Senin, 1 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Saat Idulfitri Berbeda: Ujian Istimrar dan Kedewasaan Umat

Perbedaan hisab dan rukyat sejatinya bukan pertentangan antara benar dan salah, tetapi perbedaan pendekatan dalam memahami dalil.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM
Dr. H. Ahsanul Khalik. Penulis merupakan mantan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah periode 2012–2017 dan 2017–2022. 

Teladan Ulama Nusantara: Berbeda Tanpa Berpecah

Para ulama Nusantara telah memberikan teladan luar biasa dalam menyikapi perbedaan.

Kiyai Ahmad Dahlan dengan pendekatan hisabnya, dan Kiyai Hasyim Asy'ari dengan pendekatan rukyatnya, hidup dalam perbedaan, tetapi tetap dalam satu barisan umat.

Kiyai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahkan menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat yang harus dirawat, bukan dihapuskan.

Prinsip yang mereka pegang sederhana namun dalam:

Bersatu dalam yang pokok, toleran dalam yang cabang.

Istimrar: Menjaga Hati di Tengah Perbedaan

Ramadhan telah melatih kita menahan diri. Maka dalam perbedaan, kita juga harus menahan ego.

Ramadhan telah membersihkan hati. Maka dalam perbedaan, kita juga harus menjaga prasangka baik.

Perbedaan hari raya adalah ujian: apakah kita lebih mencintai kebenaran, atau ego kita sendiri?

Bukan kah perbedaan tidak pernah melukai, yang melukai adalah hati yang sempit.

Ramadan telah mengajarkan kita menahan diri, maka jangan biarkan ia berlalu bersama ego yang kembali hidup.

Jika kita tak mampu menyatukan hari raya, maka satukanlah hati dalam persaudaraan.

Karena kekuatan umat ini bukan pada keseragaman langkah, tetapi pada kesatuan hati.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa keberhasilan bukan pada kuatnya ibadah di bulan suci, tetapi pada kesetiaannya setelah ia pergi.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved