Minggu, 31 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Pesan Ramadan

Konsep Waktu Dalam Komunikasi di Bulan Ramadan

Waktu tidak hanya menjadi rujukan untuk memulai dan mengakhiri komunikasi tetapi juga memandu manusia untuk mengidentifikasi pesan

Tayang:
TRIBUNLOMBOK.COM
Prof. Dr. Kadri, M.Si - Penulis merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram. Waktu tidak hanya menjadi rujukan untuk memulai dan mengakhiri komunikasi tetapi juga memandu manusia untuk mengidentifikasi pesan. 

Prof. Dr. Kadri, M.Si 
(Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram)

“Waktu” memiliki kontribusi signifikan dalam menentukan sukses atau tidaknya komunikasi manusia. Waktu tidak hanya menjadi rujukan untuk memulai dan mengakhiri komunikasi tetapi juga memandu manusia untuk mengidentifikasi apa pesan yang boleh dan yang tidak bisa disampaikan pada waktu tertentu. Kesalahan dalam memanfaatkan dan menentukan waktu saat berkomunikasi akan berefek pada rendahnya trust mitra komunikasi dan juga membuat komunikasi gagal menemui tujuannya. Dalam konteks komunikasi transendental, konsep tentang waktu penting dipahami agar kita tahu kapan waktu yang tepat (berkualitas) untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ibadah puasa yang sedang dilaksanakan oleh umat Islam di bulan Ramadan ini juga memiliki konsep waktu tertentu yang bisa menginspirasi kita untuk menjalani kehidupan sosial yang lebih baik.

Sangat susah rasanya menemukan umat Islam yang tidak displin waktu dalam memulai puasa (mengakhiri santap sahur) dan saat berbuka puasa. Lewat ibadah puasa, Islam mengajarkan umatnya untuk disiplin waktu dengan harapan bisa didesiminasikan dalam aktivitas ibadah ritual dan sosial lainnya pasca Ramadan.  Sesungguhnya untuk hidup disiplin bukan hal yang sulit sepanjang ada tekad yang kuat untuk melakukannya. Di samping karena tekad yang kuat, ketepatan waktu berbuka puasa dan imsak juga disebabkan oleh ketaatan syaimin dan syaimat pada ketentuan/regulasi ibadah puasa. Artinya untuk bisa disiplin memerlukan perpaduan antara aturan yang jelas dengan kesadaran personal/pelaku yang kuat untuk melaksanakannya.

Nilai pahala yang berlipat ganda yang disediakan bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan membuat disiplin waktu dalam beribadah yang lain di bulan suci ini juga tinggi. Misalnya, ketepatan waktu sholat berjama’ah umat Islam relatif lebih baik di banding ibadah yang sama dikerjakan di luar bulan Ramadan. Bahkan ada yang totalitas menghabiskan waktu untuk i’tiqaf di masjid dengan membaca al Qur’an di antara dua waktu sholat fardu. Waktu di bulan Ramadan bagi orang-orang yang sadar akan pahalanya sangat bermakna dan selalu dikosentrasikan sebagai ajang mengakumulasi pahala sebanyak-banyaknya. Saya pernah mendapat kabar kalau beberapa orang pengusaha rumah makan di kota Mataram yang selama 11 bulan laris dengan pelanggan yang tak terhitung jumlahnya sengaja meliburkan jualannya selama bulan Ramadan hanya untuk kosentrasi ibadah dan mengejar bonus pahala di bulan penuh berkah. Waktu untuk kosentrasi beribadah selama 30 hari di bulan Ramadan bagi pengusaha religius seperti mereka sangat berharga di banding keuntungan yang diperoleh dari jualannya.   

Baca juga: Merawat Fitrah Komunikasi Manusia di Bulan Ramadhan


   
Dalam ajaran Islam, persoalan waktu tidak luput dari perhatian Tuhan lewat firman dan ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan RasulNya. Contoh sederhana, dalam salah satu ayatNya Allah swt bersumpah dengan waktu: (وَالْعَصْرِۙ: demi masa: QS. Al-'Asr, ayat 1).  Islam juga secara eksplisit menyebut pentingnya memanfaatkan waktu sebelum datangnya masa yang lain, sebagaimana yang terbaca dalam hadits yang berbunyi: “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu.Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu. Waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu.” Hadits di atas menjadi salah satu indikator bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai waktu. Bila hadits tersebut kita kaitkan dengan pemanfaatan waktu selama Ramadan maka kita bisa katakan: “manfaatkanlah waktu puasa Ramadan-mu tahun ini karena belum ada jaminan Anda akan ketemu lagi dengan puasa Ramadan tahun depan”. 

Ibadah yang dilakukan umat Islam harus merujuk pada waktu tertentu. Sholat (wajib dan sunat) misalnya, mesti dilaksanakan pada waktu yang ditetapkan. Jika tidak, maka akan dianggap batal. Sebagai contoh, jika sholat Dhuhur dilaksanakan pada jam 10 pagi maka dianggap batal, dan tidak sah sholat Jum’at jika dilaksanakan pada hari Kamis, atau jika sholat tahajut dilaksanakan di siang hari. Islam juga mengajarkan waktu-waktu tertentu yang dianggap waktu utama untuk berdo’a. misalnya, berdo’a tengah malam saat sholat tahajut, atau berdo’a antara waktu azan dan iqomat. Berkomunikasi dengan Tuhan (berdo’a) tengah malam saat sholat tahajut diklaim sebagai waktu yang diijabahnya do’a karena waktu tersebut adalah waktu yang membutuhkan kesediaan khusus dan hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang sudah berniat untuk melakukannya. Waktu tengah malam juga adalah momentum yang tepat untuk berkomunikasi dengan Tuhan karena tanpa hambatan atau noise, suasana sunyi di tengah kebanyakan manusia lainnya sedang istirahat atau tidur.

Setiap waktu dalam bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berkomunikasi (berdo’a) pada Tuhan. Ramadan adalah momentum dimana semua orang berpacu dengan waktu untuk memanfaatkan setiap moment special yang tersedia di dalamnya sebagai ladang amal. Waktu yang terbatas terus digunakan untuk amal-amal baik di luar ibadah wajib, seperti tadarus, i’tikaf, sedekah, sholat sunat, dan amalan-amalan lainnya. Beri’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir sembari berharap lailatul qadar adalah waktu atau moment special yang diburu umat Islam. Semoga waktu Ramadan tahun ini menjadi waktu bagi kita untuk mendapatkan semua keberkahan bulan mulia ini. Aamiin…

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved