainkan pelaku aktifnya. Mereka memilih, memilah, dan memberi makna atas simbol-simbol budaya populer sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan mereka. Nongkrong di Warkop dapat dibaca sebagai praktik kultural, yaitu ruang informal tempat identitas, selera, solidaritas, dan preferensi sosial dibentuk di luar mekanisme formal.

Di sinilah letak persoalan sekaligus tantangan bagi organisasi kepemudaan, salah satunya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selama ini, PMII cenderung memahami gerakan dan kaderisasi sebagai aktivitas yang berlangsung di ruang-ruang formal organisasi. Padahal, ruang pembentukan orientasi sosial kaum muda kini bergeser ke luar struktur organisasi, terutama ke Warkop, media sosial, dan praktik budaya pop yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, jika PMII Kota Mataram ingin tetap terhubung dan memiliki daya hidup di tengah generasi muda hari ini, organisasi ini tidak bisa bersikap abai terhadap ruang-ruang kesenangan tersebut. Terlebih, dalam satu dekade terakhir, keberadaan dan perkembangan ruang-ruang publik populer di Kota Mataram tumbuh secara masif dan signifikan sebagai bagian dari upaya pemerintah kota mendorong partisipasi serta aktivitas positif kalangan anak muda. Dalam konteks ini, Warkop menjadi salah satu ruang sosial penting yang membentuk pola interaksi dan kehidupan kolektif kaum muda.

Di ruang inilah kaum muda berkumpul, membangun jejaring, membentuk selera, dan secara tidak langsung menegosiasikan nilai-nilai yang membingkai kehidupan sosial mereka. Mengabaikan ruang-ruang tersebut berarti membiarkan proses pembentukan orientasi sosial kaum muda berlangsung sepenuhnya di luar jangkauan organisasi. Dengan kata lain, masa depan gerakan PMII tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat narasi ideologis yang dibangun di ruang formal, tetapi juga oleh sejauh mana organisasi mampu membaca, hadir, dan berdialog dengan praktik keseharian kaum muda di medan budaya pop, sebuah medan yang hari ini justru menjadi rumah utama bagi kaum muda.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved