Pesan Ramadan
Puasa dan Spirit Perdamaian Dunia
Puasa mengajarkan tradisi dan budaya non kekerasan di level mikro atau individual. Spirit ini harusnya menjadi perisai bagi para pemimpin dunia.
Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Puasa adalah ibadah wajib yang sarat nilai spiritual sekaligus sosial. Nilai-nilai sosial dalam ibadah puasa tidak hanya berdampak personal pada individu di luar diri secara mikro tetapi juga secara akumulatif berefek luas bagi komunitas di level makro.
Jika diasumsikan bahwa setiap person yang berpuasa berpikir dan beraksi religius, mencintai dan menyayangi sesama, serta berkomitmen merawat lingkungan maka akumulasi dari performa tersebut bisa memberi kontribusi bagi perdamaian global.
Puasa sangat berpotensi membangun karakter kolektif, seperti cinta damai. Jika lebih kurang 2,2 triliun warga Muslim dunia atau sekira 25-26 persen dari populasi warga dunia ini mampu menghadirkan spirit perdamaian maka energi positif ini akan bisa mewarnai kehidupan dan masa depan bumi yang lebih menjanjikan.
Konflik (termasuk di dalam perang) berawal dari nafsu kekuasaan, hegemoni untuk menguasai yang lain, atau sentiment identitas yang tidak terkendali, dan pelbagai aspek psikis lainnya. Puasa dapat menjadi detox yang akan mensterilkan sifat-sifat negatif tersebut sehingga berubah menjadi pribadi yang melihat etnik dan warga bangsa lain sebagai mitra yang saling menguntungkan, bukan musuh yang harus dieksploitasi, apalagi diamputasi hak hidupnya lewat kebijakan perang.
Puasa mengajarkan penguasa menjadi pemimpin yang bernurani dengan menyertakan hati sebagai salah satu instrument dalam membuat kebijakan. Tujuan puasa (sebagaimana diabadikan dalam Surat al-Baqarah: 183) adalah menjadi orang bertakwa, yakni suatu identitas yang menuntut adanya kesadaran etis dan spiritual yang membatasi aktor (syaimin dan syaimat) untuk tidak berperilaku destruktif.
Baca juga: Mengasah Kecerdasan Komunikasi Antarbudaya Selama Puasa Ramadan
Sejatinya, seorang individu yang telah mampu menahan lapar dan dahaga selama belasan jam juga harus bisa menahan amarah, kebencian, dan dorongan balas dendam. Di sinilah esensi puasa sebagai perisai, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya.
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).
Hadits di atas menegaskan bahwa puasa mengajarkan tradisi dan budaya non kekerasan di level mikro atau individual. Hal ini merupakan mekanisme damai (peace mechanism) di level awal yang jika terakumulasi dapat terkonstruksi menjadi budaya non kekerasan kolektif.
Jika budaya ini diinternalisasi oleh pemimpin-pemimpin dunia dan aktor-aktor global lainnya yang terlibat dalam siklus peperangan, maka mereka akan mengedepankan tradisi dialog dan resolusi konflik ketimbang pendekatan militeristik dalam menyelesaikan persoalan dan ketegangan antarnegara.
Akhir-akhir ini kita dipertontonkan dengan keegoan beberapa oknum kepala negara yang memilih pendekatan militeristik dalam menyelesaikan persoalan di antara mereka. Politik bernegara yang harusnya berorientasi pada kebajikan beralih menjadi kebijakan emosional yang nihil nilai kemanusiaan dan kering empati global.
Puasa mengajarkan pelakunya memiliki empati, yang tidak hanya diimplementasikan pada level mikro tetapi juga pada skala global. Oleh karena itu, spirit empati yang dilahirkan dari ibadah puasa harus didorong menjadi gerakan empati internasional dalam rangka membangun solidaritas kemanusiaan.
Di tengah situasi konflik dan perang yang terjadi di beberapa belahan dunia saat ini, pada saat bersamaan terjadi bencana kemanusiaan seperti kemiskinan, sebagaimana yang dirasakan oleh warga di tiga negara dengan penduduk miskin tertinggi di dunia, seperti Sudan Selatan, Burundi, dan Republik Afrika Tengah yang tingkat kemiskinan ekstrem mencapai di atas 70-80 % populasi.
Seandainya kreator dan sutradara perang saat ini punya empati dan solidaritas kemanusiaan maka mereka pasti mengurungkan niatnya dalam menghabiskan ratusan triliun untuk biaya perang, kemudian dialihkan menjadi biaya penyelesaian kemiskinan di beberapa negara miskin.
Puasa dapat dijadikan sebagai spirit gerakan kemanusiaan sekaligus perdamaian global oleh seluruh warga Muslim dunia. Spirit ini penting karena saat ini sikap dan suara umat Islam terpolarisasi dalam memandang perang yang terjadi antara Iran versus Israel-AS saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)