NTB
Petani Gula Aren Kekait Menjerit: Potensi Manis, Nasib Kian Pahit
Laporan Zulva Salsabilla
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Gula aren merupakan salah satu produk unggulan Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB.
Bahkan produksi gula aren telah menjadi mata pencaharian utama waga selama bertahun-tahun. Meski sebagian besar masih berskala industri rumahan, namun kualitasnya sangat terjamin.
Karena kualitas dan aromanya yang khas, produk gula aren dari Desa Kekait juga dipasarkan ke luar daerah, bahkan dikirim ke pasar ekspor.
Di balik manisnya rasa gula aren, tersimpan cerita Panjang dan perjuangan petani yang menjaga kualitas produksi di tengah berbagai tantangan.
Muliawan (42), salah seorang pembuat sekaligus pemilik rumah produksi gula aren Desa Kekait menceritakan proses panjang pembuatan gula aren yang masih dikerjakan secara tradisional.
“Dimulai dari mengambil nira di kebun, lalu dimasak sekitar tiga setengah jam. Selama proses itu ada tahapan penyaringan, mengatur api, hingga nira mengental," katanya pada tim TribunLombok.com, Kamis (18/9/2025).
Baca juga: Resep Es Kopi Gula Aren, Kopi Kekinian yang Manis dan Segar
"Di masyarakat Sasak, ada istilah bolo, kebek, sampai engket, sebelum akhirnya nira berubah menjadi granul,” jelasnya.
Dalam sekali produksi, jumlah gula aren yang dihasilkan bervariasi.
Jika pemesanan sedang ramai, Muliawan bersama 35 pekerja bisa memproduksi hingga 2,5 ton gula aren dalam dua minggu.
Tapi, jika dihitung rata-rata, produksi per bulan mencapai sekitar 5 ton dengan pekerja tetap hanya lima orang.
Meski begitu, proses produksi tidak selalu berjalan mulus. Faktor cuaca kerap menjadi tantangan terbesar.
“Kalau musim hujan, pH air nira bisa turun di bawah 6 sehingga hasilnya sering gagal. PH terbaik itu di angka 6 sampai 7, biasanya saat cuaca panas,” kata Muliawan.
Harga gula aren Desa Kekait juga tidak selalu sama. Dalam kondisi normal, Harga tingkat petani di kisaran Rp7.000–Rp8.000 per cetak, namun bisa melonjak hingga Rp15.000 saat hari-hari besar keagamaan seperti bulan maulid.
Dalam kondisi terbaik, produksi gula aren Kekait pernah mencapai 5 ton sebulan, terutama ketika mendapat pesanan untuk program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dari pemerintah daerah.
Namun belakangan, minat masyarakat terhadap gula aren menurun drastis.
“Kalau dulu omzet minimal seminggu bisa Rp60–70 juta, bahkan pernah sampai Rp250 juta per bulan. Sekarang menjual 10–20 kilogram saja sudah syukur,” ujarnya.
Meski begitu, Muliawan menegaskan gula aren Kekait punya keunggulan tersendiri dibanding daerah lain. Produk ini bebas gluten dan relatif aman dikonsumsi penderita diabetes.
Selain itu, daya tahannya bisa mencapai dua tahun berkat sifat alami gula sebagai pengawet.
Kendati kualitasnya diakui bagus, Muliawan mengaku tak banyak berharap lebih besar lagi dari usaha gula aren.
Menurutnya, hasil sumber daya alam yang kian menurun membuat banyak petani justru beralih menjual nira secara langsung ketimbang memproduksi gula.
Produk ini berupa minuman tuak manis yang banyak dijual di pinggir jalan.
“Kalau bisa dijual mentah, kenapa harus diproses. Jadi inovasi tetap penting, tapi kenyataannya sekarang justru nira-nya yang lebih laris,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Petani-Gula-Aren.jpg)