Senin, 4 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Kritik, Etika, dan Batas Hukum di Ruang Digital

Dalam situasi ini, kritik sering kali berubah menjadi serangan massal yang bersifat personal dan destruktif.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM
Dr H Ahsanul Khalik - Penulis merupakan alumni Pascasarjana UIN Mataram dan kini menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi NTB. 

Ketika jalur hukum digunakan secara berlebihan untuk merespons kritik substantif, risiko yang muncul adalah efek jera yang membungkam partisipasi publik. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang berani bersuara, bukan warga yang takut.

Di sisi lain, membiarkan kritik tanpa etika juga bukan pilihan. Ruang publik yang dipenuhi caci maki akan kehilangan kualitas deliberatifnya. Generasi muda tumbuh dalam budaya komunikasi yang menormalisasi penghinaan. Pada titik tertentu, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh kekuatan argumen, melainkan oleh daya viral dan intensitas emosi.

Jika kondisi ini terus berlanjut, demokrasi tidak runtuh karena kekuasaan yang represif, tetapi karena kualitas percakapan publik yang memburuk. Ia berubah dari ruang pertukaran gagasan menjadi kompetisi kebisingan.

Karena itu, persoalan utama bukanlah apakah pejabat boleh melaporkan warga atau tidak. Persoalan utamanya adalah bagaimana kita menegakkan batas yang adil antara kebebasan dan etika. Warga berhak mengkritik, tetapi tidak berhak merendahkan. Pejabat wajib terbuka terhadap kritik, tetapi tidak wajib menerima pelanggaran terhadap martabatnya.

Demokrasi yang matang menuntut kedewasaan kolektif. Kritik harus diarahkan pada kebijakan, bukan pada kehancuran pribadi. Kekuasaan harus dibangun di atas ketahanan terhadap kritik, bukan sensitivitas terhadap perbedaan pendapat. Hukum harus hadir sebagai penjaga batas, bukan alat kekuasaan.

Pada akhirnya, demokrasi tidak runtuh karena kritik yang keras. Demokrasi runtuh ketika kebebasan kehilangan etika, dan ketika hukum kehilangan keadilan. Di antara keduanya, masa depan ruang publik kita sedang dipertaruhkan.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved