NTB
Menyulam Kembali Benang Emas Peradaban, Membangun Masa Depan NTB dari Akar Budayanya
Oleh: Dr. H. Ahsanul Halik
Kadis Kominfotik NTB
Sebuah daerah dapat kehilangan banyak hal dan tetap bertahan. Ia dapat kehilangan hasil panennya karena musim yang buruk, kehilangan bangunannya karena bencana, bahkan kehilangan sebagian sumber dayanya karena perubahan zaman. Namun ketika sebuah masyarakat kehilangan ingatan tentang nilai-nilai yang membentuk peradabannya, maka yang hilang bukan sekedar masa lalu, melainkan arah masa depannya.
Di tengah arus modernisasi yang bergerak semakin cepat, kegelisahan itulah yang sesungguhnya perlu kita renungkan bersama di Nusa Tenggara Barat. Sebab NTB hari ini tidak kekurangan potensi alam, tidak kekurangan destinasi wisata, dan tidak kekurangan peluang ekonomi. Yang mulai kita rasakan justru memudarnya sebagian benang-benang emas peradaban yang selama berabad-abad menjaga hubungan manusia dengan alam, dengan sesamanya, dan dengan Sang Pencipta.
Peradaban tidak dibangun dalam satu generasi. Ia lahir dari pengalaman panjang sebuah masyarakat dalam memahami kehidupan. Ia tumbuh dari nilai-nilai yang diwariskan, dari kearifan yang dipraktikkan, dari kebiasaan yang dijaga, dan dari kebijaksanaan yang terus hidup melampaui zaman. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan NTB, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Kita sedang berbicara tentang bagaimana memastikan akar peradaban yang membentuk masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu tetap hidup sebagai fondasi pembangunan daerah.
Baca juga: Wisman Melonjak 35,13 Persen, Pariwisata NTB Tunjukkan Tren Positif
Hari ini dunia menghadapi berbagai tantangan besar. Krisis lingkungan hidup, perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, hingga melemahnya kohesi sosial menjadi persoalan yang dirasakan hampir di setiap belahan bumi. Menariknya, banyak solusi yang kini ditawarkan oleh berbagai lembaga internasional justru mengarah pada sesuatu yang telah lama dimiliki masyarakat tradisional: kearifan lokal, modal sosial, dan kebudayaan.
UNESCO menempatkan budaya sebagai salah satu pilar penting pembangunan berkelanjutan. Antropolog Clifford Geertz menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang membentuk cara manusia memahami kehidupannya. Sementara Robert Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan, norma sosial, dan jaringan masyarakat merupakan modal sosial yang menentukan keberhasilan pembangunan. Bahkan peraih Nobel Ekonomi, Amartya Sen, menegaskan bahwa pembangunan sejatinya adalah proses memperluas kemampuan manusia untuk hidup secara bermartabat, bukan semata-mata meningkatkan pendapatan.
Pandangan-pandangan tersebut sesungguhnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat NTB. Jauh sebelum teori-teori itu lahir, masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu telah mempraktikkan nilai-nilai yang menghubungkan manusia dengan alam, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan masa depannya.
Masyarakat Sasak mengenal awik-awik. Banyak orang memahaminya sebagai aturan adat, padahal ia sesungguhnya merupakan sistem tata kelola sosial dan lingkungan yang sangat maju. Melalui awik-awik, masyarakat mengatur pemanfaatan hutan, menjaga mata air, mengelola lahan, serta menyelesaikan konflik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kekuasaan formal. Awik-awik lahir dari kesadaran bahwa alam bukan sekedar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan ruang hidup yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada masyarakat Sasak juga hidup tradisi banjar dan begibung. Banjar bukan hanya ruang berkumpul, melainkan sistem perlindungan sosial tradisional yang memastikan tidak seorang pun menghadapi kesulitan sendirian. Ketika ada warga membangun rumah, menikah, tertimpa musibah, atau mengalami kedukaan, masyarakat hadir sebagai kekuatan bersama. Begibung mengajarkan kesetaraan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam ruang yang sama, status sosial melebur menjadi persaudaraan.
Sesungguhnya, jauh sebelum konsep perlindungan sosial modern dikenal, masyarakat Sasak telah membangun sistem ketahanan sosial berbasis komunitas. Banjar tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertemuan, tetapi menjadi mekanisme yang memastikan setiap anggota masyarakat memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan hidup. Dalam konteks tertentu, ia bahkan menjalankan fungsi yang hari ini dikenal sebagai perlindungan sosial berbasis masyarakat.
Demikian pula awik-awik. Ia tidak hanya menjaga ketertiban sosial, tetapi juga berhasil menjaga kawasan hutan, mata air, dan ruang hidup masyarakat selama berabad-abad. Ketika banyak negara modern baru berbicara tentang konservasi lingkungan dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat Sasak telah mempraktikkannya melalui aturan adat yang hidup dan dihormati bersama.
Di tanah Samawa berkembang filosofi Kerik Salamat dan tradisi basiru. Basiru bukan sekedar gotong royong. Ia adalah ekonomi kepercayaan. Para petani membantu satu sama lain mengolah lahan, membangun rumah, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa kontrak dan tanpa transaksi yang rumit. Yang menjadi pengikat bukan uang, melainkan rasa saling percaya. Dalam teori pembangunan modern, inilah yang disebut social capital, modal sosial yang sering kali lebih berharga daripada modal finansial.
Masyarakat Mbojo mewariskan falsafah Maja Labo Dahu. Terjemahan "malu dan takut berbuat salah" belum sepenuhnya menggambarkan kedalaman maknanya. Maja Labo Dahu adalah sistem etika yang menjaga kehidupan masyarakat Bima selama berabad-abad. Ia mengajarkan bahwa amanah harus dijaga, kejujuran harus dipelihara, dan kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab. Nilai ini menjadi pengawas moral yang hidup dalam kesadaran masyarakat, bahkan ketika hukum tertulis belum berkembang seperti sekarang.
Sementara itu, masyarakat Dompu mengenal Nggahi Rawi Pahu, berkata lalu berbuat. Filosofi ini menempatkan integritas sebagai inti kehidupan. Apa yang diucapkan harus diwujudkan dalam tindakan. Dalam konteks pembangunan modern, nilai ini merupakan fondasi tata kelola yang baik, kepemimpinan yang dipercaya, dan pemerintahan yang menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di tengah zaman yang sering dipenuhi janji dan retorika, Nggahi Rawi Pahu sesungguhnya menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak pernah lahir dari kata-kata, melainkan dari kerja nyata yang konsisten.
Semua nilai tersebut bukan sekedar warisan budaya. Ia adalah teknologi sosial yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam membangun peradaban. Ia memungkinkan masyarakat hidup berdampingan dengan alam, menciptakan solidaritas sosial, dan membangun kesejahteraan secara kolektif.
Sejarah mencatat bahwa masyarakat NTB bukanlah masyarakat yang lahir dari ruang kosong. Pejanggik pernah menjadi salah satu pusat kekuasaan dan kebudayaan penting di Pulau Lombok. Kesultanan Bima berkembang sebagai kerajaan maritim yang memiliki hubungan perdagangan dengan Makassar, Jawa, Malaka, bahkan dunia Islam di Timur Tengah. Sementara itu, wilayah Samawa dan Dompu sejak lama dikenal sebagai kawasan agraris, peternakan, dan perdagangan yang memainkan peran penting dalam pergerakan ekonomi di kawasan timur Nusantara.
Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat NTB sejak dahulu bukan sekedar penonton peradaban, melainkan bagian aktif dari jaringan peradaban yang lebih luas. Leluhur kita telah mengenal diplomasi, perdagangan, tata pemerintahan, pengelolaan sumber daya, dan sistem nilai sosial jauh sebelum konsep pembangunan modern diperkenalkan. Karena itu, membangun NTB hari ini sesungguhnya bukan menciptakan peradaban baru, melainkan menghidupkan kembali kekuatan peradaban yang telah lama dimiliki.
Namun benang-benang emas itu perlahan mulai terurai.
Modernisasi memang membawa kemajuan, tetapi juga melahirkan tantangan baru. Hubungan sosial yang dahulu dibangun di atas gotong royong perlahan berubah menjadi hubungan yang semakin transaksional. Ruang pewarisan nilai semakin menyempit. Generasi muda mengenal dunia melalui layar gawai, tetapi semakin sedikit yang memahami filosofi hidup masyarakatnya sendiri.
Yang sesungguhnya hilang bukan budaya dalam bentuk fisiknya. Awik-awik masih ditulis. Begibung masih dilakukan. Rimpu masih dikenakan pada berbagai kesempatan. Namun fungsi dan makna yang dahulu menjadikannya sebagai panduan hidup mulai melemah.
Kita tidak sedang kehilangan budaya. Kita sedang kehilangan fungsi budaya.
Awik-awik masih ditulis, tetapi tidak selalu menjadi panduan dalam mengelola lingkungan. Begibung masih dilaksanakan, tetapi tidak selalu menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial. Rimpu masih dikenakan dalam berbagai perayaan, tetapi belum tentu dipahami sebagai simbol nilai dan identitas yang diwariskan leluhur.
Inilah tantangan terbesar kebudayaan hari ini. Bukan menjaga bentuknya, melainkan menghidupkan kembali maknanya agar tetap relevan dalam menjawab persoalan zaman.
Dampaknya dapat dilihat pada berbagai persoalan yang muncul hari ini. Krisis air mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Tekanan terhadap kawasan hutan meningkat. Sampah menjadi tantangan di berbagai destinasi wisata. Alih fungsi lahan terus terjadi. Perubahan iklim menghadirkan ancaman yang semakin nyata. Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan regulasi dan teknologi. Alam membutuhkan lebih dari sekadar pengawasan. Alam membutuhkan kesadaran kolektif untuk menjaganya.
Karena itu, lingkungan hidup dan kebudayaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. Ketika budaya melemah, hubungan manusia dengan alam ikut melemah. Sebaliknya, ketika nilai-nilai budaya kembali hidup, maka kesadaran untuk menjaga lingkungan akan tumbuh dari dalam masyarakat itu sendiri.
Hal yang sama berlaku bagi sektor pariwisata. Terlalu lama kita memandang pariwisata hanya dari sudut pandang destinasi. Kita berbicara tentang pantai, gunung, dan pemandangan. Padahal wisatawan modern tidak lagi hanya mencari tempat yang indah. Mereka mencari pengalaman yang otentik, identitas yang khas, dan cerita yang hidup.
Pantai yang indah dapat ditemukan di banyak negara. Gunung yang megah juga dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Namun awik-awik, Maja Labo Dahu, Kerik Salamat, Nggahi Rawi Pahu, Rimpu, Bale Beleq, kampung adat, manuskrip kuno, tenun tradisional, dan tradisi lisan NTB adalah kekayaan yang tidak dimiliki tempat lain. Inilah identitas yang sesungguhnya menjadi keunggulan kompetitif NTB di mata dunia.
Lebih jauh lagi, kebudayaan bukan hanya sumber identitas, tetapi juga sumber kemakmuran. Inilah yang disebut ekonomi budaya. Tenun bukan sekadar kain, melainkan industri budaya yang menghidupi ribuan keluarga. Kampung adat bukan sekadar objek wisata, melainkan pusat pengetahuan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Festival budaya bukan sekadar seremoni, melainkan penggerak ekonomi lokal yang menghidupkan UMKM, seni pertunjukan, kuliner, dan industri kreatif. Budaya tidak lagi dapat dipandang sebagai biaya pembangunan. Budaya adalah investasi pembangunan.
Jika abad ke-20 ditandai oleh pembangunan fisik dan infrastruktur, maka abad ke-21 harus menjadi era pembangunan berbasis pengetahuan, identitas, dan kebudayaan.
Karena itu, penguatan Desa Berdaya berbasis budaya, revitalisasi kampung adat, digitalisasi manuskrip dan warisan budaya, pendidikan berbasis nilai-nilai lokal Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu, serta pengembangan ekonomi budaya perlu menjadi bagian integral dari strategi pembangunan daerah.
Kebudayaan tidak boleh ditempatkan sebagai sektor pelengkap. Kebudayaan harus menjadi fondasi yang menghubungkan pembangunan lingkungan hidup, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan cara itulah budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihadirkan sebagai kekuatan nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Visi NTB Makmur Mendunia pada akhirnya bukanlah upaya menjadikan NTB serupa dengan daerah lain atau mengejar kemajuan dengan mengorbankan jati diri. Sebaliknya, ia adalah ikhtiar menghadirkan kesejahteraan dengan tetap berpijak pada akar budaya yang telah membentuk masyarakat NTB selama berabad-abad.
Jika suatu hari Rinjani masih berdiri megah, Pantai Pink masih memantulkan warna kemerahannya, Tambora masih menjulang di ufuk timur, tetapi anak-anak NTB tidak lagi mengenal Awik-Awik, Maja Labo Dahu, Kerik Salamat, dan Nggahi Rawi Pahu, maka sesungguhnya kita telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar bentang alam.
Sebab yang membedakan sebuah wilayah dengan wilayah lain bukanlah gunungnya, lautnya, atau pantainya. Yang membedakan adalah peradabannya.
Karena itu, menyulam kembali benang emas peradaban bukanlah nostalgia kepada masa lalu. Ia adalah strategi pembangunan masa depan. Ia adalah cara memastikan bahwa ketika NTB melangkah ke panggung dunia, yang dibawanya bukan hanya kekayaan alam, melainkan juga kebijaksanaan yang diwariskan oleh leluhurnya selama berabad-abad.
Dan dari sanalah jalan menuju NTB Makmur Mendunia sesungguhnya bermula.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/ahsanul_khalik_929282.jpg)