Minggu, 31 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Kaum Muda, Ruang Publik, dan Lanskap Keislaman di Kota Mataram

Di antara berbagai ruang publik, warung kopi menempati posisi yang cukup menonjol dalam kehidupan kaum muda Kota Mataram.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/Idham Khalid
DISKUSI - Empat pemuda tampak sedang berdiskusi di salah coffee shop wilayah Kota Mataram. 

Di ruang publik, Islam tidak lagi hadir semata sebagai praktik ritual yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan berkelindan dengan pergaulan sosial, gaya hidup, dan dinamika keseharian kaum muda.

 

Oleh: Miptahudin Khairi

*Direktur Center of Eastern Indonesian Studies (CEIS) dan anggota Lakpesdam NU NTB.

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Dalam satu dekade terakhir, Kota Mataram, sebagai pusat kehidupan perkotaan di Pulau Lombok, telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam penyediaan dan pertumbuhan ruang-ruang publik. Ruang-ruang ini hadir dalam berbagai bentuk dan semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama kaum muda.

Perkembangan tersebut menandai adanya perhatian Pemerintah Kota Mataram terhadap kebutuhan generasi muda akan ruang berkumpul, berinteraksi, dan mengisi waktu luang di ruang kota.

Ruang publik populer yang tumbuh di Kota Mataram tidak hadir secara terpisah dari dinamika sosial yang lebih luas. Kehadirannya sejalan dengan upaya mendorong aktivitas yang lebih partisipatif di kalangan anak muda. Kota tidak lagi dipahami semata sebagai ruang tinggal dan bekerja, melainkan sebagai ruang perjumpaan sosial tempat relasi, selera, dan praktik keseharian dibentuk.

Di antara berbagai ruang publik tersebut, warung kopi menempati posisi yang cukup menonjol dalam kehidupan kaum muda Kota Mataram. Warkop hadir sebagai ruang yang terbuka, mudah diakses, dan digunakan secara rutin oleh anak muda dari beragam latar belakang. Di ruang inilah percakapan berlangsung, jejaring pertemanan terjalin, dan preferensi kultural berkembang dalam keseharian.

Namun, dampak dari kehadiran ruang-ruang publik di Kota Mataram tidak terbatas pada aspek sosial semata. Ketersediaan ruang publik juga membawa implikasi penting terhadap cara kaum muda menjalani dan menampilkan kehidupan keagamaannya. Ruang-ruang ini memungkinkan munculnya beragam ekspresi Islam populer di kalangan anak muda Muslim perkotaan.

Berdasarkan pengamatan atas aktivitas keseharian kaum muda di warung kopi dan ruang-ruang publik lainnya di Kota Mataram, tampak bahwa praktik keislaman tidak lagi sepenuhnya berlangsung di ruang ibadah atau forum keagamaan formal. Aktivitas keagamaan berskala kecil, perjumpaan komunitas keislaman, serta penegasan identitas Muslim hadir dan berkembang melalui pergaulan, kebiasaan berkumpul, serta praktik keseharian di ruang kota.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang publik telah menjadi arena penting bagi kemunculan berbagai ekspresi Islam populer di kalangan kaum muda Kota Mataram. Ekspresi tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk organisasi keagamaan resmi dengan struktur yang mapan, sebagaimana Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan yang selama ini membentuk lanskap keislaman di Mataram dan pulau Lombok pada umumnya. Sebaliknya, ia tumbuh melalui jaringan pertemanan, komunitas informal, dan relasi sosial yang berkembang dalam praktik keseharian di ruang kota. Kehadiran ekspresi keislaman kaum muda ini turut memperkaya lanskap keislaman perkotaan dengan wajah yang lebih beragam dan dekat dengan pengalaman generasi muda.

Perubahan tersebut berlangsung di tengah masyarakat Kota Mataram sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lanskap sosial-budaya Lombok, yang hingga kini masih ditandai oleh kuatnya praktik dan tradisi Islam lokal. Dalam konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa ekspresi keislaman kaum muda di ruang publik tidak secara konstan memutus kontinuitas tradisi keislaman Lombok yang telah lama mengakar. Sebaliknya, praktik tersebut  menghadirkan bentuk artikulasi baru yang tumbuh dari pengalaman hidup generasi perkotaan.

Di ruang publik, Islam tidak lagi hadir semata sebagai praktik ritual yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan berkelindan dengan pergaulan sosial, gaya hidup, dan dinamika keseharian kaum muda. Perjumpaan antara tradisi keislaman Lombok dan ekspresi keislaman generasi muda berlangsung secara terbuka, tanpa harus saling meniadakan.

Proses ini tidak lahir dari intervensi kebijakan keagamaan tertentu, melainkan merupakan konsekuensi sosial dari tersedianya ruang-ruang publik yang memungkinkan interaksi, perjumpaan, dan pertukaran pengalaman berlangsung secara intens dalam kehidupan kota. Dalam konteks tersebut, ruang publik ikut membentuk cara kaum muda memahami, menampilkan, dan memaknai Islam dalam kehidupan perkotaan.

Dengan demikian, dinamika ruang publik di Kota Mataram menunjukkan bahwa kebijakan kota memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar penyediaan tempat berkumpul. Kehadiran ruang-ruang publik turut memengaruhi cara kaum muda membangun relasi sosial, menegosiasikan identitas, dan menjalani praktik keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved