Berita Viral

Masjid Al Jabbar Tuai Kontroversi, Ridwan Kamil Sebut Tetap Urusi Transportasi Massal: Butuh Proses

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dianggap lebih memilih membangun Masjid Al Jabbar ketimbang transportasi publik. Kini, Ridwan Kamil angkat bicara.

Penulis: Irsan Yamananda | Editor: Irsan Yamananda
Istimewa via TribunJabar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dianggap lebih memilih membangun Masjid Al Jabbar ketimbang transportasi publik. Kini, Ridwan Kamil angkat bicara. 

"Jika akang senang isu transportasi publik dan tidak suka masjid, silakan saja" tulisnya.

Ia lalu menyoroti pernyataan mengenai wakaf.

"Betul. Kewajiban anda adalah membayar pajak, namun hukum positif mengatakan, penggunaannya adalah wilayah kewenangan penyelenggara negara," ungkapnya.

"Flashback. Jutaan warga Jawa Barat melalui berbagai ormas Islam menitipkan aspirasi rakyat Jawa Barat agar dibangun Masjid Raya Provinsi sejak 7 tahun yang lalu. Karena selama ini Masjid Raya Provinsi mengkudeta masjid Agung Kota Bandungm" tambahnya.

"Dan itulah yang kami lakukan: memenuhi dan membangun aspirasi rakyat," imbuhnya lagi.

Tak berselang lama, unggahan tersebut mendapatkan berbagai tanggapan oleh warganet.

Sang warganet kemudian membalas lagi di kolom komentar.

"Padahal keberadaan angkutan umum di Jawa Barat sangat memprihatinkan. Modernisasi dan elektrifikasi Kereta Bandung Raya masih belum terwujud, padahal rencana sejak 2013. Apalagi yang masih mengawang-awang seperti LRT, Monorel, Cable Car, Metro Capsule, atau apalagi, Kang Emil lebih hapal," tukas @outstandjing.

Kemudian Ridwan Kamil menjawab, "Akang selalu berargumen di bab urusan transportasi publik. Urusan yang harus dibiayai APBD itu ada ratusan urusan," ujar RK.

Ridwan Kamil kemudian juga terlihat curhat di Twitter miliknya.

Ia menyinggung para warganet yang julid.

"Berinteraksi di media sosial pasti penuh dinamika. Apapun platformnya. Sukanya di Twitter silakan. sukanya di IG di tiktok silakan. Tdk ada satu platform lebih superior dari yang lain. Yg penting silakan kritisi/dialog. Dalam dialog selalu ada respon bijak, datar bahkan kasar," cuit Ridwan Kamil.

"Saya berdialog dg @Outstandjing di IG kerena memang rutinitas update di sana, kemudian di mirror di twitter. Debat dengan kritikus? Selalu coba direspon, tapi tdk perlu panjang kali lebar ala twitwar. Saya cukup menyampaikan hak jawab saya. Setelahnya, pemirsa simpulkan masing2," akunya di cuitan yang lain.

"Kenapa netizen pada julid suka ngerujak? Ya itulah masalah kita bersama. Bahkan juara terkasar se Asia Pasifik. Tipe begitu ada di kelompok mana-mana. Pemilik akun tidak ada daya mengontrol jempol follower. Yang ada adalah konsisten mengedukasi agar selalu sopan penuh adab," tulis Kang Emil.

"Pengamatan saya, seringkali yang dibahas “too much focusing on style over substance”. Apalagi fenomena akun2 bodong atau akun nol posting selalu meriuhkan hal-hal non substanstif, Padahal substansi debatnya sudah dibahas dan saling berargumentasi dengan baik. Hatur Nuhun," pungkasnya.

(TribunLombok)

Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved