Opini
Perang Topat Bukan Toleransi
Menempatkan Perang Topat semata-mata dalam kotak toleransi adalah sebuah penyederhanaan yang merugikan kekayaan dialektika Sasak.
Bagi Bhabha, ruang ini penting karena di sinilah sejarah baru ditulis, bukan sejarah yang didiktekan oleh pemenang perang (Mataram) semata, bukan pula sejarah kekalahan total Sasak, melainkan sejarah negosiasi yang terus-menerus.
Dalam konteks sejarah (entah benar entah tidak, karena orang Sasak menyebutnya sejarah) konflik tahun 1855, di mana Amaq Salam dan pasukan Menjeli menyerbu Mataram, yang berakhir dengan bumi hangus Desa Menjeli.
Kemudian dimaknai oleh penyembah toleransi sebagai teks yang mendasari kesimpulan bahwa Perang Topat adalah media Rapah (perdamaian) dan cara masyarakat Sasak merubah peristiwa tragis menjadi prosesi budaya yang penuh kegembiraan.
Di sinilah teori Bhabha tentang Mimicry (Mimikri) menjadi pisau bedah yang tajam. Bhabha mendefinisikan mimikri sebagai keinginan untuk memperbaiki yang lain yang dapat dikenali, sebagai subjek dari perbedaan yang almost the same, but not quite (hampir sama, tapi tidak sungguh-sungguh sama).
Dalam konteks Perang Topat, kita melihat sebuah mimikri yang kompleks. Mengapa rekonsiliasi perdamaian harus dirayakan dengan simbol perang (saling lempar)? Mengapa tidak dengan kenduri makan bersama saja?
Penggunaan istilah perang dalam ritual tersebut adalah bentuk ambivalensi. Di satu sisi, meniru (memimikri) konflik historis yang pernah terjadi (perlawanan Sasak terhadap dominasi Mataram). Namun, peniruan ini dilakukan dengan selisih atau perbedaan. Pelurunya adalah ketupat, suasananya adalah sorak sorai, bukan kematian.
Menurut Bhabha, mimikri selalu mengandung potensi subversif. Ketika yang terjajah (atau kelompok yang kalah secara militer dalam kasus Menjeli 1855) meniru struktur atau ritual penguasa, atau ketika mereka mereenaksikan kekerasan dalam bentuk ritual, mereka sebenarnya sedang melakukan ejekan atau destabilisasi terhadap kekuasaan itu sendiri.
Perang Topat, dengan demikian, bukanlah tanda kepatuhan total atau penerimaan damai yang pasif (toleransi). Secara mendalamnya dapat dilihat sebagau perlawanan simbolik yang dibekukan dalam waktu. Dengan melempar ketupat, masyarakat Sasak tidak sedang melupakan bahwa mereka pernah dibumihanguskan. Mereka sedang merebut kembali agensi mereka. Mereka mengubah memori trauma kekalahan militer menjadi kemenangan kultural.
Perang yang dulu menghancurkan mereka, kini mereka mainkan sebagai lelucon. Ini adalah strategi bertahan hidup yang cerdas dengan menertawakan kekerasan sejarah agar tidak dihantui olehnya.
Oleh karena itu, menyebutnya sekadar toleransi adalah pengkerdilan makna. Toleransi menyiratkan keadaan yang statis dan harmonis tanpa gejolak. Sementara mimikri dalam Perang Topat menunjukkan adanya mockery (olok-olok) tersembunyi terhadap sejarah kekerasan itu sendiri.
Perang Topat adalah ketegangan yang dikelola, sebuah sly civility (kesopanan yang lihai) dalam istilah Bhabha, di mana kepatuhan dan perlawanan hadir bersamaan.
Orang Sasak sangat meyakini bahwa mereka memiliki kearifan untuk mengenang peristiwa tragis dan merubahnya menjadi prosesi budaya yang penuh kegembiraan. Keyakinan ini perlu dikritisi. Dalam psikoanalisis yang sering dirujuk Bhabha (mengambil dari Lacan dan Freud), hal yang ditekan (repressed) akan selalu kembali (return of the repressed).
Tragedi 1855, di mana Desa Menjeli dibumihanguskan dan rakyat tak berdosa menjadi korban, adalah luka sejarah yang menganga. Narasi toleransi mencoba menutup luka ini dengan perban indah bernama harmoni. Namun, hibriditas bekerja dengan cara yang berbeda.
Hibriditas tidak menutup luka, tetapi mentransformasi luka tersebut menjadi identitas baru.
Melalui Perang Topat, identitas masyarakat Sasak tidak lagi didefinisikan semata-mata sebagai korban Mataram atau umat Islam yang taat secara puritan, tetapi sebagai komunitas hibrid yang mampu merangkul kontradiksi. Mereka memelihara petilasan Datu Milir (Islam) tetapi melaksanakannya berbarengan dengan kalender ritual Hindu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Salam-Faris-26.jpg)