Demam Berdarah di Bima Melonjak: Belum Sebulan Sudah Capai 75 Kasus, 5 Anak Meninggal Dunia

Kabupaten Bima mengalami lonjakan tahun ini, sejak 1 Januari hingga 23 Januari 2023 tercatat 75 kasus

Penulis: Atina | Editor: Wahyu Widiyantoro
TRIBUNLOMBOK.COM/ATINA
Ilustrasi. Seorang warga berjalan di depan petugas fogging di Kelurahan Tanjung, Kota Bima, Jumat (20/1/2023). Kabupaten Bima mengalami lonjakan tahun ini, sejak 1 Januari hingga 23 Januari 2023 tercatat 75 kasus. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Lonjakan kasus demam berdarah tidak hanya terjadi di Kota Bima.

Kabupaten Bima juga mengalami lonjakan tahun ini, sejak 1 Januari hingga 23 Januari 2023 tercatat 75 kasus.

Dari 75 kasus ini, 5 di antaranya meninggal dunia dan semuanya pasien anak.

Tidak hanya itu, saat ini masih ada pasien anak yang dinyatakan kritis dan sedang dirawat intensif.

"Minggu lalu tiga orang, ditambah Senin kemarin sore dua orang lagi, jadi total lima orang anak meninggal dunia akibat demam berdarah," ungkap Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima, Alamsyah.

Baca juga: Demam Berdarah di Kota Bima Tembus 46 Kasus, Permintaan Fogging Melonjak

Menurut Alamsyah, rata-rata anak yang meninggal dunia tersebut terlambat ditangani karena ketika dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat.

"Mereka rata-rata baru bawa anaknya ke rumah sakit atau Puskesmas, setelah tiga hingga empat hari diserang DBD. Bahkan di saat anak mereka mengalami kritis," ungkap Alamsyah.

Seharusnya, jelasnya, ketika ada gejalan awal seperti panas tinggi yang naik turun, maka orang tua segera bawa anak ke pusat layanan kesehatan terdekat.

Sehingga, penanganan awal bisa segera diberikan dan anak tidak mengalami masa kritis akibat demam berdarah.

Seiring dengan lonjakan kasus ini, permintaan fooging dari masyarakat juga meningkat.

Alamsyah mengaku akan segera berkoordinasi dengan Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri untuk berkordinasi memastikan status wilayah.

"Apakah ditetapkan sebagai daerah dengan status Kejadian Luar Biasa demam berdarah atau tidak," akunya.

Sementara itu, untuk menekan kasus DBD, dia mengaku berbagai upaya telah dilakukan pihaknya.

Mulai dari pemberantasan jentik nyamuk, pembersihan wadah penampung air, hingga gotong royong bersihkan lingkungan.

"Permintaan fogging terus bermunculan. Kami lakukan fogging baru di beberapa desa saja," tandasnya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved