WN Brasil Jatuh di Rinjani

Netizen Indo Turunkan Rating Amazon Usai Rinjani Diserang Netizen Brasil

Baru-baru ini, warganet Brasil dan Indonesia saling beri rating buruk di destinasi wisata populer masing-masing negara.

|
Editor: Laelatunniam
AFP/ANTONIO SCORZA
HUTAN AMAZON - Hutan Amazon. Baru-baru ini, warganet Brasil dan Indonesia saling beri rating buruk di destinasi wisata populer masing-masing negara. Peristiwa ini bermula dari insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani. 

TRIBUNLOMBOK.COM - Baru-baru ini, warganet Brasil dan Indonesia saling beri rating buruk di destinasi wisata populer masing-masing negara.

Peristiwa ini bermula dari insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani.

Warganet Brasil kemudian memberikan ulasan negatif hingga rating bintang satu di Google Maps untuk Taman Nasional Gunung Rinjani.

Menanggapi hal tersebut, netizen Indonesia bereaksi dengan membalas serangan tersebut, kali ini menurunkan rating Hutan Amazon di Brasil secara masif.

Banyak akun dari Indonesia memberikan rating bintang satu untuk Hutan Amazon, disertai komentar-komentar sindiran dan canda yang cukup tajam.

“Di Amazon banyak anakonda dan siluman ular. Jangan ke sini,” tulis pengguna bernama She CW dalam kolom ulasan Google Maps.

Komentar lainnya menyebutkan, “Tidak layak disebut paru-paru dunia jika dibiarkan terbakar setiap tahun. 

Pemerintah tidak serius menjaga lingkungan. Pariwisata pun tidak ramah, akses buruk, dan ekosistem hancur!!!”

Tak sedikit pula komentar yang bernada satir.

Seorang pengguna menulis, “Overall bagus apalagi ada Anaconda, tapi tidak ada yang jualan kopi sama jajanan. Tolong pengelola, kasihan para wisatawan kelaparan.”

Ada juga komentar yang secara terang-terangan menyebut aksi ini sebagai bagian dari pertempuran warganet lintas negara.

“Ikut war netizen Indo vs Bra.” “Ayo kasih rating 1 untuk Hutan Amazonnn.”

Seorang pengguna berinisial FU bahkan menyinggung peristiwa sebelumnya dengan komentar: “Hati-hati dimakan anakonda, sangat tidak dianjurkan datang ke sini. Why did you rate Mount Rinjani 1 star?”

Aksi netizen Indonesia memberikan rating bintang 1 kepada Hutan Amazon diduga sebagai bentuk balasan atas tindakan netizen Brasil, yang lebih dulu memberikan rating buruk ke Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Indonesia.

Dalam kolom ulasan di Google Maps pada lokasi Taman Nasional Gunung Rinjani, netizen Brasil melontarkan komentar pedas dalam bahasa Portugis. 

“Karena sama sekali tidak siap, mereka tidak memiliki tim atau peralatan untuk melakukan penyelamatan. Mereka tidak memberikan bantuan kepada Juliana Marins yang meninggal,” tulis akun bernama Deusa da Agua.

Komentar lain datang dari pengguna Elaine Ferreira Silva, yang menulis, “Pengabaian total terhadap kehidupan Juliana Marins yang meninggal karena kurangnya penyelamat.”

Warganet Brasil juga mempertanyakan keputusan otoritas Indonesia yang membuka kembali jalur pendakian setelah evakuasi korban dinyatakan selesai.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana perang opini digital kini berlangsung di platform Google Maps, bukan lagi di media sosial seperti Twitter atau Instagram.

Di satu sisi, aksi netizen Indonesia dianggap sebagai reaksi spontan atas sentimen negatif terhadap destinasi wisata dalam negeri, khususnya Gunung Rinjani.

Namun, di sisi lain, sejumlah pihak menyayangkan aksi saling serbu rating ini, karena berpotensi merusak citra destinasi wisata kedua negara.

Diberitakan sebelumnya, jenazah WNA Brasil Juliana Marins (27) jatuh di lereng puncak Gunung Rinjani dievakuasi dari jurang kedalaman 600 meter, Rabu (25/6/2025). 

Pendaki yang dilaporkan jatuh pada Sabtu (21/6/2025) pagi pukul 06.30 Wita ini akan diautopsi terlebih dulu sebelum dipulangkan ke Brasil. 

Di balik evakuasi korban, tersimpan cerita para petugas Tim SAR yang tidak hanya berjibaku dengan waktu tetapi juga medan ekstrem. 

jenazah Juliana akhirnya berhasil diangkat dari jurang menggunakan metode vertical lifting.

Proses ini dilakukan dengan sistem pulley dan tim pengangkut bergiliran menarik tali dari ketinggian.

Setelah berhasil dievakuasi ke bibir tebing, jenazah ditandu menyusuri jalur curam menuju Posko SAR Sembalun, memakan waktu hampir 6 jam.

Pukul 20.41 WITA, jenazah tiba di Posko dan langsung dibawa dengan ambulans menuju RS Bhayangkara Mataram dengan pengawalan ketat. Jenazah tiba pukul 22.44 WITA dan langsung masuk ruang autopsi.

Awalnya, tubuh Juliana sudah ditemukan pada Selasa (24/6/2025) petang sekira pukul 18.00 Wita. 

Tim SAR yang turun menggunakan teknik vertical rescue terpaksa harus bermalam dengan cara flying camp. 

Alasannya karena evakuasi pada malam hari tidak memungkinkan untuk dilakukan. 

Juliana terjatuh di jurang curam kawasan Cemara Nunggal, jalur menuju puncak Rinjani. Lokasinya berada di ketinggian 9.000 kaki atau sekitar 2.743 meter di atas permukaan laut.

“Medan tempat korban jatuh adalah tebing terjal dengan kedalaman lebih dari 600 meter. Lokasinya benar-benar sulit dijangkau dan tidak memungkinkan dilakukan evakuasi biasa,” ujar Syafii dalam konferensi pers, Selasa (24/6/2025).

Tim SAR memerlukan waktu 8 jam hanya untuk mencapai titik awal pencarian dari Pos Sembalun.

Perjalanan menempuh tebing berbatu, semak belukar, dan jalur licin akibat hujan yang mengguyur kawasan pegunungan selama dua hari berturut-turut.

Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved