WN Brasil Jatuh di Rinjani

Netizen Indo Turunkan Rating Amazon Usai Rinjani Diserang Netizen Brasil

Baru-baru ini, warganet Brasil dan Indonesia saling beri rating buruk di destinasi wisata populer masing-masing negara.

|
Editor: Laelatunniam
AFP/ANTONIO SCORZA
HUTAN AMAZON - Hutan Amazon. Baru-baru ini, warganet Brasil dan Indonesia saling beri rating buruk di destinasi wisata populer masing-masing negara. Peristiwa ini bermula dari insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani. 

“Karena sama sekali tidak siap, mereka tidak memiliki tim atau peralatan untuk melakukan penyelamatan. Mereka tidak memberikan bantuan kepada Juliana Marins yang meninggal,” tulis akun bernama Deusa da Agua.

Komentar lain datang dari pengguna Elaine Ferreira Silva, yang menulis, “Pengabaian total terhadap kehidupan Juliana Marins yang meninggal karena kurangnya penyelamat.”

Warganet Brasil juga mempertanyakan keputusan otoritas Indonesia yang membuka kembali jalur pendakian setelah evakuasi korban dinyatakan selesai.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana perang opini digital kini berlangsung di platform Google Maps, bukan lagi di media sosial seperti Twitter atau Instagram.

Di satu sisi, aksi netizen Indonesia dianggap sebagai reaksi spontan atas sentimen negatif terhadap destinasi wisata dalam negeri, khususnya Gunung Rinjani.

Namun, di sisi lain, sejumlah pihak menyayangkan aksi saling serbu rating ini, karena berpotensi merusak citra destinasi wisata kedua negara.

Diberitakan sebelumnya, jenazah WNA Brasil Juliana Marins (27) jatuh di lereng puncak Gunung Rinjani dievakuasi dari jurang kedalaman 600 meter, Rabu (25/6/2025). 

Pendaki yang dilaporkan jatuh pada Sabtu (21/6/2025) pagi pukul 06.30 Wita ini akan diautopsi terlebih dulu sebelum dipulangkan ke Brasil. 

Di balik evakuasi korban, tersimpan cerita para petugas Tim SAR yang tidak hanya berjibaku dengan waktu tetapi juga medan ekstrem. 

jenazah Juliana akhirnya berhasil diangkat dari jurang menggunakan metode vertical lifting.

Proses ini dilakukan dengan sistem pulley dan tim pengangkut bergiliran menarik tali dari ketinggian.

Setelah berhasil dievakuasi ke bibir tebing, jenazah ditandu menyusuri jalur curam menuju Posko SAR Sembalun, memakan waktu hampir 6 jam.

Pukul 20.41 WITA, jenazah tiba di Posko dan langsung dibawa dengan ambulans menuju RS Bhayangkara Mataram dengan pengawalan ketat. Jenazah tiba pukul 22.44 WITA dan langsung masuk ruang autopsi.

Awalnya, tubuh Juliana sudah ditemukan pada Selasa (24/6/2025) petang sekira pukul 18.00 Wita. 

Tim SAR yang turun menggunakan teknik vertical rescue terpaksa harus bermalam dengan cara flying camp. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved