Rabu, 3 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Di Balik Narasi APBN yang Selalu 'Sehat dan Terkendali'

Narasi disiapkan sebelum data dilepas ke publik. Bingkai sudah terpasang sebelum foto dipajang.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM
Jannus TH Siahaan merupakan Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik dan internasional. Pernah berprofesi sebagai wartawan dan bekerja di industri pertambangan. (Foto diedit menggunakan Gemini AI). 

Semua kalimat itu bisa jadi memang akurat. Persoalan yang muncul justru terletak pada urutan penyampaiannya. Dalam transparansi fiskal yang sejati, data dibiarkan berbicara lebih dulu. Setelahnya, pemerintah menjelaskan dan mempertanggungjawabkan. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Narasi disiapkan sebelum data dilepas ke publik. Bingkai sudah terpasang sebelum foto dipajang.

Pasar dan investor membaca pola ini dengan kepekaan yang berbeda dari pembaca awam. Lembaga pemeringkat seperti S&P, Moody's, dan Fitch tidak hanya melihat angka realisasi APBN, tetapi juga reliabilitas dan keteraturan publikasinya sebagai variabel kualitas tata kelola fiskal. Investor obligasi negara, baik domestik maupun asing, memantau jadwal rilis sebagai indikator seberapa percaya diri pemerintah terhadap datanya sendiri.

Manakala jadwal berubah dan dokumen ditarik tanpa penjelasan yang dapat diverifikasi, sinyal yang ditangkap pasar melampaui sekadar persoalan inkonsistensi administratif. Yang terbaca adalah adanya keinginan untuk mengontrol cara informasi sampai ke pasar. Dari padanya, dalam dunia investasi global, kontrol berlebihan terhadap aliran informasi justru memperbesar premi risiko alih-alih memperkecilnya.

Sepanjang sebagian besar periode 2015 hingga 2024, APBN KiTa dirilis dengan jadwal yang nyaris seperti jam. Realisasi bulan tertentu dipublikasikan pada bulan berikutnya, dengan konferensi pers yang menjadi acara rutin tanpa drama. Konsistensi itulah yang membuat Indonesia dipercaya pasar global, bahkan ketika fundamental ekonominya tidak selalu paling kuat di antara sesama negara berkembang di kawasan.

Kepercayaan itu tidak dibangun dari narasi yang sempurna pada hari rilis. Ia dibangun dari prediktabilitas. Dari keyakinan bahwa angka yang keluar adalah angka yang sebenarnya, dan tidak diseleksi waktunya agar lebih mudah diterima.

Defisit April yang menyusut ke Rp 164,4 triliun memang kabar yang lebih baik dibandingkan Maret. Akan tetapi kabar baik yang tiba dengan koreografi yang sudah terlalu sering terlihat pola-polanya tidak akan sama nilainya dengan kabar baik yang datang apa adanya. 

Setiap kali bingkai dipasang sebelum foto dipajang, ada sedikit kepercayaan yang dipotong dari akumulasi yang sudah bertahun-tahun dibangun. 

Oleh karenanya, akumulasi potongan-potongan kecil itulah yang pada akhirnya akan paling mahal harganya bagi APBN itu sendiri.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved