Opini
Tahun Baru Islam dalam Semangat NTB Makmur Mendunia
Hari ini NTB membutuhkan hijrah yang sama. Hijrah dari budaya yang hanya dikenang menjadi budaya yang menggerakkan.
Oleh: Muhamad Ihwan
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tahun Baru Islam selalu hadir dengan pesan yang berbeda dari pergantian tahun pada umumnya. Tidak ada pesta kembang api. Tidak ada hitung mundur yang riuh. Tidak ada kemeriahan yang membelah malam. Tahun Baru Hijriah datang dengan kesunyian yang mengajak manusia merenung.
Karena sesungguhnya hijrah bukan tentang perpindahan waktu. Hijrah adalah perpindahan kesadaran.
Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang tidak lagi relevan menuju keadaan yang lebih baik. Hijrah adalah perubahan cara berpikir. Perubahan cara memandang masa depan. Perubahan cara membangun kehidupan.
Dalam konteks itulah, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum yang tepat untuk membaca kembali arah perjalanan Nusa Tenggara Barat. Sebab sesungguhnya, NTB hari ini sedang menjalani sebuah hijrah besar: hijrah pembangunan, hijrah kebudayaan, dan hijrah peradaban.
Visi Gubernur NTB, "Makmur Mendunia", sering kali dipahami sebagai target ekonomi semata. Sebagian orang memaknainya sebagai upaya meningkatkan investasi, memperluas lapangan kerja, memperkuat sektor pariwisata, atau mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Padahal jika dicermati lebih dalam, visi tersebut mengandung makna yang jauh lebih luas. Makmur Mendunia bukan sekadar soal angka-angka pertumbuhan. Ia adalah cita-cita untuk membangun masyarakat yang sejahtera tanpa kehilangan identitasnya. Menjadi bagian dari dunia tanpa tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Dalam beberapa kesempatan berdialog dengan Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, saya menangkap satu pesan yang sangat kuat mengenai arah pembangunan daerah ini. Beliau berulang kali menekankan pentingnya memahami kebudayaan NTB secara utuh sebelum berbicara tentang masa depannya.
Ada kegelisahan yang beliau sampaikan secara halus tetapi mendalam: jangan sampai NTB menjadi maju secara fisik, tetapi kehilangan ruh yang selama ini membentuk jati dirinya.
Karena itu beliau sering mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan akar sejarah, nilai-nilai, tradisi, dan kebudayaannya.
"Kita tidak ingin NTB menjadi modern dengan kehilangan jati dirinya. Kita ingin NTB maju karena identitasnya, bukan meskipun identitasnya."
Pesan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filosofi pembangunan yang sangat mendalam.
Selama ini, banyak daerah berlomba-lomba menjadi modern dengan meniru keberhasilan daerah lain. Banyak bangsa berusaha menjadi maju dengan meninggalkan akar budayanya sendiri. Namun sejarah menunjukkan bahwa peradaban-peradaban besar justru tumbuh karena mampu menjaga identitasnya sambil beradaptasi dengan perubahan zaman.
Jepang dikenal dunia bukan karena menjadi Barat. Korea Selatan mendunia bukan karena meninggalkan tradisinya. Turki menjadi kekuatan regional karena berhasil memanfaatkan warisan sejarah dan budayanya sebagai bagian dari diplomasi modern.
Demikian pula NTB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Tahun-Baru-Islam-48H.jpg)