Opini
Tahun Baru Islam dalam Semangat NTB Makmur Mendunia
Hari ini NTB membutuhkan hijrah yang sama. Hijrah dari budaya yang hanya dikenang menjadi budaya yang menggerakkan.
Kita tidak akan dikenal dunia karena berhasil menjadi seperti daerah lain. Kita akan dikenal dunia karena berhasil menjadi diri kita sendiri.
Di sinilah Islam dan kebudayaan menemukan titik temu yang sangat penting.
Baca juga: Serambi Al-Quran sebagai Haluan Peradaban dan Kebudayaan NTB
Sejak berabad-abad lalu, Islam bukan sekadar agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat NTB. Islam telah menjadi bagian dari denyut kebudayaan daerah ini. Ia hidup dalam bahasa, adat istiadat, seni tradisi, pola permukiman, sistem sosial, hingga cara masyarakat memandang alam dan kehidupan.
Di Lombok, nilai-nilai Islam tumbuh bersama tradisi masyarakat Sasak. Di Sumbawa, agama berpadu dengan falsafah hidup Tau Samawa yang menjunjung kehormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Di Bima dan Dompu, Islam menjadi bagian dari identitas Kesultanan yang pernah melahirkan tradisi intelektual dan pemerintahan yang maju pada masanya.
Karena itu, ketika berbicara tentang kebudayaan NTB, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang bagaimana nilai-nilai Islam hidup dalam kehidupan masyarakat.
Tidak berlebihan jika NTB dikenal sebagai Serambi Al-Qur'an.
Predikat itu bukan semata-mata karena banyaknya penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an atau prestasi para qari dan qariah NTB di tingkat nasional dan internasional. Lebih dari itu, karena nilai-nilai Al-Qur'an telah menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan sosial masyarakat.
Namun tantangan zaman terus berubah.
Generasi hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Teknologi digital mengubah cara berpikir. Globalisasi mempercepat pertemuan berbagai budaya. Informasi bergerak tanpa batas.
Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menjaga budaya agar tetap ada. Tantangannya adalah bagaimana memastikan budaya tetap memiliki fungsi.
Kita tidak sedang kehilangan budaya.
Kita sedang menghadapi risiko kehilangan fungsi budaya.
Kita masih memiliki bahasa daerah. Kita masih memiliki tradisi lisan. Kita masih memiliki manuskrip kuno, rumah adat, kesenian, permainan rakyat, ritus budaya, dan berbagai warisan leluhur lainnya.
Tetapi apakah semuanya masih menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan modern?
Apakah budaya telah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Tahun-Baru-Islam-48H.jpg)