Opini
Saat Idulfitri Berbeda: Ujian Istimrar dan Kedewasaan Umat
Perbedaan hisab dan rukyat sejatinya bukan pertentangan antara benar dan salah, tetapi perbedaan pendekatan dalam memahami dalil.
Perbedaan adalah sunnatullah. Yang menjadi persoalan bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi bagaimana manusia menyikapinya.
Hisab dan Rukyat: Dua Jalan dalam Satu Tujuan
Dalam penentuan awal bulan hijriah, terdapat dua pendekatan utama: rukyat dan hisab.
Rukyat berlandaskan hadis Nabi SAW:
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Kami adalah umat yang ummi, yang tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung. Satu bulan itu demikian dan demikian (29 atau 30 hari).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di sinilah para ulama melihat adanya illat (alasan hukum).
Bahwa perintah rukyat tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga kontekstual, karena pada saat itu umat belum menggunakan sistem perhitungan astronomi.
Seiring perkembangan ilmu, Al-Qur’an sendiri memberikan dasar tentang pentingnya perhitungan:
“Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5).
Dan juga:
"Allah SWT menciptakan matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya, serta menetapkan orbit bulan untuk menghitung waktu (tahun/hari)" (QS. Yunus: 5).
Ayat ini menunjukkan bahwa hisab adalah bagian dari sunnatullah, bukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Maka perbedaan hisab dan rukyat sejatinya bukan pertentangan antara benar dan salah, tetapi perbedaan pendekatan dalam memahami dalil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/PERBEDAAN-IDULFITRI-SEBAGAI-RAHMAT-2026.jpg)