Rabu, 20 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Perang Topat Bukan Toleransi

Menempatkan Perang Topat semata-mata dalam kotak toleransi adalah sebuah penyederhanaan yang merugikan kekayaan dialektika Sasak.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM/DZUL FIKRI
Salman Faris. Penulis adalah dosen Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia dan pengarang novel "Tuan Guru". 

Hal tersebut membuktikan tesis Bhabha bahwa budaya hibrid menantang esensialisme. Kaum puritan mungkin akan melihat ritual ini sebagai sinkretisme yang menyimpang. Kaum nasionalis mungkin melihatnya sebagai toleransi Pancasilais. Namun, dalam kacamata Homi Bhabha, ini adalah survival. Hibriditas adalah strategi bagi mereka yang berada di pinggiran kekuasaan untuk tetap eksis.

Jika Perang Topat hanyalah soal toleransi, maka ritual itu bisa saja diganti dengan dialog antar-iman di gedung pertemuan. Fakta bahwa ritual ini harus melibatkan fisik (saling lempar), harus di tempat spesifik (Kemalik), dan harus pada waktu spesifik, menunjukkan bahwa ada ingatan kolektif yang sedang dinegosiasikan. 

Ketupat yang berterbangan di udara adalah metafora dari negosiasi yang tak pernah selesai antara dua entitas. Perang Topa sejatinya adalah dialog yang keras, bising, dan kaotis. Bukan dialog yang senyap dan tertib ala toleransi di ruang seminar.

Sangat banyak orang Sasak meyakini bahwa era Kedatuan Medayin dan Datu Milir sebagai legitimasi historis. Bhabha mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap fixity (ketetapan/keterakuan) dalam wacana kolonial atau sejarah. Menganggap Kemalik semata-mata sebagai peninggalan masa lalu yang harus dijaga menjebak kita pada fetisisme sejarah.

Pandangan hibriditas mengajak kita melihat Perang Topat sebagai proses yang performative (performatif) pada masa kini. Setiap kali ketupat dilempar, identitas Sasak dan Bali sedang diproduksi ulang. Mereka tidak sedang sekadar merawat warisan leluhur. Sebenarnya mereka sedang menegaskan eksistensi mereka di masa kini.

Begitu kuat gerakan dari kalangan orang Sasak sendiri yang berdasarkan prinsip kemestian merajut harmoni. Dari sini, sebenarnya ada secara tidak sadar ingin ditegaskan bahwa  pernah terjadi situasi tidak harmonis. 

Dengan kata lain, gerakan ini adalah pengakuan implisit tentang ketidakstabilan. Hibriditas muncul justru karena ketidakstabilan tersebut. Toleransi seringkali menjadi topeng untuk menutupi ketidakadilan struktural atau ingatan akan kekerasan. Dengan mengatakan ini toleransi. Dengan begitu, kita seolah dipaksa untuk melupakan bahwa pernah ada pembantaian di Menjeli.

Namun, dengan membaca hal tersebut sebagai hibriditas, kita mengakui bahwa perang itu masih ada, namun bentuknya telah bermutasi. Perang fisik telah berubah menjadi perang simbolik. Kekerasan telah disublimasikan menjadi ritual. 

Ini jauh lebih jujur daripada sekadar melabelinya toleransi. Ini adalah pengakuan bahwa hidup berdampingan (co-existence) memerlukan katup pelepasan (safety valve) untuk menyalurkan residu-residu sejarah konflik.

Karena itu, menempatkan Perang Topat semata-mata dalam kotak toleransi adalah sebuah penyederhanaan yang merugikan kekayaan dialektika budaya Sasak. Toleransi adalah konsep yang pasif, sebuah gencatan senjata. Sementara apa yang terjadi dalam Perang Topat adalah sesuatu yang aktif, dinamis, dan subversif.

Perang Topat adalah perayaan hibriditas. Bahwa di perbatasan pertemuan budaya, di celah-celah kekuasaan, dan di sisa-sisa trauma sejarah, tumbuhlah Ruang Ketiga. Di ruang ini, masyarakat Sasak dan Bali tidak melebur hilang, tetapi menciptakan entitas budaya baru yang cair.

Ketupat yang dilemparkan bukanlah tanda bahwa mereka telah melupakan masa lalu yang kelam (perang 1855), melainkan tanda bahwa mereka telah berhasil menjinakkan masa lalu itu. 

Mereka mengambil simbol kekerasan (perang) dan membalikkannya menjadi simbol kesuburan dan keberkahan. Ini bukan kerja toleransi yang santun. Ini adalah kerja kebudayaan yang radikal.

Sudah saatnya kita berhenti menggunakan jargon usang toleransi yang seringkali hanya menjadi lipstik politik. Mari kita mulai mengapresiasi Perang Topat sebagai trategi budaya hibrid, di mana perbedaan tidak dihapus, tetapi dirayakan dalam sebuah kekacauan yang terukur, sebuah ambivalensi yang indah, dan sebuah negosiasi identitas yang terus-menerus menjadi (becoming). 

Perang Topat bukan toleransi. Ia adalah hibriditas yang menyelamatkan kemanusiaan kita dari dendam sejarah.


Malaysia: Jumat, 5 Desember 2025

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved